Oleh: Pdt. Yakub Tri Handoko

Bagaimana seandainya kita berada di tengah para pembunuh? Bagaimana pula seandainya saya mengatakan bahwa saudara adalah seorang pembunuh? Pastilah saudara merasa tidak nyaman dan kaget karena saudara mungkin tidak pernah mengambil nyawa orang lain. Tapi ternyata membunuh itu tidak harus mengambil nyawa orang lain. Itulah yang diajarkan oleh Alkitab dan akan kita pelajari hari ini. Apa saja bentuk pelanggaran terhadap perintah “jangan membunuh”? Ada lima bentuk pelanggarannya.

Pertama, menyebabkan kematian orang yang tidak bersalah. Di dalam Keluaran 23:7 Tuhan berkata demikian: “Haruslah kaujauhkan dirimu dari perkara dusta. Orang yang tidak bersalah dan orang yang benar tidak boleh kaubunuh, sebab Aku tidak akan membenarkan orang yang bersalah.” Pada zaman dulu ketika teknologi belum berkembang, maka para saksi adalah pihak yang paling menentukan di pengadilan. Para saksi bisa berkomplot untuk menjatuhkan seseorang. Saksi-saksi dusta merencanakan pembunuhan terhadap orang lain. Mereka hanya perlu berkumpul, menjadi saksi yang memberatkan dengan memberikan kesaksian yang palsu dan orang lain bisa dijatuhi hukuman mati. Hal ini termasuk pembunuhan yaitu menyebabkan kematian orang yang tidak bersalah.

Kedua, membiarkan orang lain mati padahal kita mampu menolongnya. Ketika dicerca dengan berbagai macam tuduhan dari sahabat-sahabatnya, Ayub menceritakan kesalehan hidupnya dan dia berkata: “jikalau aku melihat orang mati karena tidak ada pakaian, atau orang miskin yang tidak mempunyai selimut, dan pinggangnya tidak meminta berkat bagiku, dan tidak dipanaskannya tubuhnya dengan kulit bulu dombaku…” (Ayb 31:19-21). Dengan kata lain Ayub selalu memelihara nyawa orang lain. Ayub selalu menyediakan pertolongan bagi orang-orang yang berada di dalam bahaya karena kemiskinan agar mereka bisa tetap hidup. Kalau kita bisa menolong orang lain tapi kita tidak menolong sehingga orang itu meninggal dunia, maka itu menjadi tanggung jawab kita.

Ketiga, marah tanpa kontrol diri. Di dalam Matius 5:21-22 Tuhan Yesus berkata begini: “Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.” Ayat ini perlu ditafsirkan secara lebih detil, tapi kita tidak dapat melakukannya sekarang: Apa artinya “jahil” dan “kafir” di sana? Tapi paling tidak kita bisa menyimpulkan demikian: Kemarahan yang tanpa kontrol sehingga kita mengeluarkan kata-kata yang merendahkan orang lain, maka itu dianggap sama dengan membunuh orang itu.

Keempat, menindas orang yang tidak berdaya. Di dalam Yakobus 5:6 Yakobus mengecam orang-orang kaya dengan berkata: “Kamu telah menghukum, bahkan membunuh orang yang benar dan ia tidak dapat melawan kamu.” Orang-orang ini memberikan hukuman yang tidak adil, bahkan sampai pada satu titik mereka membunuh orang lain. Para penafsir berbeda pendapat, apakah “membunuh” di sini benar-benar membunuh? Atau membunuh di sini berarti memberikan hukuman yang mengakibatkan orang itu tidak bisa bertahan untuk hidup. Terlepas dari perbedaan pendapat tersebut kita dapat meyimpulkan bahwa orang ini melakukan pembunuhan dengan menghukum dan menindas orang lain. Secara khusus dikatakan orang itu “tidak dapat melawan kamu”. Dengan kata lain, kesewenang-wenangan kita terhadap orang lain, apalagi jika orang itu tidak berdaya dapat dikategorikan dengan kita melakukan pembunuhan kepada orang itu.

Kelima, menyimpan iri hati atau kebencian terhadap orang lain. Di dalam 1Yohanes 3:15 tertulis demikian: “Setiap orang yang membenci saudaranya, adalah seorang pembunuh manusia. Dan kamu tahu, bahwa tidak ada seorang pembunuh yang tetap memiliki hidup yang kekal di dalam dirinya.” Orang yang membenci sesamanya adalah pembunuh. Apakah kita punya kebencian atau iri hati kepada orang lain? Apakah kita menyimpan kepahitan kepada orang lain sehingga kita tidak bisa mengampuni orang itu dan tidak bisa memberikan kasih kita kepada orang itu? Maka kita disamakan dengan pembunuh.

Dengan semua pemaparan di atas, mari kita bertanya pada diri kita masing-masing: Mungkinkah kita tidak pernah mengambil nyawa orang lain? Tidakkah kita juga patut dikategorikan sebagai pembunuh? Karena walaupun kita tidak mengambil nyawa orang lain, kita telah melanggar perintah keenam. Pikirkanlah itu! Renungkanlah itu! Tuhan memberkati kita.