Oleh: Yakub Tri Handoko

Menghargai nilai manusia adalah satu hal, tetapi mengungkapkan hal itu melalui tindakan adalah hal yang berbeda. Kadang kita tahu seseorang itu berharga, tapi perlakuan kita terhadapnya justru menunjukkan bahwa orang itu tidak terlalu berharga di mata kita. Kita juga sangat mungkin melakukan sesuatu yang membahayakan nyawa orang lain, sehingga kita melanggar perintah yang keenam. Apakah bentuk ketaatan pada perintah yang keenam ini?

Pertama, memelihara kehidupan kita dengan sebaik-baiknya. Di dalam 1Raja-raja 18 Elia digambarkan sebagai nabi yang luar biasa. Dia mengalahkan 450 nabi Baal di Gunung Karmel, di pusat penyembahan Baal. Elia disertai Tuhan dengan luar biasa. Tuhan menurunkan api dari langit, yang membuktikan bahwa Dia adalah Allah yang benar dan membuktikan bahwa Elia adalah nabi dari Allah. Tapi kemudian Elia takut dengan ratu Izebel yang mengancam akan membunuhnya. Dia mengalami ketakutan dan melarikan diri ke padang gurun. Walaupun Elia melarikan diri dari upaya pembunuhan tapi di perjalanan itu dia justru ingin mati (ps. 19). Dia berkata kepada Tuhan “Lebih baik Engkau mengambil nyawaku.” Jadi dia takut mati, dia juga takut bunuh diri dan dia berharap Tuhan yang mengambil nyawanya. Tetapi Tuhan datang untuk menolong dia. Ketika Elia tidak mau makan dan sengaja melakukan itu, maka Tuhan datang dan memberinya makanan dan minuman untuk menunjukkan kepada Elia bahwa hidup manusia adalah berharga. Tuhan sendiri menghargai manusia karena manusia diciptakan menurut gambar-Nya. Kalau kita mau menaati perintah yang keenam ini maka kita harus memelihara hidup kita sebaik-baiknya.

Kedua, memelihara kehidupan orang lain. Ada sebuah cerita yang menarik di dalam 1Samuel 14:15. Bagian ini mencatat tentang peperangan antara bangsa Israel dengan Filistin. Di dalam peperangan itu, raja Saul mengucapkan sebuah sumpah. Saul mengatakan bahwa “siapa saja yang makan sebelum matahari tenggelam, maka orang itu pantas untuk dihukum mati.” Tanpa disadari oleh Saul, Yonatan anaknya sendiri yang melanggar sumpah itu. Tetapi Yonatan ikut di dalam peperangan itu dan ia berperan besar di dalam kemenangan ini. Tapi Yonatan telah melanggar sumpah itu. Sumpah merupakan hal yang sangat penting dan dihargai oleh bangsa Israel sebagai komunitas yang religius. Mereka sangat menekankan sumpah Mereka tidak mau bermain-main dengan sumpah,karena mereka tahu sumpah sangat mengikat luar biasa. Tapi Yonatan telah melanggar sumpah yang diambil oleh Saul, sang pemimpin mereka. Maka yang dilakukan oleh rakyat pada waktu itu adalah berkata kepada Saul dan mengatakan “Masakan Yonatan harus mati, dia yang telah mendapat kemenangan yang besar ini di Israel? Jauhlah yang demikian! Demi TUHAN yang hidup, sehelai rambutpun dari kepalanya takkan jatuh ke bumi! Sebab dengan pertolongan Allah juga dilakukannya hal itu pada hari ini.” (1Sam 14:45).

Yonatan berharga bukan hanya karena dia punya peranan yang besar di dalam peperangan itu. Yonatan berharga, karena dia adalah manusia “gambar Allah”. Di sini terlihat bahwa nyawa manusia lebih tinggi daripada sumpah. Yonatan akhirnya dibebaskan dari sumpah itu. Padahal sumpah sangat penting dan dianggap sebagai sesuatu yang mengikat secara religius. Sumpah bukan hal yang main-main di depan Allah. Tetapi Saul dan rakyat Israel juga sadar bahwa ada yang lebih penting daripada itu, yaitu nyawa manusia. Yonatan akhirnya tidak jadi dibunuh; dia dibebaskan dari sumpah itu.

Ketiga, tidak melakukan kecerobohan yang membahayakan nyawa orang lain. Di dalam Ulangan 22:8, ada perintah supaya bangsa Israel memagari sotoh rumah mereka. Sotoh rumah adalah atap rumah berbentuk datar/flat dan pada pinggir pinggirnya harus diberikan pagar dengan ketinggian tertentu. Tujuannya apa? Supaya jangan sampai ada orang yang terpeleset dan mati karena kecerobohan pemilik rumah.

Kecerobohan bisa dihindari dan bukan merupakan kecelakaan. Sebab kecelakaan berarti orangnya mungkin tidak memiliki kontrol atas apa yang terjadi. Kecerobohan lebih parah daripada kecelakaan akibat kelalaian. Membangun rumah membutuhkan pemikiran yang panjang dan bukan tindakan yang sekadarnya. Membangun rumah tanpa pertimbangan dan upaya pengamanan yang cukup adalah tindakan kecerobohan yang disengaja. Segala bentuk kecerobohan tidak seharusnya kita lakukan. Ketika kita berada di jalan, apakah kita sudah mengemudikan kendaraan kita dengan baik? Apakah kita dengan ceroboh menggunakan handphone sementara menyetir kendaraan sehingga bisa membahayakan orang lain? Apakah kita mengantuk di mobil dan terus mengendarai mobil kita sehingga membahayakan nyawa kita dan orang lain? Kalau kita sudah tahu bahwa itu adalah sesuatu yang ceroboh dan kita tetap melakukannya sehingga nyawa orang lain berada di dalam bahaya, maka itu termasuk ketidaktaatan terhadap perintah yang keenam. Tuhan memberkati kita.