Oleh: Pdt. Yakub Tri Handoko

Kita sudah tahu bahwa Juruselamat kita adalah sungguh-sungguh Allah. Kita juga sudah tahu, mengapa Juruselamat kita harus Allah. Kita juga sudah belajar bahwa Juruselamat kita adalah manusia sejati, Dia sungguh-sungguh manusia. Sekarang kita akan membahas pertanyaan: Mengapa Juruselamat kita haruslah seorang manusia yang sejati? Setidaknya ada enam alasan dan hari ini kita akan melihat tiga di antaranya. Mengapa Juruselamat kita harus seorang manusia?

Alasan yang pertama, karena Dia berfungsi sebagai Kepala perjanjian yang baru. Alkitab mengajarkan kepada kita bahwa Yesus Kristus disebut sebagai “Adam yang terakhir”. Dia dikontraskan dengan Adam yang ada di Perjanjian Lama (Kej. 1-3). Adam yang pertama adalah nenek moyang semua umat manusia. Yesus Kristus disebut sebagai “Adam yang terakhir” (1Kor. 15:45, 47). Dengan menyebut Yesus Kristus sebagai Adam yang terakhir, Rasul Paulus sebetulnya ingin memberitahukan kita, bahwa sebagaimana Adam yang adalah Kepala perjanjan yang lama gagal dan hal itu membawa dampak yang negatif bagi semua orang yang dia wakili; maka Yesus Kristus dengan cara yang sama adalah Kepala perjanjian yang baru. Dia mewakili semua orang pilihan. Pada saat Dia berhasil untuk memberikan kehidupan yang sempurna di dalam kesucian, maka hasil positif juga diberikan dan diperhitungkan kepada semua orang pilihan yang Dia wakili.

Di dalam Roma 5:12-21 khususnya ayat 18 dan 19 ada kontras yang jelas di sana; karena satu orang, yaitu Adam, dosa masuk; tetapi karena satu orang pula, yaitu Yesus Kristus, maka banyak orang dibenarkan. Masa lalu kita bersama dengan Adam adalah masa lalu yang buruk, dan kita diwakili oleh Adam yang adalah seorang manusia. Maka sangat wajar kalau di dalam Perjanjian yang baru kita diwakili juga oleh seorang manusia, yaitu manusia Yesus Kristus. Itulah alasan pertama, mengapa Juruselamat kita haruslah seorang manusia, karena Dia harus mewakili dan menjadi Kepala perjanjian yang baru, sama seperti Adam yang dahulu menjadi Kepala dari perjanjian yang lama.

Alasan yang kedua, Kristus harus menjadi manusia supaya Ia bisa menebus manusia. Manusia hanya bisa ditebus oleh manusia tetapi manusia dalam arti yang sempurna, yaitu manusia yang sekaligus Allah. Di dalam Ibrani 2:16-17 dikatakan: “ . . .Itulah sebabnya, maka dalam segala hal Ia harus disamakan dengan saudara-saudara-Nya, . . .”. Mereka adalah orang-orang pilihan yang ditebus oleh Kristus dan menjadi anak-anak Allah, di mana Kristus menjadi anak yang sulung. Jika “yang ditebus” adalah manusia, maka sudah selayaknya tebusannya juga adalah manusia. Di dalam Ibrani 10:4 dengan jelas dikatakan: “Sebab tidak mungkin darah lembu jantan atau darah domba jantan menghapuskan dosa.” Jadi tidaklah mungkin darah binatang bisa menjadi tebusan dan bisa menyelamatkan manusia.

Tetapi bagaimana bisa dosa-dosa manusia itu dihapuskan melalui darah binatang (dalam PL)? Hal tersebut merupakan gambaran dan bayangan di masa Perjanjian Lama, tentang betapa besarnya anugerah Allah. Sebetulnya tidak mungkin dosa manusia ditutupi hanya dengan binatang yang dikurbankan; namun karena anugerah Allah, maka di masa Perjanjian Lama Allah rela mengampuni manusia dengan cara yang seperti itu. Tetapi di dalam Perjanjian Baru kita tahu bahwa darah yang sempurna sebetulnya bukan darah binatang, tetapi darah Yesus Kristus. Dia adalah Allah yang sejati. Dia menjadi manusia yang sejati. Dia mati menjadi tebusan yang sempurna untuk manusia. Inilah alasan yang kedua, mengapa Juruselamat kita haruslah manusia? Karena yang ditebus adalah manusia; binatang dan darah binatang tidak mungkin dan tidak sepatutnya menjadi tebusan bagi manusia.

Alasan yang ketiga, karena ketika Juruselamat kita adalah manusia, maka Dia menjadi teladan yang sempurna bagi kita. Rasul Petrus berkata: “Sebab untuk itulah kamu dipanggil, karena Kristus pun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya” (1Pet 2:21). Di sini Rasul Petrus berbicara dalam konteks penderitaan yang dialami penerima suratnya. Rasul Petrus menasihati mereka untuk selalu meneladani Kristus yang walaupun diperlakukan tidak adil, tapi tetap tidak membalas kejahatan dengan kejahatan. Dia bisa menjadi panutan yang sempurna. Penulis Ibrani berkata: “Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah” (Ibr 12:2). Kita harus terus menerus menujukan pandangan kita kepada Kristus, dan kita harus meneladani Dia.

Ketika kita menghadapi persoalan, kita harus selalu mengingat bahwa Kristus telah lebih dahulu menjalaninya bagi kita, dan Dia sudah belajar taat. Di dalam Ibrani 5:8 dikatakan: “Dan sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang telah diderita-Nya, . . .” Walaupun Yesus adalah Anak Allah, Dia belajar taat karena Dia juga manusia. Dia juga membutuhkan proses untuk terus menerus taat menuju kesempurnaan. Itu semua menjadi teladan bagi kita. Di dalam pergumulan kita melawan dosa, kita diingatkan bahwa tidak ada yang mustahil bagi Tuhan karena Tuhan sudah berjalan di depan dan menyelesaikan semua bagi kita. Dia mempersiapkan jalan bagi kita sehingga kita bisa meneladani Dia. Kiranya doktrin ini menghiburkan kita dan menguatkan iman kita. Tuhan memberkati.