Oleh: Pdt. Yakub Tri Handoko

Hari ini kita akan membahas sebuah pertanyaan: Siapakah yang berhak mengikuti sakramen Perjamuan Kudus? 1Korintus 11: 27-31 mengatakan bahwa yang berhak untuk menerima sakramen Perjamuan Kudus adalah mereka yang mengakui tubuh Tuhan, yang mengakui penebusan Kristus Yesus dan yang menguji kesungguhan dirinya. 1Korintus 11:27-31 mengatakan demikian: “Jadi barangsiapa dengan cara yang tidak layak makan roti atau minum cawan Tuhan, ia berdosa terhadap tubuh dan darah Tuhan. Karena itu hendaklah tiap-tiap orang memuji dirinya sendiri dan baru sesudah itu ia makan roti dan minum dari cawan itu. Karena barangsiapa makan dan minum tanpa mengakui tubuh Tuhan, ia mendatangkan hukuman atas dirinya. Sebab itu banyak di antara kamu yang lemah dan sakit, dan tidak sedikit yang meninggal. Kalau kita menguji diri kita sendiri, hukuman tidak menimpa kita.” Dari sini kita bisa mengetahui bahwa walaupun sakramen itu mendatangkan berkat rohani (dan berkat rohani itu dimeteraikan dan diaplikasikan melalui sakramen) tetapi jika sakramen dilakukan dengan cara dan konsep yang keliru serta dilakukan tanpa iman yang benar kepada Yesus Kristus, maka sakramen itu justru bisa mendatangkan hukuman.

Jika kita membaca 1Korintus 11 dengan teliti, maka kita menemukan adanya orang-orang kaya dalam jemaat Korintus yang membawa roti dan anggur mereka ke dalam rumah Tuhan. Mereka merayakan sakramen Perjamuan Kudus dengan memakan rotinya dan minum anggurnya tanpa menunggu anggota jemaat yang lain. Anggota jemaat yang miskin mungkin tidak punya roti untuk dibawa atau kalaupun mereka punya roti, mereka tidak punya anggur untuk dibawa ke gereja dan dinikmati bersama-sama. Orang-orang kaya punya banyak waktu luang yang mereka bisa pakai. Mereka bisa datang lebih awal daripada jemaat-jemaat yang miskin yang mungkin harus bekerja sebagai buruh dan baru bisa lepas dari pekerjaan pada sore hari, sehingga mereka terlambat datang ke gereja. Tapi orang-orang kaya tidak peduli. Mereka memakan rotinya dan minum anggurnya. Bahkan Paulus mengatakan mereka minum sampai mabuk. Hal ini adalah pelanggaran terhadap sakramen Perjamuan Kudus karena mereka tidak mengakui tubuh dan darah Tuhan.

Lalu apa sebetulnya makna di balik roti dan anggur? Roti itu berbicara tentang tubuh Kristus yang diserahkan bagi orang-orang yang percaya. Roti juga berbicara tentang pengorbanan kepada orang lain. Anggur berbicara tentang cawan perjanjian yang baru, yang dimateraikan oleh darah Kristus. Anggur juga berbicara tentang kesatuan antar orang percaya. Semua orang percaya, baik kaya maupun miskin, semua adalah satu umat perjanjian. Itulah makna sakramen Perjamuan Kudus di dalam terang karya Kristus di atas kayu salib. Barangsiapa yang tidak mengakui dan tidak mengetahui tentang makna ini dan yang melaksanakan sakramen secara sembrono, mereka sebetulnya mendatangkan hukuman atas diri mereka sendiri. Mereka sebetulnya tidak layak untuk mengikuti sakramen. Tetapi bagi mereka yang sudah tahu tentang sakramen dengan benar, mereka tetap perlu untuk menguji kesungguhan diri mereka dan menguji kesiapan mereka.

Itulah sebabnya di dalam setiap sakramen, para hamba Tuhan atau para pendeta yang memimpin sakramen selalu mengingatkan bahwa mereka yang berhak menerima sakramen bukan saja mereka yang sudah bertobat dan yang sudah dibuktikan dalam bentuk baptisan atau sidi, tetapi juga orang-orang yang tidak hidup di dalam dosa, tidak tegar tengkuk, tidak terus menerus di dalam dosa, dan tidak mencari pembenaran untuk dosa-dosa. Hal ini perlu diingatkan selalu karena salah satu syarat penting menerima Perjamuan Kudus adalah menguji kesungguhan diri kita, yaitu apakah kita sungguh percaya kepada Yesus? Orang yang berhak untuk menerima sakramen adalah mereka yang sudah mengakui tubuh dan darah Tuhan dan menguji kesungguhan dirinya sendiri.

Pertanyaan lain adalah apakah anak kecil boleh untuk menerima sakramen? Ini merupakan topik yang sangat panjang sekali untuk dibahas. Di dalam Alkitab tidak ada larangan bagi anak kecil untuk mengikuti sakramen. Tetapi banyak gereja di sepanjang zaman memikirkan dari sisi akal budi kristiani. Mereka ingin memastikan bahwa sakramen dihormati oleh setiap yang mengikutinya. Karena itu banyak gereja memutuskan, demi keteraturan, untuk sementara melarang anak-anak kecil terlibat dlm sakramen Perjamuan Kudus sampai mereka bisa memahami makna di balik Perjamuan Kudus. Walaupun kalau kita belajar dari sejarah Perjanjian Lama, anak-anak kecil juga dilibatkan di dalam berbagai macam hari raya keagamaan bangsa Yahudi. Tapi demi keteraturan biasanya gereja mengambil sikap untuk menunda anak-anak kecil berpartisipasi dalam sakramen, sampai mereka benar-benar memahami makna sakramen dan sampai benar-benar mereka memahami iman mereka yang benar di dalam Kristus Yesus. Tuhan memberkati kita. Amin!