Oleh: Pdt. Yakub Tri Handoko

Dalam edisi yang lalu kita sudah melihat tiga alasan: Mengapa Juruselamat kita, yaitu Yesus Kristus haruslah Allah; bukan hanya manusia sejati, tetapi harus Allah yang sejati? Hari ini kita akan menambahkan dua alasan yang lain.

Alasan keempat, karena keselamatan menurut Alkitab berkaitan dengan pengenalan terhadap Allah. Di dalam Yohanes 17:3 Tuhan Yesus berdoa: “Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.” Ini merupakan keunikan doktrin Kristen. Keselamatan itu bukan tentang yang lain-lain tetapi tentang pengenalan terhadap Allah. Atau dalam ungkapan yang lain yang lebih sederhana, kekristenan itu adalah agama yang bersifat relasional. Ada relasi yang dibangun di sana.

Itu sebabnya Alkitab menyatakan bahwa orang-orang yang percaya kepada Yesus Kristus nanti akan masuk ke dalam kerajaan surga. Hal yang membuat surga begitu indah bukan terutama karena adanya batu permata, emas, dsb; melainkan karena adanya persekutuan yang intim antara kita dengan Allah Tritunggal. Di surga kita bisa bisa melihat dan menikmati Allah dalam cara yang baru, sebagaimana digambarkan dalam Alkitab: kita akan melihat Dia muka dengan muka. Ini semua berbicara tentang relasi. Untuk membangun sebuah relasi yang penuh makna diperlukan pengenalan. Hidup kekal di surga berarti kita menikmati relasi yang paling intim dengan Allah. Hal ini tidak bisa tercapai kalau kita tidak mengenal Allah. Itu sebabnya keselamatan di dalam kekristenan berkaitan dengan pengenalan terhadap Allah yang benar.

Tapi bagaimana kita bisa mengenal Allah dengan benar sementara ada jurang yang tak terseberangi antara Allah dengan manusia. Allah begitu sempurna dan manusia sama sekali tidak sempurna. Allah sempurna di dalam kesucian-Nya tapi manusia begitu bobrok di dalam dosa. Ada jurang yang tak terseberangi. Jika Allah tetap tinggal di dalam tempatnya yang maha mulia (transendensi Allah) atau jika Allah tetap di dalam kemuliaan dan kebesaran-Nya saja, maka manusia tidak mungkin bisa mengenal Allah. Tidak mungkin manusia bisa mencari dan menemukan Allah.

Syukurlah, Allah tidak berdiam diri. Allah menjadi manusia. Allah menjadi penebus bagi manusia, supaya manusia bisa mengenal siapa Allah itu. Di dalam Injil Yohanes 1:18 dikatakan, “Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya”. Manusia tidak mungkin bisa menyeberangi jurang yang begitu dalam antara Allah dengan manusia. Jurangnya begitu panjang, tinggi, dalam dan tidak mungkin bisa terlewati oleh usaha manusia. Tetapi kita bersyukur, Allah tidak meninggalkan kita di dalam keputusasaan karena ada harapan yang Allah berikan: Allah menjadi manusia supaya kita bisa mengenal Dia. Jadi sekali lagi, mengapa Juruselamat kita haruslah Allah? Karena keselamatan berkaitan dengan pengenalan yang benar tentang Allah yang benar, supaya nanti di surga kita bisa memiliki relasi yang paling intim dengan Allah. Kalau Juruselamat kita bukan Allah maka manusia tidak mungkin bisa mengenal Allah.

Alasan kelima, karena Juruselamat itu berfungsi untuk menjadi mediator/perantara antara Allah dengan manusia. Salah satu peran Juruselamat adalah sebagai mediator antara Allah dengan manusia. Jikalau Dia menjadi mediator antara Allah dan manusia seperti yang dikatakan di dalam 1Timotius 2:5 “Karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus”, maka kita bisa menarik sebuah kesimpulan yang penting bahwa mediator itu harus memiliki beberapa bagian dari masing-masing pihak, yang Dia wakili. Dia harus Allah sendiri, karena Dia mewakili Allah; tetapi Dia juga harus manusia, karena Dia membawa dan memediasi manusia kepada Allah.

Kita mungkin bisa melihat dari ilustrasi-ilustrasi di sekitar kehidupan kita. Para wakil rakyat yang ada di MPR dan DPR adalah rakyat. Tanpa pernah menjadi rakyat, mereka tidak akan pernah menjadi wakil rakyat. Presiden yang memimpin begitu banyak warga negara Indonesia haruslah pertama-tama adalah seorang warga negara Indonesia. Seorang guru harus menjadi murid dan tanpa pernah menjadi murid, dia tidak akan bisa menjadi guru. Juruselamat kita adalah Allah yang sejati supaya Dia bisa menjadi perantara yang sempurna. Karena Dia Allah maka Dia bisa mewakili Allah, dan karena Dia juga manusia sejati maka Dia juga bisa mewakili manusia.

Jadi sekali lagi, Juruselamat kita adalah Allah karena keselamatan berkaitan dengan pengenalan yang benar tentang Allah yang benar; dan karena mediator antara Allah dan manusia harus memiliki dan mewakili apa yang Dia wakilkan, yaitu Dia harus Allah dan Dia juga harus manusia. Kiranya kebenaran ini menghibur kita dan menguatkan iman kita. Tuhan memberkati. Amin.