Oleh: Pdt. Yakub Tri Handoko

Beberapa aliran di dalam kekristenan menggunakan patung atau gambar di dalam ibadah mereka. Ada beragam alasan yang mereka kemukakan sebagai pembenaran. Tetapi apakah benar bahwa kita boleh menggunakan patung atau gambar di dalam ibadah? Mengapa praktik ini disebut salah di dalam Alkitab? Ada beberapa alasan yang menunjukkan bahwa penggunaan patung atau gambar untuk merepresentasikan Allah adalah tindakan yang keliru.

Alasan yang pertama karena manusia adalah gambar Allah. Sebagai gambar Allah, maka manusia merupakan representasi yang paling jelas tentang Allah. Di dalam Kejadian 1:26-27 diceritakan bahwa Allah menciptakan manusia menurut gambar-Nya dan konsep ini diulang beberapa kali di dalam Alkitab. Sebagai gambar Allah -tidak peduli bagaimana kita memahaminya- kita menggambarkan Allah. Kita merupakan representasi Allah. Bukan hanya representasi Allah, kita juga adalah sebuah representasi yang disahkan oleh Allah. Kita dibuat sedemikian oleh Allah sendiri supaya kita memancarkan Allah di dalam hidup kita. Karena manusia adalah gambar Allah maka sangatlah keliru dan bodoh jika manusia justru menciptakan gambar yang lain untuk menggambarkan Allah.

Alasan yang kedua karena penggunaan patung dan gambar merupakan pembalikan realita yang tidak masuk akal. Di dalam Roma 1:22-23 Paulus mengecam para penyembah berhala karena mereka telah membalikkan realita secara tidak masuk akal. Pencipta diganti dengan ciptaan. Yang riil diganti dengan yang cuma gambaran. Yang kekal diganti dengan sesuatu yang fana. Jika direnungkan secara mendalam, pembalikan realita ini merupakan kebodohan. Manusia telah memilih apa yang kurang berarti dibandingkan dengan apa yang berarti. Manusia lebih menyukai hal-hal yang kurang bermakna dan kurang nyata dibandingkan dengan keberadaan Allah yang sangat bermakna dan sangat nyata.

Alasan yang ketiga karena penggunaan gambar atau patung di dalam ibadah membatasi Allah pada tempat tertentu dan dengan demikian sekaligus menyangkali sifat rohani Allah. Kita tahu di dalam Yohanes 4:23-24 Tuhan Yesus mengajarkan bahwa ÔÇťAllah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran.” Hal yang dimaksud dengan Roh di sana berarti bahwa menyembah Tuhan itu tidak dibatasi oleh tempat karena Tuhan Yesus sedang membicarakan tentang ibadah yang bukan di Yerusalem, bukan di Gerizim, bukan di Israel dan bukan di Samaria. Dalam khotbahnya di kota Athena di depan para filsuf Yunani (Kisah Rasul 17), Paulus menjelaskan bahwa penyembahan berhala -yang diwujudkan dalam bentuk penyembahan kepada patung atau mezbah tertentu- bagi Allah merupakan kesalahan, karena Allah sebagai Pencipta dari segala sesuatu tidak dapat dibatasi oleh sesuatu, termasuk oleh tempat tertentu atau benda tertentu. Allah adalah Roh. Bukan hanya Roh, Dia adalah Pencipta segala sesuatu. Jadi bagaimana mungkin Pencipta dari segala sesuatu yang lebih besar daripada segala sesuatu; ternyata diletakkan di dalam tempat tertentu yang sangat terbatas. Bagaimana bisa, Pencipta yang tidak terbatas digambarkan melalui benda yang terbatas? Ini adalah kekeliruan.

Alasan yang keempat, karena penggunaan gambar atau patung itu membuat Allah menjadi ciptaan/buatan manusia. Di dalam Ulangan 4:28, Musa memberikan peringatan tentang penyembahan berhala, tentang ilah-ilah yang disembah oleh bangsa-bangsa lain. Setelah itu Musa menyebut bahwa Allah semacam itu adalah buatan tangan manusia yang tidak dapat mendengar, tidak dapat berbicara dan tidak dapat melakukan sesuatu kepada orang-orang yang memujanya. Penyembahan berhala menjadikan Allah Sang Pencipta menjadi ciptaan buatan tangan manusia.

Dengan demikian kita tidak kesulitan untuk melihat betapa keliru dan bodohnya praktik penyembahan berhala.  Allah adalah Pencipta dan kita adalah ciptaan, tetapi penyembahan berhala telah memutarbalikkan realita itu. Kita menciptakan Allah untuk diri kita sendiri dan ini adalah sebuah kekeliruan. Berhati-hatilah dengan segala gambaran, dengan segala patung, dengan segala macam hal di dalam ibadah, yang masuk dalam kategori ibadah yang tidak benar. Tuhan memberkati kita.