Oleh: Pdt. Yakub Tri Handoko

Hari ini kita akan membahas sebuah pertanyaan: Bagaimana kita bisa tahu bahwa seseorang dipilih Allah sejak kekekalan untuk diselamatkan di dalam Kristus Yesus? Jawabannya adalah kita tidak pernah bisa mengetahui pikiran Allah sejak kekekalan. Siapa saja yang Allah pilih sejak kekekalan dan siapa saja yang Dia biarkan di dalam keberdosaan mereka, kita tidak pernah bisa mengetahuinya. Tetapi bukan berarti petunjuk ke arah sana tidak ada, karena paling tidak ada dua ayat di dalam Akitab yang bisa memberikan isyarat atau petunjuk yang penting bagi kita, untuk mengetahui apakah seseorang diselamatkan atau tidak, dipilih atau tidak.

Kita baru bisa tahu bahwa seseorang dipilih oleh Allah jika orang itu sudah menunjukkan iman yang sejati. Jika orang itu sudah menunjukkan iman yang sejati, maka itu berarti bahwa dia sebelumnya telah dipilih Allah sejak kekekalan, karena tidak mungkin ada orang yang bisa sampai pada iman yang sejati tanpa dipilih oleh Allah. Siapa saja yang dipilih oleh Allah pasti pada akhirnya akan sampai pada iman yang sejati.

Teks yang pertama adalah di dalam 1Tesalonika 1:4-5. Di sana Rasul Paulus mengatakan bahwa ia tahu dan yakin bahwa jemaat di Tesalonika adalah orang-orang yang sudah dipilih oleh Allah. Dari mana Rasul Paulus bisa tahu? Ayat ke-5 menjelaskan: “Sebab Injil yang kami beritakan bukan disampaikan kepada kamu dengan kata-kata saja, tetapi juga dengan kekuatan oleh Roh Kudus”. Maksud Rasul Paulus adalah Injil yang dia beritakan telah berkuasa untuk mengubahkan hidup mereka melalui kekuatan Roh. Jadi bukan hanya sekadar pemberitaan yang biasa, tetapi pemberitaan yang dibubuhi oleh kuasa Roh Kudus, sehingga membuat jemaat Tesalonika sampai pada iman yang benar. Nah kalau mereka sudah sampai pada iman yang benar, Rasul Paulus mengatakan berarti itu petunjuk bahwa sebelumnya mereka sudah dipilih oleh Allah.

Teks yang kedua, yang perlu kita simak adalah di dalam Roma 8:29-30. Di sana dikatakan: “Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya.”

Dari sini kita bisa melihat ada beberapa kata kerja yang digunakan di sana: “dipilih”, “ditentukan”, “dipanggil”, “dibenarkan”, “dimuliakan”. Menariknya, kelima kata kerja ini dalam teks Yunani semuanya dalam bentuk lampau (past tense) yang menunjukkan bahwa apa yang dilakukan itu, dari perspektif Allah, semuanya sudah genap. Walaupun, tentu saja kita belum dimuliakan dan masih ada beberapa orang pilihan yang belum dipanggil dan belum dibenarkan di dalam Kristus. Tetapi ayat ini memberitahu kita, siapa yang dipilih, mereka juga yang akan ditentukan; mereka yang ditentukan, mereka juga dipanggil; mereka yang dipanggil, mereka juga dibenarkan; mereka yang dibenarkan, pada akhirnya mereka juga akan dimuliakan. Jadi jika kita melihat seseorang yang sudah sampai pada fase dibenarkan misalnya, maka kita tahu orang itu sebelumnya pasti sudah dipanggil secara efektif, sudah ditentukan sejak kekekalan, dan sudah dipilih secara kekekalan.

Dari dua teks ini 1Tesalonika 1:4-5 dan Roma 8:29-30, kita bisa menarik kesimpulan sekali lagi bahwa orang-orang yang dipilih oleh Allah sejak kekekalan itu pasti akan menunjukkan iman yang benar. Barulah setelah mereka menunjukkan iman yang benar, kita bisa tahu dengan pasti bahwa mereka sebelumnya telah dipilih oleh Allah. Begitu pula dengan orang-orang yang tidak dipilih oleh Allah, kita tidak bisa mengetahuinya sekarang. Kita baru bisa mengetahuinya jika sampai pada akhir hidup mereka, mereka tidak mendengar atau mereka tidak pernah menerima Injil yang benar dan mereka tidak pernah sampai pada iman yang sejati. Siapa saja yang sampai pada akhir hidupnya tidak pernah sampai pada iman yang sejati, berarti itu menjadi petunjuk bahwa orang itu tidak dipilih oleh Allah.

Dari sini sekali lagi saya ingin kita mempraktekkan hikmat kristiani. Kita tidak boleh dengan gegabah dan sembarangan menilai dan menghakimi orang. Biarlah Injil itu yang menjadi hakim dan penilai. Bagaimana respon orang itu terhadap Injil itulah yang akan menilai, menentukan, memberitahukan dan menunjukkan, apakah orang itu dipilih Allah atau tidak. Jika seseorang sampai pada iman yang benar berarti ia adalah orang-orang pilihan. Begitu pula jika seseorang yang sampai di akhir hidupnya tetap tidak percaya pada Injil yang benar di dalam Kristus Yesus, maka orang itu tidak dipilih.

Jika saudara bisa sampai pada iman yang benar, itu semua karena anugerah Tuhan. Ia telah memilih kita sebelum dunia dijadikan dan itu anugerah yang patut kita syukuri di dalam Kristus. Tuhan memberkati kita.