Oleh: Pdt. Yakub Tri Handoko

Hari ini kita masih belajar tentang metafora-metafora di dalam Alkitab yang digunakan untuk menggambarkan gereja. Dalam edisi yang lalu kita sudah belajar tiga metafora, yaitu gereja sebagai keluarga Allah, gereja sebagai mempelai Kristus dan gereja sebagai ranting tanaman anggur. Hari ini kita akan melihat beberapa metafora yang lain.

Keempat, Gereja sebagai Ladang Allah. Di dalam 1Korintus 3:6-9 Paulus menceritakan bagaimana dia dan Apolos sama-sama melayani di jemaat Korintus. Paulus menggambarkan hal ini seolah-olah dia dan Apolos merupakan pekerja di ladang Allah. Ia mengatakan, “aku menanam dan Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan.” Dari sini kita lihat bahwa jemaat atau gereja digambarkan sebagai ladang Allah. Kita juga bisa membaca di dalam Roma 11, ketika Paulus membicarakan tentang gereja sebagai kumpulan pohon zaitun. Kita tahu bahwa Israel adalah “zaitun yang asli”, sedangkan orang-orang Kristen merupakan pohon-pohon “zaitun yang dicangkokkan ke dalam pohon yang asli.” Gambaran ini juga membicarakan hal yang sama, yaitu bahwa gereja merupakan ladang Allah.

Pertanyaannya: Apa yang ingin ditekankan melalui metafora ini? Kalau kita membaca ayat-ayat di atas, maka kita tahu bahwa penekanannya terletak pada tanggungjawab untuk mengerjakan ladang itu dan tanggungjawab untuk menghasilkan buah. Dari sisi para pelayan, maka mereka memiliki tanggungjawab untuk mengerjakan ladang Allah sesuai dengan bagian masing-masing dan dengan sungguh-sungguh. Sebagai jemaat yang dilayani oleh para pelayan itu, kita bertugas untuk menghasilkan buah yang banyak untuk kemuliaan Allah di dalam Yesus Kristus.

Kelima, Gereja sebagai Bangunan Allah. Di dalam 1Korintus 3:10-16, Paulus menggambarkan gereja sebagai bangunan Allah. Di dalam Efesus 2:20 juga dikatakan bahwa gereja itu dibangun di atas dasar para nabi dan para rasul. Gereja digambarkan sebagai bangunan yang kokoh. Poin apa yang ingin disampaikan melalui metafora ini? Poin utama yang ingin ditekankan melalui metafora ini adalah ajaran yang benar sebagai fondasi dan cara pelayanan yang benar sebagai bahan bangunan. Poin ini terlihat jelas di dalam 1Korintus 3:10-16, ketika Paulus mengatakan bahwa sebagai seorang pembangun, dia telah meletakkan fondasi yang kuat, yaitu injil Yesus Kristus. Lalu orang-orang lain membangun di atas fondasi itu. Paulus berkata bahwa tidak semua orang membangun dengan cara yang sama. Ada orang yang membangun dengan bahan-bahan yang asal-asalan, tetapi ada juga yang membangun dengan bahan-bahan yang baik.

Pada akhir zaman semua akan terkuak, mana bahan yang baik dan mana bahan yang tidak baik. Jadi penekanan gereja sebagai bangunan adalah gereja sebagai fondasi untuk mengajarkan atau memberikan ajaran yang benar. Ajaran yang benar harus menjadi fondasi gereja. Demikian pula dengan bahan bangunannya; bagaimana kita melayani di dalamnya dan bagaimana kita menyelenggarakan gereja, haruslah dengan kesungguhan dan dengan cara yang benar.

Keenam, Gereja sebagai Bait Allah yang Kudus. Gereja bukan hanya sekadar bangunan biasa tetapi merupakan Bait Allah. Baik orang Kristen secara individu mau pun orang Kristen secara kelompok disebut Paulus sebagai “Bait Allah.” Di dalam 1Korintus pasal 3 dan 6, Paulus menyebut jemaat Korintus sebagai “Bait Allah –Bait Roh Kudus.” Jadi secara kolektif gereja disebut sebagai Bait Allah (1Kor. 3), tetapi secara individu masing-masing tubuh dari orang percaya juga disebut sebagai Bait Allah (1Kor. 6). Melalui gambaran yang dipakai di sini, apa yang ingin ditekankan? Penekanannya adalah partisipasi dari seluruh jemaat ke dalam bangunan itu. Gereja sebagai Bait Roh Kudus secara kolektif terbangun dari berbagai macam bagian/batu-batuan. Masing-masing anak-anak Tuhan harus mengambil peranan di sana.

Kalau kita membaca 1Petrus 2:4-10 dikatakan bahwa orang-orang percaya merupakan batu-batu yang dipakai untuk membangun Bait Allah. Sebagai Bait Allah yang kudus, maka yang ditekankan adalah kemurnian gereja, yaitu kemurniaan dan keterlibatan aktif setiap jemaat. Setiap jemaat harus terlibat aktif memberi diri dipakai sebagai batu untuk mendirikan Bait Allah. Namun jangan lupa, ada poin lain yang ingin ditekankan, yaitu kemurnian dan kesucian gereja. Di dalam 1Korintus pasal 3, Paulus sangat menekankan hal ini, yaitu tidak boleh ada sesuatu yang keliru. Di dalam 1 Korintus 6 Paulus menekankan bahwa tubuh kita adalah Bait Allah, karena itu tidak boleh dipakai untuk berbuat dosa.

Kiranya kita mengingat siapa kita di hadapan Tuhan, yaitu gereja, Bait Allah yang kudus. Tuhan memberkati kita! Amin!