Oleh: Pdt. Yakub Tri Handoko

Apakah Doa Bapa Kami dimaksudkan sebagai sebuah mantra? Beberapa orang memperlakukan Doa Bapa Kami sebagai sebuah mantra. Seorang Kristen dari sebuah pulau yang didominasi oleh orang Kristen pernah bercerita kepada saya bahwa pendetanya mengajarkan dia untuk menuliskan Doa Bapa Kami dan kemudian menyimpannya di dompet dan membawanya ke mana saja dia pergi. Jika berjumpa dengan roh jahat, dia dinasihati untuk mengeluarkan kertas itu dan membacanya di depan roh jahat. Bagi kita hal tersebut mungkin terlihat konyol, tapi itulah kenyataan di beberapa tempat. Apakah Doa Bapa Kami dimaksudkan sebagai sebuah mantra? Jawabannya adalah sama sekali tidak!

Hal yang dipentingkan dari Doa Bapa Kami bukanlah kata-katanya melainkan konsep di dalamnya. Hal ini bukan berarti kita tidak boleh menghafalkan Doa Bapa Kami. Saya mengharuskan dan mendorong orang-orang Kristen untuk menghafalkan Doa Bapa Kami. Dengan menghafalnya kita akan mudah untuk memahami konsep yang ada di dalamnya. Tapi seandainya kita harus memilih antara menghafal tanpa memahami atau memahami walaupun kita tidak menghafal, maka kita harus memilih memahami walaupun tidak menghafalnya. Saya akan memberikan tiga alasan mengapa dalam Doa Bapa Kami bukanlah kata-katanya yang terpenting melainkan konsep berdoanya.

Alasan pertama, karena Doa Bapa Kami menekankan pada “bagaimana” kita berdoa. Penerjemah LAI menggunakan frasa “berdoalah demikian”. Kata “demikian” di sana dalam bahasa Yunani mempergunakan kata “bagaimana”. Beberapa terjemahan bahasa Inggis menerjemahkan “this is how you should pray” (Bagaimana engkau berdoa). Bukan tentang what atau apa yang didoakan, tetapi tentang how atau bagaimana. Beberapa versi bahasa Inggris yang lain juga menerjemahkannya “in this manner you should pray”. Hal yang ditekankan dalam bagian ini adalah bagaimana. Jadi kata “demikian” di sana bukan merujuk pada kata-kata atau isi doa tapi merujuk kepada sikap atau cara di dalam berdoa.

Alasan kedua, karena Doa Bapa Kami dimaksudkan sebagai kritikan terhadap beberapa konsep atau cara berdoa yang keliru. Tuhan Yesus menyindir beberapa orang yang suka memamerkan doa dan hidup keagamaannya. Mereka suka berdoa di depan banyak orang pada waktu-waktu tertentu di tempat umum. Ini bukan tentang apa yang didoakan tapi tentang cara atau sikapnya di dalam berdoa. Tuhan Yesus juga menyindir orang-orang yang berdoa bertele-tele dan berpikir bahwa kalau kata-katanya banyak maka mereka bisa mengontrol Allah; begitu pula orang yang konsep doanya keliru yang berpikir bahwa doa itu haruslah memberitahu Allah apa yang kita mau. Semua konsep doa yang keliru ini dikritik Yesus dengan cara mengajarkan Doa Bapa Kami. Jadi dari konteksnya (Mat 6) kita bisa memahami bahwa yang dipentingkan di dalam Doa Bapa Kami bukanlah kata-katanya melainkan konsep di dalamnya.

Alasan ketiga, terdapat konsep yang sama dalam peredaksian yang berbeda. Jika kita membandingkan isi Doa Bapa Kami di dalam Matius 6 dengan Lukas 11 terlihat perbedaan di dalam peredaksiannya. Dalam Injil Matius, doanya lebih indah dan lebih panjang serta lebih memiliki paralel. Dengan kata lain doa di Injil Matius jauh lebih baik daripada Doa Bapa Kami yang ada di Injil Lukas. Tetapi doa ini sama-sama diajarkan oleh Tuhan Yesus. Para penulis Alkitab pun merasa tidak masalah untuk memberikan versi Doa Bapa Kami yang berbeda. Mengapa mereka punya pemikiran semacam itu? Karena bagi mereka yang penting memang bukan kata-katanya, tetapi yang penting adalah konsep yang mau diajarkan di dalamnya. Apa yang mau diajarkan di Injil Matius adalah sama dengan apa yang mau diajarkan di dalam Injil Lukas.

Detail kata-kata memang berbeda. Kita tidak tahu persis ketika Tuhan Yesus mengajarkan doa ini seberapa banyak kata yang Dia pakai. Kita juga tidak tahu persis berapa banyak kosakata atau tata bahasa apa yang Dia pakai. Mungkin Yesus mengajarkannya dalam bahasa Aramik dan para penulis Alkitab menuliskannya di dalam bahasa Yunani. Ada kebebasan dari para penulis Alkitab untuk menuliskan sesuai dengan tujuan mereka masing-masing. Dalam hal ini Matius dan Lukas memberikan peredaksian yang berbeda karena mereka punya tujuan yang berbeda dan itu sah-sah saja karena konsep di dalamnya tetap sama.

Tiga alasan ini meyakinkan kita bahwa Doa Bapa Kami bukan hanya untuk dihafal. Kita dituntut untuk memahami konsep yang ada di dalamnya. Sudahkah kita memahami konsep doa yang benar, sebagaimana yang diajarkan Tuhan Yesus di dalam Doa Bapa Kami ini? Tuhan memberkati kita!