Oleh: Pdt. Yakub Tri Handoko

Kita sudah melihat dalam sesi yang lalu bahwa ada dua sakramen yang diajarkan di dalam Alkitab, yaitu sakramen baptisan dan sakramen Perjamuan Kudus. Hari ini kita akan membahas tentang sakramen baptisan, secara lebih khusus kita ingin bertanya: Kepada siapa sakramen baptisan dilayankan? Atau siapa yang layak untuk menerima sakramen baptisan? Sakramen baptisan diperuntukkan untuk bayi/anak kecil yang salah satu dari orang tuanya sudah percaya Yesus dan untuk orang dewasa yang sudah dengan sungguh-sungguh percaya Yesus.

Pertama, sakramen baptisan dilayankan pada bayi-bayi atau anak-anak kecil. Dasar dari doktrin ini adalah surat Kolose 2:11- 12, yang berkata: “Dalam Dia kamu telah disunat, bukan dengan sunat yang dilakukan oleh manusia, tetapi dengan sunat Kristus, yang terdiri dari penanggalan akan tubuh yang berdosa karena dengan Dia kamu dikuburkan dalam baptisan dan di dalam Dia kamu turut dibangkitkan juga oleh kepercayaanmu kepada kerja kuasa Allah, yang telah membangkitkan Dia dari antara orang mati.” Di ayat ini Paulus berbicara tentang sunat dan baptisan. Secara lebih spesifik dia mengatakan bahwa kita ini telah disucikan dari dosa-dosa kita dan diselamatkan bukan dengan sunat secara lahiriah, tetapi dengan apa yang disimbolkan di dalam baptisan, yaitu kematian dan kebangkitan bersama Kristus. Itulah yang menyucikan kita dari semua dosa dan yang menyelamatkan kita. Dengan demikian kita bisa mengambil kesimpulan bahwa konsep tentang sunat di dalam Perjanjian Lama telah digenapi melalui konsep baptisan karena baptisan disamakan dengan sunat di Perjanjian Lama.

Di dalam Perjanjian Lama sunat juga diberlakukan kepada anak-anak kecil, yaitu di Kejadian 17, dimana seluruh keluarga Abraham disunat. Orang-orang Yahudi melaksanakan praktik ini, yaitu bahwa setiap bayi atau anak kecil juga disunat pada hari ke delapan. Pertanyaannya adalah bagaimana sunat bisa dianalogikan dengan baptisan? Kuncinya di dalam Roma 4, dimana Paulus berbicara tentang Abraham sebagai Bapa orang beriman. Paulus menjelaskan bahwa Abraham dibenarkan bukan karena sunat, tetapi karena iman. Abraham dibenarkan terlebih dahulu, baru kemudian ia disunat dan begitu pula dengan seluruh anggota keluarganya. Jadi apa yang mengikat keturunan-keturunan Abraham bukanlah sunat tetapi iman. Ketika orang-orang beriman kepada Yesus Kristus, maka iman itu disimbolkan bukan lagi dengan sunat tetapi dengan baptisan.

Dengan konsep pemikiran semacam inilah maka gereja mula-mula memahami bahwa baptisan bisa dilakukan kepada bayi-bayi dengan syarat salah satu orang tuanya -kalau bisa dua-duanya- adalah orang yang percaya. Hal ini seturut dengan 1Korintus 7, sebab kalau salah satu dari orang tuanya adalah orang yang percaya maka keluarga itu akan diperlakukan Tuhan secara khusus. Jika ada salah satu orang tuanya adalah orang yang percaya, maka orang yang percaya ini bisa membimbing anaknya. Anaknya dibaptis atas kehendak orangtua, tetapi ketika ia dewasa dan bisa mengambil keputusan sendiri, maka masing-masing anak harus mengambil konfirmasi iman di hadapan semua orang dan Tuhan. Baptisan tidak menyelamatkan, tetapi baptisan merupakan tanda bahwa seseorang dihisapkan pada umat perjanjian. Orangtua bertugas untuk mendidik anak itu untuk mampu mengambil keputusan sendiri percaya kepada Yesus Kristus.

Kedua, baptisan bisa dilayankan kepada orang dewasa yang sudah percaya kepada Yesus Kristus. Baptisan memang tidak menyelamatkan tetapi baptisan merupakan simbol dari sebuah makna yang ada di dalamnya. Pertanyaannya adalah apa makna yg ada/terkandung di balik simbol baptisan? Makna di dalamnya adalah iman dan pertobatan. Dua hal ini merupakan dua sisi dari satu mata uang yang sama. Kita ingat di dalam Kisah Para Rasul 2:38, ketika Petrus berkhotbah dan banyak orang Yahudi yang tersentuh dan mereka bertanya: “Apa yang harus kami lakukan?” maka Petrus menjawab: “Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu . . .” Lalu di dalam Kisah Para Rasul 8 diceritakan tentang Filipus yang berjumpa dengan sida-sida dari Etiopia. Setelah Filipus menerangkan dari Kitab Suci bahwa Yesus adalah Mesias yang menggenapi berbagai macam nubuatan di dalam Perjanjian Lama, maka sida-sida itu menjadi percaya lalu bertanya: “Halangan apakah yang ada padaku jika aku ingin dibaptis?” Filipus menjawab: “Jika tuan percaya, maka tuan bisa dibaptiskan.” Orang itu kemudian percaya kepada Yesus Kristus sebagai Mesias Anak Allah dan dia menerima baptisan dewasa.

Baptisan bisa diberlakukan untuk anak-anak kecil yang orang tuanya percaya kepada Tuhan atau kepada orang dewasa yang sudah percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat dan telah mengambil keputusan untuk meninggalkan dosa-dosanya. Kiranya Tuhan memberkati kita. Amin!