Oleh: Pdt. Yakub Tri Handoko

Hari ini kita akan membicarakan tentang metafora-metafora di dalam Alkitab yang menggambarkan tentang gereja. Ada beragam aspek penting dari gereja dan tidak mungkin ada satu metafora pun yang cukup menggambarkan semua aspek tersebut. Itulah sebabnya para penulis Alkitab menggunakan berbagai macam metafora. Hari ini kita akan melihat tiga metafora gereja yang digunakan di dalam Alkitab.

Pertama, Gereja sebagai Keluarga Allah. Semua orang percaya adalah anak-anak Allah. Bagaimana kita bisa menjadi anak-anak Allah dan Allah menjadi Bapa kita? Yohanes 1:12-13 membicarakan tentang kelahiran kembali dari atas, yaitu barangsiapa yang percaya di dalam nama Yesus Kristus maka dia diberi kuasa untuk menjadi anak-anak Allah, atau secara harfiah: diberikan otoritas untuk menjadi anak-anak Allah. Jadi siapa yang percaya kepada Yesus Kristus maka dia adalah anak-anak Allah. Tetapi bagaimana kita bisa percaya kepada Yesus Kristus? Yakobus 1:18 menjelaskan kepada kita bahwa Bapa telah menjadikan kita oleh firman kebenaran. Terjemahan harfiah dari kata “menjadikan” adalah “melahirkan”. Atau dengan kata lain Bapa “melahirkan” kita kembali melalui kebenaran, yaitu Injil Yesus Kristus. Bagaimana kita bisa menjadi keluarga Allah dan menjadi anak-anak Allah? Dengan percaya kepada kematian dan kebangkitan Yesus serta memercayakan diri kepada Yesus sebagai Tuhan. Inilah yang merupakan sarana kita menjadi anak-anak Allah.

Metafora ini juga ingin menekankan supaya kita penuh hormat dan penuh kasih kepada sesama anggota Kerajaan Allah yaitu keluarga Allah. Dalam 1Timotius 5:1-2 Paulus memberi nasihat bahwa orang-orang tua harus dihargai sebagai bapak, orang-orang muda dihargai sebagai anak, perempuan-perempuan tua dihargai sebagai ibu dan perempuan-perempuan muda dihargai sebagai adik. Paulus tampaknya memikirkan tentang hubungan gereja sebagai sebuah keluarga. Kita memang keluarga. Kita semua adalah adalah anak-anak Allah. Kristus adalah anak yang sulung atau yang utama karena Dia benar-benar secara hakikat adalah Anak Allah; sedangkan kita adalah anak-anak Allah secara adopsi. Ini metafora yang pertama, yaitu Gereja sebagai Keluarga Allah yang menekankan rasa hormat dan kasih antar sesama anggota keluarga.

Kedua, Gereja sebagai Mempelai Kristus. Di dalam Efesus 5:22, Paulus membicarakan tentang hubungan suami istri, yaitu bagaimana istri harus tunduk kepada suami seperti jemaat tunduk kepada Kristus dan bagaimana suami harus mengasihi istri sama seperti Kristus mengasihi jemaat. Hal yang mengagetkan kita adalah ketika Paulus berkata “rahasia ini besar, yaitu rahasia tentang hubungan Kristus dengan jemaat” (ay. 31-32). Wahyu 19:7-9 juga menggambarkan bahwa nanti di surga, sukacita kita itu digambarkan seperti Kristus yang datang sebagai mempelai pria dan semua orang percaya sebagai mempelai wanita. Ayat-ayat ini menggambarkan dengan jelas hubungan antara Kristus sebagai mempelai pria dan gereja sebagai mempelai perempuan.

Lalu apa yang ingin ditekankan melalui metafora ini? Metafora ini menekankan tentang kedekatan dan kemurnian. Di ayat ke-31 Paulus mengatakan bahwa seorang laki-laki meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan istrinya sehingga keduanya menjadi satu daging. Inilah rahasia besar yang Paulus sebutkan di ayat ke-32, yaitu tentang hubungan Kristus dan jemaat. Berarti yang ditekankan di sana adalah kedekatan, seperti dua menjadi satu. Ayat tersebut bukan hanya bicara tentang kedekatan, melainkan juga tentang kemurnian. Hal ini juga diungkapkan oleh Rasul Paulus dalam 2Korintus 11:2 “…untuk membawa kamu sebagai perawan suci kepada Kristus.” Ayat ini menggambarkan bahwa gereja sebagai mempelai perempuan harus menjaga kemurniannya sampai nanti kita berjumpa dengan Kristus di surga kelak. Metafora ini menekankan tentang kedekatan dan kemurnian.

Ketiga, Gereja sebagai Tanaman Anggur. Di dalam Yohanes 15 dikatakan bahwa gereja digambarkan sebagai tanaman anggur, Bapa sebagai pengusahanya, Yesus adalah pokoknya dan kita semua adalah ranting-rantingnya. Kita harus menempel kepada Kristus. Poin yang ditekankan di sini adalah kedekatan melalui ketaatan. Kita tidak mungkin bisa berbuat apa-apa kalau kita tidak menempel pada Kristus sebagai Pokok Anggur. Ranting akan menjadi layu, kering dan mati, kalau ia tidak menempel pada pokok anggur. Tetapi bagaimana kita bisa menempel pada Pokok Anggur itu? Tuhan Yesus memberitahukan yaitu jika engkau tinggal di dalam firman-Ku. Ketika seseorang menaati firman Tuhan, maka ia adalah orang yang dekat dengan Pokok Anggur itu.

Sangatlah tidak masuk akal jika ada orang yang menganggap dirinya dekat dengan Kristus tetapi dia tidak rajin membaca Alkitab, tidak menaati Alkitab, tidak mengetahui Alkitab dan ajarannya bertentangan dengan Alkitab. Beberepa orang merasa dekat dengan Tuhan karena mengklaim bisa mendengar bisikan Roh, mendapat penglihatan dan dapat melakukan perjalanan rohani di dunia roh. Tetapi itu semua adalah kedekatan yang semu, bukan kedekatan yang Allah inginkan dari kita. Kedekatan sejati diwarnai oleh ketaatan kepada firman. Kiranya hal-hal ini mengingatkan dan mendorong kita berperilaku seperti status kita sebagai Gereja Tuhan.

Tuhan Yesus memberkati! Amin!