Oleh: Pdt. Yakub Tri Handoko

Dalam sesi yang lalu kita sudah belajar tentang “Perendahan Kristus”, yaitu bahwa Dia telah menjadi manusia, takluk kepada hukum Taurat, menderita di kayu salib dan dikuburkan selama tiga hari. Dalam sesi ini kita akan belajar sisi lain dari karya penebusan Kristus, yaitu “Pemuliaan Kristus”. Apakah yang dimaksud dengan pemuliaan Kristus? Pemuliaan Kristus harus dipahami dalam kaitan dengan perendahan Kristus. Akhir hidup Yesus tidak berhenti pada perendahan, tetapi masih ada proses lain, yang disebut sebagai pemuliaan Kristus. Mari kita melihat satu persatu.

Pemuliaan Kristus yang pertama berkaitan dengan kebangkitan Kristus dari antara orang mati. Sebagaimana dicatat berkali-kali di dalam Alkitab, misalnya di dalam Roma 1:4 dikatakan bahwa kebangkitan Kristus itu menunjukkan kuasa-Nya, kemuliaan-Nya dan diri-Nya sebagai anak Allah yang berkuasa. Kristus tidak hanya mati, dikuburkan dan takluk kepada kematian; tetapi Dia menang atas kematian, Dia bangkit dari kematian. Selama Kristus berada di dalam dunia, Dia telah menubuatkan berkali-kali bahwa Dia akan bangkit pada hari yang ketiga. Hal ini telah diberitakan oleh Yesus berulang-ulang sebelum peristiwa kebangkitan itu terjadi. Ketika Kristus benar-benar bangkit dari antara kematian, hal itu menunjukkan kekuasaan-Nya yang luar biasa. Dia adalah Anak Allah yang berkuasa.

Pemuliaan Kristus yang kedua dinyatakan oleh kenaikan Kristus ke surga. Kenaikan Kristus ke surga dicatat berkali-kali di dalam Alkitab. Ada dua teks yang secara khusus menyatakan hal ini kepada kita, yaitu Efesus 1:20-21 dan 1Petrus 3:22. Kedua ayat tersebut menyatakan bahwa ketika Kristus naik ke surga, Dia telah menaklukkan segala sesuatu dan segala sesuatu berada di bawah kaki-Nya. Kenaikan Kristus ke surga menunjukkan sesuatu yang penting dan itulah yang mungkin mengubah jalan hidup Paulus secara signifikan. Ketika dia berjumpa dengan Kristus yang ada di surga dia bertanya. “Siapakah Engkau?” dan Tuhan Yesus menjawab “Akulah Yesus yang kau aniaya”. Paulus mengalami perubahan yang begitu signifikan karena dia berpikir bahwa Yesus adalah seorang penghujat yang pantas dikutuk dan dihukum Allah secara mengenaskan di atas kayu salib. Tetapi apa yang terjadi? Paulus justru berjumpa dengan Kristus yang naik ke surga dan ada di surga. Hal ini mengubah cara pandang, paradigma dan perspektif Paulus dengan luar biasa. Paulus melihat, jika Kristus yang sebelumnya dia anggap sebagai penghujat dan nabi palsu, ternyata berada di surga, maka hal itu adalah sesuatu yang luar biasa. Demikian pula dengan kita, kalau Kristus naik ke surga, itu menjadi tanda bagi kita bahwa Dia melampaui segala kuasa, baik yang ada di bumi, yang ada di bawah bumi maupun yang ada di surga. Dia mengalahkan segala sesuatu.

Pemuliaan Kristus yang ketiga yaitu Kristus duduk di sebelah kanan Allah. Berkali-kali Alkitab menyatakan hal itu, bahkan Kristus dalam Matius 26:64 ketika Dia diadili oleh Imam Besar, Dia mengatakan: “. . . Aku berkata kepadamu, mulai sekarang kamu akan melihat Anak Manusia duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa dan datang di atas awan-awan di langit.”– Imam Besar langsung menangkap pernyataan Yesus itu sebagai sebuah bentuk penghujatan karena imam besar tahu pasti bahwa Allah tidak ada duanya dan tidak ada yang lain kecuali Allah. Kalau sampai ada seorang pribadi yang mengatakan bahwa dia duduk di sebelah kanan Allah, berarti pribadi itu setara dengan Allah dan berbagi kekuasaan dengan Allah. Jadi Imam Besar langsung menafsirkan bahwa itu adalah sebuah penghujatan. Memang, jika Kristus tidak sungguh-sungguh Allah maka hal itu merupakan sebuah penghujatan, tetapi ternyata Kristus memang sungguh-sungguh Allah. Itu bukan merupakan penghujatan melainkan menunjukkan kemuliaan Kristus. Berada di sebelah kanan Bapa berarti berbagi kekuasaan dan berbagi otoritas. Itu merupakan penggenapan nubuat dari Perjanjian Lama Mazmur 110:1 ketika Daud mengatakan: Demikianlah firman TUHAN kepada tuanku: “Duduklah di sebelah kanan-Ku, sampai Kubuat musuh-musuhmu menjadi tumpuan kakimu.” Ada pribadi lain yang dimaksud Daud di sana ketika dia menyebut “tuanku”. Itu adalah pemuliaan Kristus yang ketiga.

Pemuliaan Kristus yang keempat adalah penghakimannya di akhir zaman. Di dalam berbagai ayat di Alkitab misalnya di dalam Matius 24:30-31 Kristus menubuatkan bahwa nanti akan tiba saatnya Anak Manusia akan datang dengan segala kemuliaan-Nya diiringi oleh para malaikat. Anak Manusia akan datang dengan segala otoritas-Nya dan salah satu tujuan dari kedatangan ini adalah melakukan penghakiman. Dia akan meninggikan orang-orang benar dan menghukum orang-orang fasik. Di dalam 2Tesalonika 1:6-7 dikatakan bahwa penghakiman Allah adalah adil. Allah akan membalaskan setiap orang seturut dengan perbuatan mereka. Itu akan terjadi pada saat Kristus nanti datang sebagai Hakim yang akan menghakimi semua orang. Bahkan Kitab Suci agama lain pun mencatat hal yang sama bahwa Kristus akan datang dan menghakimi semua orang. Ini adalah bentuk pemuliaan Kristus. Kalau Dia bukan Allah, tidak mungkin Dia bisa menghakimi semua orang karena Hakim seluruh bumi adalah Allah sendiri dan karena untuk menghakimi semua orang dibutuhkan Pribadi yang Mahatahu, Mahaadil dan Mahabijaksana.

Inilah pemuliaan Kristus dan seharusnya kita bersyukur dan bangga karena kita berada di dalam Kristus yang mulia. Tuhan memberkati kita. Amin.