Oleh: Pdt. Yakub Tri Handoko

Hari ini kita akan merenungkan sebuah pertanyaan yang mungkin pernah terbersit di pikiran kita: Apakah ada manusia yang pernah tidak pernah berbuat dosa? Atau dengan kata lain: Apakah ada seseorang yang sepanjang hidupnya tidak pernah berbuat dosa? Pertanyaan ini wajar kita ungkapkan, karena kalau kita jujur dengan realita hidup kita, maka kita akan mendapati bahwa ada beberapa orang non-Kristen/yang tidak percaya Tuhan yang justru memiliki kehidupan yang begitu luar biasa. Mereka begitu saleh, begitu murah hati, begitu sopan dan sebagainya. Di sisi lain, kita melihat tidak sedikit orang-orang yang mengaku Kristen ternyata hidupnya kalah jauh dengan orang-orang di luar kekristenan yang menunjukkan moralitas hidup yang luar biasa. Kita juga mungkin pernah mendengar kisah tentang orang-orang yang memberikan hidupnya sepenuhnya untuk orang lain, orang yang begitu sabar mengendalikan seluruh hawa nafsunya. Pertanyaannya: Apakah memang benar ada orang yang pernah tidak pernah berbuat dosa? Apakah ada orang yang suci seumur hidupnya?

Saya akan menjawab itu dari firman Tuhan. Di dalam 1Raja-raja 8: 46, pada waktu Salomo mentahbiskan Bait Allah yang baru dibangun, Salomo berkata: “Apabila mereka berdosa kepada-Mu -karena tidak ada manusia yang tidak berdosa-. . .” Salomo mengantisipasi, bahwa walaupun sudah ada Bait Allah yang begitu megah, walaupun Allah nanti berdiam secara khusus di sana; tapi tidak terelakkan bahwa umat Israel tetap akan berbuat dosa. Menariknya ketika Salomo berdoa: “Apabila mereka berbuat dosa kepada-Mu”, dia menambahkan keterangan: “karena tidak ada seorang pun yang tidak pernah berbuat dosa.” Mazmur 14:2-3 berkata: “TUHAN memandang ke bawah dari sorga kepada anak-anak manusia untuk melihat, apakah ada yang berakal budi dan yang mencari Allah. Mereka semua telah menyeleweng, semuanya telah bejat; tidak ada yang berbuat baik, seorangpun tidak.” Pengkhotbah menegaskan kebenaran ini dengan berkata: “Sesungguhnya, di bumi tidak ada orang yang saleh: yang berbuat baik dan tak pernah berbuat dosa!” (Pkh 7:20).

Kesaksian-kesaksian Alkitab ini menunjukkan dengan begitu eksplisit, bahwa di mata Allah tidak ada seorang pun yang tidak pernah berbuat dosa. Padahal seandainya mereka mampu untuk tidak berbuat dosa sepanjang hidup mereka, maka mereka bisa diselamatkan. Karena Paulus mengatakan di dalam Roma 2:-6-11 bahwa barangsiapa yang tekun berbuat baik mengejar kemuliaan melakukan hal-hal yang luar biasa maka orang itu bisa diselamatkan. Tetapi persoalannya, tidak ada satu orang pun yang mampu. Di dalam Roma 2:13 Paulus juga mengatakan: “Karena bukanlah orang yang mendengar hukum Taurat yang benar di hadapan Allah, tetapi orang yang melakukan hukum Tauratlah yang akan dibenarkan.”

Tetapi persoalannya sekali lagi adalah tidak ada seorangpun yang mampu melakukannya. Mengapa tidak ada seorangpun yang mampu melakukannya? Karena semua orang, yang hidup dari pekerjaan hukum Taurat, berada di bawah kutuk. Sebab ada tertulis: “Terkutuklah orang yang tidak setia melakukan segala sesuatu yang tertulis dalam kitab hukum Taurat.” (Gal 3:10). Tuntutan Allah kepada kita bukan hanya melakukan sebagian besar dari tuntutan hukum Taurat, tetapi supaya kita melakukan segala sesuatu yang ada di dalam hukum Taurat itu dengan setia. Dengan tuntutan semacam ini, siapa yang bisa diselamatkan karena berbuat baik? Rasul Yakobus menjelaskan: “Sebab barangsiapa menuruti seluruh hukum itu, tetapi mengabaikan satu bagian dari padanya, ia bersalah terhadap seluruhnya.” (Yak 2:10). Rasul Yakobus, yang dikenal dengan “James, the just ini,” mengakui bahwa kita semua bersalah dalam banyak hal . . . (Yak 3:2). Kita semua tidak ada perkecualian – termasuk Yakobus yang disebut saleh- bersalah bukan hanya dalam satu dua hal; kita bersalah dalam banyak hal.

Dengan kata lain, tidak ada satu manusia pun yang pernah hidup di dunia ini yang tidak pernah berbuat dosa, dan hanya satu yang pernah melakukannya, yaitu Yesus Kristus, Tuhan kita. Karena Alkitab dengan jelas memberitahukan kita bahwa Yesus, Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa (Ibr 4:15). Hanya Yesus Kristus-lah manusia yang tidak pernah berbuat dosa dan karena kesucian-Nya, karena kebenaran-Nya, karena kesalehan-Nya; maka Dia bisa menjadi Pokok Kebenaran bagi semua orang yang percaya kepada-Nya.

Apakah engkau putus asa dengan hidupmu? Apakah engkau merasa tidak pernah layak untuk dikasihi? Bersandarlah kepada kurban Kristus yang sempurna di atas kayu salib, karena melalui iman yang sungguh, kebenaran-Nya menjadi kebenaran saya dan saudara. Tuhan memberkati. Amin.