Oleh: Pdt. Yakub Tri Handoko

Bagi kita yang pernah tinggal di Amerika atau sering nonton film Hollywood tidaklah sulit menemukan contoh-contoh konkrit penggunaan nama Tuhan dengan sembarangan. Misalnya ucapan “Jesus Christ!”, padahal yang dimaksud adalah umpatan ketika mereka merasa sial atau marah kepada orang lain. Atau mungkin yang lebih halus dari itu adalah pengunaan kata “Oh My God!”, padahal sebetulnya mereka hanya latah menggunakan sebutan itu. Mereka bukan sedang meminta sesuatu kepada Tuhan atau takjub kepada Tuhan. Ataupun seruan “Darah Yesus! Darah Yesus!”, ataupun “Oh Tuhan, oh Tuhan!” padahal yang sedang dialami sama sekali tidak penting.

Mungkin kita dengan mudah mengatakan bahwa itu semua adalah wujud pelanggaran terhadap perintah yang ketiga: “Jangan menyebut nama TUHAN, Allahmu, dengan sembarangan . . .” (Kel. 20:7); tetapi mungkin kita pun telah melakukan kesalahan yang sama, meski tidak setransparan kesalahan-kesalahan yang umum tadi. Ada enam wujud pelanggaran terhadap perintah yang ketiga. Hari ini kita akan membahas tiga yang pertama. Apa saja wujud pelanggaran terhadap perintah yang ketiga?

Wujud pelanggaran yang pertama: Bersumpah palsu dengan menggunakan nama Tuhan. Kita ingin meyakinkan orang lain dan kita memanggil Allah sebagai saksi, tetapi apa yang kita sampaikan adalah sesuatu yang tidak benar. Dalam Imamat 19:12 dikatakan “Janganlah kamu bersumpah dusta demi nama-Ku, supaya engkau jangan melanggar kekudusan nama Allahmu; Akulah TUHAN.” Berdusta jelas merupakan hal yang keliru, terlebih bersumpah dusta; yang merupakan pelanggaran yang sangat serius sekali. Berdusta saja sudah salah, apalagi berdusta dengan menggunakan nama Tuhan. Orang yang bersumpah dengan menggunakan nama Tuhan demi meneguhkan sebuah kebohongan, menunjukkan bahwa dia benar-benar tidak paham tentang nama Tuhan. Kita seringkali melihat itu di sekeliling kita, atau paling tidak kita pernah menyaksikan orang yang menutupi kebohongannya dengan menggunakan nama Tuhan.

Saya pernah menangani kasus, dimana tidak ada cara untuk membuktikan apakah orang itu bersalah atau orang itu benar. Saya tidak tahu apakah orang itu berkata jujur ataukah orang itu sedang berbohong kepada saya. Di tengah situasi seperti itu, saya cuma ingin tahu apakah orang ini adalah orang yang mengasihi Allah. Pada saat orang itu berkata begini, “Demi Tuhan saya tidak melakukan!”, maka saya langsung percaya kepada orang ini. Mengapa saya percaya? Karena kalau dia orang yang cinta Tuhan sungguh-sungguh, berarti dia tidak berbohong; tapi kalau ia tidak percaya Tuhan sungguh-sungguh, maka Tuhan yang akan berurusan dengan orang itu, karena orang itu telah menggunakan nama Tuhan dengan sembarangan. Area itu sudah tidak lagi menjadi bagian saya, tetapi menjadi bagian Tuhan karena nama-Nya dilanggar.

Wujud pelanggaran yang kedua: Memberikan ibadah yang tidak sungguh-sungguh. Dalam Imamat 22:2 dikatakan demikian, “Katakanlah kepada Harun dan anak-anaknya, supaya mereka berlaku hati-hati terhadap persembahan-persembahan kudus yang dikuduskan orang Israel bagi-Ku, agar jangan mereka melanggar kekudusan nama-Ku yang kudus; Akulah TUHAN.” Sekali lagi di ayat ini muncul “agar jangan mereka melanggar kekudusan nama-Ku yang kudus, Akulah Tuhan”. Nama Tuhan adalah nama yang kudus dan Tuhan tidak akan mengizinkan orang lain untuk melanggar kekudusan-Nya.

Pada saat kita beribadah kepada Tuhan dan tidak sungguh-sungguh melakukannya maka kita sedang melanggar kekudusan nama-Nya. Pada saat kita membawa kurban tetapi tindakan itu tidak muncul dari hati kita maka itu merupakan pelanggaran terhadap kekudusan nama Tuhan. Membawa persembahan, beribadah kepada Tuhan dan setia melakukan ritual tertentu untuk Allah adalah hal yang positif; namun ketika saudara melakukannya tidak dengan sungguh-sungguh, maka Alkitab mengatakan bahwa itu melanggar kekudusan nama Tuhan. Dengan demikian ada berapa banyak di antara kita yang setiap minggu mungkin melanggar kekudusan nama Tuhan. Kita menyanyi tidak dengan sungguh-sungguh, kita datang kepada Tuhan tidak dengan sungguh-sungguh. Kita datang ke kebaktian hanya untuk mengisi waktu luang atau menghindari perasaan bersalah. Kita melakukan semuanya bukan muncul dari hati yang mengasihi Tuhan. Itu semua melanggar kekudusan Tuhan.

Wujud pelanggaran yang ketiga: Memiliki gaya hidup yang tidak sesuai dengan nama Tuhan yang kudus. Di dalam Amos 2:7 dikatakan “mereka menginjak-injak kepala orang lemah ke dalam debu dan membelokkan jalan orang sengsara; anak dan ayah pergi menjamah seorang perempuan muda, sehingga melanggar kekudusan nama-Ku” Jika engkau mengaku percaya kepada Tuhan tetapi hidupmu tidak seperti Tuhanmu -engkau tidak berjalan di dalam kekudusan- maka engkau pada dasarnya telah melanggar kekudusan nama Tuhan. Ini adalah hal yang sangat serius sekali. Ketika kita menyebut dan mengakui nama Tuhan berarti kita juga harus siap memiliki gaya hidup seperti Tuhan, yaitu gaya hidup di dalam kekudusan. Kalau kita gagal melakukannya berarti kita melanggar kekudusan nama-Nya. Tuhan memberkati kita.