Pdt. Yakub Tri Handoko

Kita tidak tahu dengan pasti siapa yang merumuskan Pengakuan Iman Rasuli. Kita juga tidak tahu berapa orang yang terlibat dalam proses perumusannya. Kita juga tidak bisa memastikan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk merumuskannya. Tetapi dari rumusan yang sudah ada, kita bisa mengetahui strukturnya. Dari strukturnya kita juga bisa mengetahui pola pikir perumusnya. Bagaimana struktur Pengakuan Iman Rasuli?

Jika kita membaca dengan cermat maka kita akan mendapati dua struktur. Struktur yang pertama dan terutama adalah struktur yang disebut “trinitarian.” Trinitarian berarti bersifat tritunggal atau berkaitan dengan Allah Tritunggal. Kita memulai pengakuan iman dengan kalimat “Aku percaya kepada Allah Bapa yang maha kuasa”. Setelah itu kita melanjutkan, “dan kepada Yesus Kristus AnakNya yang tunggal”. Jika kita membaca dari awal sampai akhir maka sebagian besar dari pengakuan iman ini berbicara tentang Yesus Kristus atau berfokus pada Yesus Kristus. Pembahasan tentang Bapa hanya disinggung di awal lalu tentang Yesus Kristus disinggung cukup banyak, barulah kemudian “Aku percaya kepada Roh Kudus”. Ada Bapa, Anak dan Roh Kudus. Inilah struktur Pengakuan Iman Rasuli.

Perumusnya ingin kita bisa menangkap hal tersebut. Walaupun tidak ada formula tritunggal yang eksplisit satu hakikat tiga pribadi, tetapi kita bisa langsung menangkap bahwa Pengakuan Iman Rasuli bersifat trinitarian. Mungkin memang tidak diperlukan rumusan tritunggal yang eksplisit karena gereja pada waktu itu sudah sama-sama mengenal rumusan tersebut sebagai pengetahuan umum. Tidak perlu dituliskan eksplisit namun kita tetap bisa menangkap struktur tritunggal tersebut.

Allah Tritunggal penting bukan hanya dalam konteks pengakuan iman, tetapi juga dalam setiap kegiatan orang Kristen dan gereja. Kita harus berfokus pada Allah Tritunggal. Alkitab mengajarkan hal ini berulang kali. Dalam 1Korintus 12:4-6, ketika Paulus berkata “Ada rupa-rupa karunia, tetapi satu Roh. Dan ada rupa-rupa pelayanan, tetapi satu Tuhan. Dan ada berbagai-bagai perbuatan ajaib, tetapi Allah adalah satu yang mengerjakan semuanya dalam semua orang.”

Jadi ketika Paulus membicarakan tentang pelayanan pun, dia membicarakannya dalam konteks Tritunggal. Pengakuan Iman Rasuli pun dirumuskan dengan struktur Tritunggal. Doktrin Tritunggal bukan doktrin yang kering ataupun abstrak tetapi justru menjadi fondasi dari segala doktrin. Doktrin ini adalah yang paling praktis di antara semua doktrin karena segala sesuatu dalam kekristenan didirikan di atas satu fondasi, yaitu Allah kita sebagai Allah Tritunggal.

Struktur yang kedua adalah kronologis. Pengakuan Iman Rasuli dimulai dengan penciptaan, “aku percaya kepada Allah Bapa, pencipta langit dan bumi”. Lalu diikuti dengan penebusan, “dan kepada Yesus Kristus, AnakNya yang tunggal, Tuhan kita” Karya Kristus dijelaskan di sana. Kemudian dilanjutkan dengan pengudusan, “aku percaya kepada Roh Kudus, gereja yang kudus dan Am.”, dan diakhiri dengan kebangkitan orang mati dan kehidupan yang kekal. Strukturnya begitu kronologis dan para perumusnya mungkin memaksudkannya seperti itu.

Tetapi kita harus berhati-hati dalam memahami hal ini. Jangan sampai kita berpikir bahwa penciptaan hanya berkaitan dengan Bapa saja. Banyak ayat Alkitab, misalnya Yohanes 1:3, yang menyatakan bahwa Yesus Kristus (Firman) juga terlibat dalam penciptaan: “Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan.”

Jadi Allah Tritunggal/tiga Pribadi dalam Allah yang esa sama-sama terlibat dalam penciptaan dan sama-sama terlibat dalam penebusan dan pengudusan. Penebusan bukan cuma karya Pribadi Kedua yaitu Yesus Kristus tetapi Bapa terlibat di sana. Bapa yang mengutus Anak, Anak yang merealisasikan penebusan dan Roh Kudus yang menerapkan itu kepada orang-orang percaya. Di setiap bagiannya Allah Tritunggal terlibat tetapi di dalam Pengakuan Iman Rasuli kita dapat melihat unsur kronologi sebagai sebuah bentuk penekanan dimana Bapa dikaitkan dengan penciptaan, Yesus Kristus dikaitkan dengan penebusan dan Roh Kudus dikaitkan dengan pengudusan. Jadi ada kronologi dari penciptaan sampai akhirnya kepada kehidupan yang kekal.

Kedua struktur ini, trinitarian dan kronologis, mengingatkan kita bahwa pengakuan iman ini tidak dirumuskan dengan tergesa-gesa ataupun sembarangan. Ada pemikir-pemikir yang hebat dan yang sudah memikirkan semua ini dengan matang. Bahkan strukturnya pun dipikirkan dengan luar biasa. Kiranya ini membantu kita untuk memahami alur pemikirannya dan apa yang menjadi pemikiran para perumusnya dengan lebih baik. Tuhan memberkati.