Oleh: Pdt. Yakub Tri Handoko

Kita sudah belajar bahwa untuk diselamatkan, orang berdosa perlu beriman kepada Yesus. Tetapi pertanyaannya: Apakah orang berdosa mampu beriman kepada Yesus Kristus dengan kekuatannya sendiri? Alkitab menjawab dengan jelas: Orang berdosa tidak mungkin beriman dengan kekuatannya sendiri, karena orang-orang yang berdosa membenci terang; dan orang yang hidup di dalam kegelapan tidak suka kehidupannya itu dibongkar oleh terang. Di dalam Yohanes 3:19-20 Tuhan Yesus mengatakan: “Terang telah datang ke dalam dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan dari pada terang, sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat.” Orang tidak mau kehidupannya yang jahat dan tersembunyi, terkuak oleh terang. Jadi tidak mungkin bagi orang berdosa mencari terang dengan usaha sendiri.

Di dalam 2Korintus 4:4 Rasul Paulus mengatakan bahwa orang-orang yang tidak percaya adalah orang-orang yang pikirannya telah dibutakan oleh ilah zaman ini, sehingga mereka tidak mampu melihat cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus, yang adalah gambaran Allah. Orang berdosa bukan hanya menyukai kegelapan, tetapi juga tidak mampu melihat terang. Mereka dibutakan oleh ilah zaman ini. Jadi, bagaimana mungkin mereka bisa beriman kepada Allah dengan usaha sendiri?

Itu sebabnya Alkitab di bagian lain, mengajarkan kepada kita, bahwa iman itu bukan hasil usaha manusia, iman bukanlah hasil perbuatan manusia. Walaupun manusia harus beriman, tetapi beriman sendiri itu bukan berbuat sesuatu. Beriman itu hanya percaya, menyadari ketidakmampuan kita dan berharap kepada Tuhan. Di dalam Efesus 2:8-9 dikatakan: “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.”

Dengan kata lain, kemampuan manusia untuk beriman dan meresponi anugerah Allah di dalam Kristus Yesus, bukanlah hasil usaha manusia, tetapi murni anugerah Allah di dalam hidup kita. Sekali lagi, iman bukanlah perbuatan manusia tetapi pemberian dari Allah. Kita bisa beriman karena Allah yang bekerja di dalam kita.

Tuhan Yesus di dalam Yohanes 6:37 dan 44 – “Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku, dan barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang” (Yoh 6:37). Jadi, orang bisa datang kepada Yesus kalau sebelumnya diberikan Bapa kepada-Nya. Lalu Yesus melanjutkan perkataan-Nya: “Tidak ada seorangpun yang dapat datang kepada-Ku, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku, . . ..” (Yoh 6:44).

Jadi, kalau seseorang tidak ditarik oleh Bapa, tidak mungkin dia datang kepada Yesus. Dengan kata lain: Tidak ada yang bisa datang kepada Yesus kalau dia tidak diberikan Bapa, dan tidak ada orang yang bisa datang kepada Yesus kalau dia tidak ditarik oleh Bapa. Jika kita bisa datang dan beriman kepada Tuhan Yesus, itu bukan karena inisiatif kita, bukan pula karena usaha kita. Itu semua terjadi karena Allah, yang sudah memberikan kita kepada Yesus Kristus, dan karena Allah yang sudah menarik kita. Jadi jelas iman bukan hasil usaha manusia. Iman adalah pemberian Allah di dalam hidup kita.

Saya seringkali memberikan ilustrasi iman seperti orang yang sedang tenggelam di laut, dan orang itu berusaha sebisa mungkin tapi tetap tidak bisa, karena dia tidak tahu bagaimana caranya menyelamatkan diri. Lalu seorang perenang yang hebat mendatangi dia dan berkata: “kamu tenang, tak usah melakukan apa-apa; kamu tenang, aku akan membawa kamu sampai ke daratan”. Lalu dia pun tenang, tidak melakukan apapun, sampai akhirnya sang perenang handal itu membawanya ke daratan, dan dia bisa selamat. Saya yakin, tidak mungkin orang yang diselamatkan itu pada akhirnya membanggakan diri. Tidak mungkin orang yang diselamatkan itu punya pikiran, bahwa dia berandil di dalam keselamatan itu, karena yang dia lakukan sebetulnya tidak ada, hanya percaya pada perkataan perenang yang hebat itu. Tak ada yang dia lakukan, dia hanya membiarkan dirinya ditolong oleh perenang hebat itu.

Iman bisa digambarkan seperti itu, bukan kita yang aktif; bukan kita yang mengambil kendali; bukan kita yang mengambil peranan; dan bukan kita yang memiliki andil di dalamnya. Tetapi iman adalah pemberian Allah di dalam hidup kita. Kita hanya perlu percaya pada perkataan Yesus Kristus. Kita hanya perlu menyadari bahwa kita tidak mampu melakukan sesuatu untuk menyelamatkan diri sendiri. Hanya dengan tinggal tenang dan percaya disitulah letak keselamatan kita. Iman bukan perbuatan tapi pemberian Allah. Kebenaran ini semakin menguatkan kita untuk bersyukur kepada Tuhan dan memuji Dia, karena kita bisa mengatakan: Segala sesuatu adalah anugerah Tuhan, termasuk iman kita adalah anugerah yang besar yang Tuhan beri di dalam hati kita. Kiranya Tuhan memberkati kita. Amin