Oleh: Pdt. Yakub Tri Handoko

Hari ini kita akan menyelesaikan metafora-metafora yang dipakai di dalam Alkitab untuk menggambarkan tentang gereja. Masih ada dua metafora yang akan kita pelajari. Ketujuh, Gereja sebagai Tubuh Kristus. Metafora ini mungkin yang paling populer di kalangan orang-orang Kristen. Metafora ini dicatat oleh Rasul Paulus dalam dua suratnya yang berbeda, 1Korintus 12:12-31 dan Efesus 4:15-16; 1:22-23. Jika kita membandingkan teks-teks tersebut maka kita akan menemukan kedua metafora ini sedikit berbeda. Di dalam 1Korintus 12, beberapa jemaat diperhitungkan sebagai “kepala”. Paulus mengatakan, “apakah semua terdiri dari mata? Apakah semua terdiri dari telinga? Tidak!” Jadi ada jemaat yang berfungsi sebagai kaki, tangan dan sebagainya. Tetapi di dalam surat Efesus dikatakan bahwa Kristus adalah “Kepala Gereja” dan seluruh orang percaya adalah tubuh-Nya. Jadi seluruh orang percaya adalah tubuh Kristus yang terus berkembang menuju ke arah Kepala, yaitu Yesus Kristus.

Meskipun ada sedikit perbedaan di dalam metafora ini, poin yang disampaikan tetap sama. Kalau kita membaca dalam 1Korintus 12 maupun Efesus 4, maka kita menemukan poin yang konsisten, yaitu kesatuan di dalam keragaman. Setiap jemaat diberikan karunia yang berbeda-beda sesuai dengan keputusan Roh Kudus dan sesuai dengan kapasitas masing-masing. Lalu masing-masing anggota saling mengisi, saling membangun dan saling melayani satu dengan yang lain. Hal yang ingin ditekankan di sini adalah kesatuan di dalam keragaman.

Ada beragam jumlah dan jenis karunia yang dimiliki oleh masing-masing gereja, tetapi semuanya mengarah kepada tujuan yang sama: untuk kepentingan bersama (1Korintus 12:7, 11; Efesus 4). Kepentingan bersama itu adalah supaya semua jemaat bertumbuh ke arah iman yang benar dan pengetahuan yang benar kepada Kristus, lalu masing-masing dibangun menuju ke arah Kristus sebagai Kepala. Gereja sebagai tubuh Kristus berarti kita mengakui ada kesatuan dan ada keragaman, yaitu keragaman di dalam kesatuan. Itulah keunikan kekristenan, karena kesatuan kita bukan keseragaman (unity is not uniformity). Kita tidak perlu menjadi sama untuk menjadi satu. Justru di dalam perbedaan inilah kesatuan kita menjadi lebih bermakna.

Kedelapan, Gereja sebagai “Israel yang Baru”. Kita seringkali mendengar ada orang dari aliran teologi tertentu yang mengatakan bahwa bangsa Israel secara etnis adalah umat Israel dan kita ini baru muncul belakangan. Orang-orang Kristen yang di luar orang Israel itu dianggap sebagai “orang yang muncul belakangan.” Menurut pandangan ini, kita bukan umat pilihan. Kita hanya umat yang mendapatkan manfaat positif dari penolakan yang dilakukan bangsa Israel. Tapi sebetulnya kalau kita melihat pekerjaan Allah dari awal sampai akhir secara lebih luas dan komprehensif, maka kita akan menemukan bahwa umat Allah yang sejati tidak didasarkan pada etnisitas atau faktor biologis, melainkan pilihan Allah (Rom. 9:6-13). Israel sejati bisa merujuk pada orang-orang non-Yahudi yang secara iman merupakan keturunan Abraham (Rom. 4:11-12). Pendeknya, gereja adalah “Israel milik Allah”. Jadi, baik “umat Israel” di Perjanjian Lama maupun “gereja” di dalam Perjanjian Baru, meskipun bukan termasuk orang Israel secara etnis, semua adalah orang-orang pilihan.

Paulus menekankan ini di dalam Roma 9 ketika dia bergumul tentang orang-orang Israel yang banyak menolak Injil Kristus dan akhirnya binasa. Dia bergumul, bagaimana bisa umat Allah akhirnya tidak mendapatkan keselamatan? Paulus menemukan sebuah solusi yang luar biasa. Di dalam Perjanjian Lama dia melihat bahwa Israel sejati itu tidak pernah secara biologis. Keturunan Abraham sejati itu tidak pernah secara etnis. Ia mengatakan: “tidak semua orang yang berasal dari Israel adalah orang Israel, dan juga tidak semua yang terhitung keturunan Abraham adalah anak Abraham” (ay.6-7). Paulus memberi contoh di dalam Roma 9 bahwa Abraham memiliki beberapa anak, tetapi yang dimaksud “Israel” di situ adalah Ishak Lalu Ishak punya dua anak, yaitu Yakub dan Esau, tetapi yang dimaksud dengan “Israel” adalah Yakub bukan Esau.

Hal ini menjadi dasar yang teguh bagi kita untuk meyakini bahwa umat pilihan adalah umat pilihan, bukan berdasarkan etnis atau secara biologis tetapi secara pilihan, berdasarkan kedaulatan dan kasih Allah kepada kita. Dengan cara yang sama, Paulus menjelaskan di dalam Roma 4 bahwa semua orang yang percaya kepada Allah yang benar adalah keturunan Abraham. Hal ini terjadi karena Abraham dibenarkan bukan berdasarkan perbuatan, bukan karena ia melakukan hukum Taurat, tetapi karena ia percaya kepada janji Allah. Imannya yang menyelamatkan dia. Berarti semua orang yang beriman kepada Allah, orang itu juga layak disebut sebagai “keturunan Abraham”. Itu sebabnya dalam Galatia 6:16 Paulus menyebut jemaat di Galatia -yang tidak semuanya orang Israel-, disebutnya sebagai “Israel milik Allah”. Kitalah keturunan Abraham. Kitalah umat Israel, umat pilihan. Kita sama dengan umat-umat pilihan di PL dan sampai sepanjang zaman. Kita diingatkan bahwa kalau kita umat pilihan, maka yang ditekankan adalah kesetiaan Allah dan konsistensi cara kerja Allah dari dulu sampai sekarang. Allah setia dan Allah bekerja dengan cara yang sama.

Kiranya kita dihiburkan dengan doktrin ini. Tuhan memberkati kita! Amin!