Oleh: Pdt. Yakub Tri Handoko

Pertanyaan yang akan kita jawab hari ini adalah: Apakah tanda-tanda gereja yang sejati? Pertanyaan ini perlu untuk kita camkan dan jawab dengan benar karena di sekitar kita ada jemaat yang kelihatannya jemaat yang benar tetapi sesungguhnya bukan jemaat yang benar. Di dalam Wahyu 2:9 dan Wahyu 3:9, kepada jemaat di Smirna dan kepada jemaat di Filadelfia, Tuhan Yesus memberitahukan tentang orang-orang yang menganggap dirinya atau terlihat seperti jemaah orang Yahudi tapi sebetulnya mereka adalah jemaah Iblis. Apa yang tampak dari luar ternyata berbeda dengan apa yang ada di dalam. Ada orang yang kelihatannya seperti jemaah orang Yahudi tapi ternyata mereka adalah jemaah Iblis. Terlepas dari bagaimana kita menafsirkan frasa “jemaah Iblis”, “orang-orang Yahudi”, “jemaah Yahudi”, tapi artinya tetap sama yaitu kita perlu berhati-hati untuk melihat kumpulan orang: Apakah mereka adalah kumpulan yang benar atau kumpulan yang tidak benar?

Hari ini kita akan melihat tiga tanda gereja yang sejati. Tanda yang pertama adalah pemberitaan firman Tuhan. Firman Tuhan menjadi dasar dari gereja yang kokoh. John Calvin pernah mengatakan bahwa berdiri atau runtuhnya sebuah gereja ditentukan oleh pemberitaan firman Tuhan. Tapi pemberitaan Firman seperti apa yg dimaksud? Kalau kita membaca di dalam 1Timotius 4:13, Paulus memberikan nasihat kepada Timotius dan Timotius meneruskannya kepada jemaat yang dia layani, yang pada waktu itu sedang menghadapi ajaran sesat. Paulus menyinggung tentang bertekun dalam pembacaan Kitab Suci dan di dalam pemberitaan firman Allah. Maksudnya adalah pada waktu itu salah satu elemen ibadah yang paling penting adalah pembacaan Kitab Suci. Kitab suci dibaca, kemudian diterangkan maknanya, diberitakan dan dilihat dari sisi kebenaran Injil Yesus Kristus, lalu diterapkan. Gereja yang benar ditandai dengan pembacaan, pemberitaan dan penerimaan firman Tuhan yang bersifat terus menerus. Tatkala sebuah gereja tidak mengindahkan dan malah menyimpang dari ajaran para nabi dan para rasul (sebagaimana yang dituliskan dalam Alkitab), gereja itu sudah kehilangan pijakan.

Tanda kedua dari gereja yang sejati adalah pelaksanaan sakramen. Kata “sakramen” berasal dari bahasa Latin “sacramentum”, yang berarti “ada sesuatu yang disimbolkan di dalamnya”, atau “ada makna simbolis dibaliknya”. Sakramen adalah perintah langsung dari Tuhan Yesus. Di dalam kekristenan kita mengenal dua sakramen yaitu baptisan dan perjamuan kudus. Kedua sakramen ini sama-sama penting. Baptisan menandai iman seseorang. Seseorang yang sudah beriman sungguh-sungguh kepada Yesus Kristus, sudah bertobat dan menyerahkan diri kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat, maka wujud/tanda dari hal itu adalah sakramen baptisan. Hal ini dicatat di dalam Kisah Rasul 2:38. Setelah Petrus berkhotbah kepada ribuan orang, mereka tersentuh hatinya dan mereka bertanya, “Apa yang harus kami lakukan?” Petrus menjawab “Bertobatlah dan berilah dirimu untuk dibaptis”. Jadi dibaptis merupakan tanda seseorang menyerahkan diri kepada Yesus Kristus.

Sakramen Perjamuan Kudus merupakan tanda bahwa seseorang itu menjadi/adalah bagian dari umat perjanjian yang baru dengan Kristus sebagai Kepala Perjanjian. Di dalam 1Korintus 11:25, Paulus mengatakan dan mengingatkan jemaat di Korintus tentang Perjamuan Terakhir, yang dilakukan oleh Yesus, ketika Yesus memberikan cawan berisi anggur dan berkata “Cawan ini adalah perjanjian yang baru yang dimateraikan oleh darah-Ku”. Tentang Perjanjian, Yesus sebagai Kepala Perjanjian dan semua yang mengikuti sakramen Perjamuan Kudus adalah umat Perjanjian. Sakramen baptisan menandai inisiasi masuk ke dalam sebuah umat perjanjian. Sakramen perjamuan kudus mengingatkan kita terus-menerus bahwa kita adalah umat perjanjian yang harus saling menguatkan satu dengan yang lain. Jadi, sakramen baptisan dan perjamuan kudus merupakan kontrol keanggotaan dalam gereja yang benar.

Tanda ketiga dari gereja yang sejati adalah disiplin gereja. Gereja adalah orang-orang yang kudus. Bukan berarti jemaat tidak pernah jatuh ke dalam dosa. Tetapi gereja tetap harus memegang kekudusan sehingga beberapa dosa harus dikenai disiplin. Di dalam 1Korintus 5:1-13 maupun di dalam Matius 18:15-17 dikatakan tentang disiplin gereja. Hal ini terkait dengan perbuatan dosa yang dilakukan anggota gereja secara terus-menerus, yaitu dosa-dosa yang fatal, menjijikkan, tidak diakui dan tidak ditinggalkan. Dosa-dosa yang dipandang dapat merusak reputasi kekristenan dan berpotensi memengaruhi banyak orang di dalam gereja, seperti yang dicatat di 1Korintus 5. Itu sebabnya orang yang melakukannya perlu untuk didisiplin. Walaupun untuk disiplin, gereja perlu memperhatikan prosedur yang ada, sebagaimana dicatat di dalam Matius 18:15-17. Pelaku dosa ditegur empat mata, kemudian ditegur dengan beberapa saksi, dilaporkan kepada penatua, dilaporkan kepada Jemaat, baru kemudian diambil tindakan tegas. Hal ini harus dilakukan gereja untuk menjaga kesuciannya. Jadi, bagi mereka yang terus menerus melakukan dosa yang serius dan tanpa mau bertobat, gereja diberi mandat untuk menerapkan disiplin gereja (1Kor. 5:1-5, 13) sesuai dengan prosedur yang ada (Mat. 18:15-17).

Firman Tuhan, sakramen, dan disiplin gereja adalah tiga tanda gereja yang sejati. Kiranya gereja kita tetap menjadi gereja yang sejati di bawah tangan Tuhan. Amin