Oleh: Pdt. Yakub Tri Handoko

Hari ini kita akan membahas sebuah pertanyaan: Apakah Kristus harus menebus manusia? Kita tahu bahwa semua manusia berdosa. Jika kita mau jujur, semua orang –baik yang beragama maupun yang tidak beragama– pasti sepakat bahwa di dunia ini ada sesuatu yang keliru, ada sesuatu yang salah, ada persoalan yang besar. Mungkin mereka memahami persoalan itu secara berbeda-beda. Ada yang menyebutnya “dosa”. Ada yang menyebutnya “dukkha”. Ada pula yang menyebutnya dengan istilah-istilah yang lain. Tetapi paling tidak, semua itu menunjukkan kepada kita bahwa manusia tidak pernah lepas dari salah. Tidak ada manusia yang tidak berdosa dan itulah yang dikatakan oleh Alkitab berkali-kali.

Di dalam 1Raja-raja 8:46, ketika Salomo menahbiskan Bait Allah, dalam doanya dia mengakui bahwa “tidak ada satu orang pun di dunia ini yang tidak berdosa.” Senada dengan itu, Rasul Paulus menyatakan bahwa: “semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah” (Roma 3:23), dan bahwa “murka Allah nyata dari sorga atas segala kefasikan dan kelaliman manusia, yang menindas kebenaran dengan kelaliman.” (Roma 1:18). Beranjak dari kenyataan bahwa semua manusia adalah berdosa, maka manusia memerlukan penebusan. Kalau semua manusia berdosa, berarti semua manusia memerlukan penebusan.

Jadi apakah Allah atau Kristus harus menebus manusia? Jawabannya adalah: Tidak! Allah tidak harus melakukan karya keselamatan. Kristus tidak harus menebus manusia. Mengapa? Mari kita membandingkan antara keberdosaan malaikat dan keberdosaan manusia. Alkitab mencatat bahwa malaikat berbuat dosa, begitu pula dengan manusia. Tetapi di dalam Ibrani 2:16 dikatakan “bukan para malaikat yang Ia kasihi tetapi keturunan Abraham”. Bukan berarti Allah membenci malaikat, tetapi konteksnya memberitahu kita, Kristus menjadi sama seperti manusia untuk menebus manusia. Penebusan Kristus hanya ditujukan kepada keturunan Abraham yaitu orang-orang pilihan Allah. Kristus tidak menebus para malaikat yang jatuh. Bahkan di dalam 2Petrus 2:4 dikatakan bahwa “Allah tidak menyayangkan malaikat-malaikat yang berbuat dosa tetapi melemparkan mereka ke dalam neraka dan dengan demikian menyerahkannya ke dalam gua-gua yang gelap untuk menyimpan mereka sampai hari penghakiman”

Mari kita renungkan sejenak. Para malaikat saja, yang lebih mulia, lebih kuat, lebih melampaui kodrat kita sebagai manusia; ketika mereka jatuh ke dalam dosa, Allah tidak menebus mereka. Berarti memang tidak ada keharusan bagi Allah untuk menyelamatkan ciptaan-Nya yang berdosa. Kristus tidak harus menebus para malaikat. Demikian pula Kristus tidak harus menebus manusia yang berdosa. Pada saat kita ditebus, maka itu membuktikan kasih Allah kepada kita dan kasih Kristus kepada kita.

Kasih Allah terlihat dengan jelas di dalam Yohanes 3:16 ketika dinyatakan bahwa: “karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini sehingga Ia mengaruniakankan anak-Nya yang tunggal supaya barangsiapa yang percaya kepada-Nya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal”. Di dalam 1Yohanes 4:10 juga dinyatakan bahwa Allah mengasihi kita: Dan inilah kasih itu bukan kita yang mengasihi Allah tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan telah mengutus anak-Nya menjadi pendamaian bagi dosa-dosa kita. Allah tidak harus mendamaikan manusia berdosa dengan diri-Nya. Jika hal itu terjadi, itu berarti murni bukti dari kasih dan anugerah-Nya.

Kristus juga tidak harus menebus orang-orang yang berdosa. Tetapi Roma 5:5-8 dengan jelas menyatakan bahwa Kristus mati bagi kita ketika kita masih lemah. Kristus mati bagi kita orang-orang durhaka. Kristus mati bagi kita para seteru Allah. Ini adalah sebuah kebenaran yang menakjubkan dan mengagumkan, bahwa Allah tidak harus mendamaikan manusia berdosa dengan diri-Nya. Kristus tidak harus menebus orang-orang yang berdosa tetapi Dia tetap melakukannya bagi kita. Tidak ada keharusan dalam diri Allah sebab tidak ada sesuatu yang lebih besar daripada Dia, sehingga Dia harus melakukan sesuatu atau terikat dengan sesuatu untuk mendamaikan manusia berdosa.

Allah mendamaikan manusia berdosa dengan diri-Nya, murni karena kasih dan anugerah-Nya bagi kita. Tidak ada satu faktor pun di dalam hidup kita yang membuat Allah harus melakukan perdamaian atau Kristus harus melakukan penebusan bagi kita. Itu sebab respon kita seharusnya adalah mensyukuri semua yang sudah dilakukan Allah di dalam Kristus Yesus bagi kita dan terus memberikan hidup kita dengan lebih sungguh kepada Allah. Kita tahu bahwa dahulu kita adalah musuh Allah, tetapi kita telah didamaikan dengan harga yang mahal. Kita tahu bahwa: Dulu kita adalah orang-orang durhaka yang terhilang, tapi Kristus telah menebus kita dengan darah-Nya yang mahal. Terpujilah nama Tuhan! Haleluya!