Pdt. Yakub Tri Handoko

Hari ini kita akan belajar sebuah pertanyaan, yaitu: Apakah perbedaan jenis kelamin manusia itu penting?  Pertanyaan ini perlu untuk kita renungkan, karena akhir-akhir ini kita disibukkan oleh berbagai macam isu yang berkaitan dengan homoseksualitas.  Beberapa selebriti menghadapi kasus homoseksualitas dan beberapa di antaranya mengarah kepada kriminalitas.  Sejak pernikahan sesama jenis dilegalkan di Amerika di tahun 2015, maka ini menjadi pembicaraan yang semakin ramai dilakukan oleh banyak orang.  Apakah perbedaan jenis kelamin manusia itu penting?  Ya!  Beberapa bukti dapat ditemukan dalam kisah penciptaan.

Pertama, perbedaan jenis kelamin disebutkan secara khusus dalam Kejadian 1:27.  Setelah Allah menciptakan manusia, lalu dikatakan demikian: “Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.” (Kej. 1:27).   Jadi secara khusus jenis kelamin manusia disebutkan sebagai laki-laki dan perempuan.  Ini merupakan hal yang menarik, karena di bagian sebelumnya pada waktu Allah menciptakan hewan (Kej 1) tidak ada keterangan apapun secara eksplisit yang menyatakan bahwa Allah menciptakan binatang itu jantan atau betina. Ini bukan berarti bahwa mereka tidak punya perbedaan jenis kelamin, tetapi dalam perspektif penciptaan hal tersebut tidaklah penting.  Hal yang lebih penting adalah perbedaan jenis kelamin di antara manusia, Adam dan Hawa.  Perbedaan jenis kelamin manusia itu penting karena kisah penciptaan menyebutkannya secara eksplisit.

Kedua, karena kisah penciptaan menyebutkan perbedaan antara laki-laki dan perempuan.  Walaupun laki-laki dan perempuan sama-sama manusia, sama-sama ciptaan dan sama-sama gambar Allah tetapi itu tidak meniadakan perbedaan-perbedaan yang ada di antara mereka.  Misalnya, dari sisi waktu, Adam diciptakan lebih dahulu, setelah itu baru Hawa.  Dari sisi bahan yang digunakan juga ada perbedaan.  Adam diciptakan dari tanah liat, namun Hawa diciptakan dari daging dan tulang Adam.  Dari sisi tujuan penciptaan Adam dan Hawa juga sedikit berbeda.  Walaupun sama-sama diciptakan untuk memuliakan Allah, tetapi kita bisa tahu bahwa Hawa diciptakan untuk menjadi penolong bagi Adam.  Ada perbedaan peranan yang diisyaratkan dalam Alkitab melalui kisah penciptaan.  Jika kita melihat semua perbedaan itu, kesimpulan yang tak terelakkan adalah memang kita harus mempertahankan perbedaan antara laki-laki dan perempuan.

Ketiga, karena pada saat Allah ingin memberikan seorang penolong kepada Adam, Allah tidak menciptakan manusia, tetapi Dia menciptakan seorang perempuan.  Jadi Allah bukan hanya menciptakan manusia, tetapi seorang perempuan.  Penolong yang sepadan dengan Adam adalah penolong yang berbeda dengan Adam.  Walaupun sepadan bukan berarti seragam, tetapi ada  unsur keragaman di dalam kesepadanan itu.  Adam dan Hawa berbeda, itulah sebabnya mereka menjadi penolong yang baik.

Tiga poin di atas merupakan sebuah perspektif bagi kita untuk memandang relasi antara suami dan istri dan antara pria dan wanita.  Kisah penciptaan memiliki nilai-nilai normatif.  Dalam 1Korintus 11 dan 1Timotius 2, Paulus diperhadapkan dengan situasi yang dikaitkan dengan kerancuan hubungan dan kerancuan penampilan antara pria dan wanita. Pada waktu itu, para wanita di kota Korintus tidak mau memakai penutup kepala; sedang dalam surat  1Timotius 2 digambarkan ada masalah antara peranan perempuan di dalam ibadah.  Dalam situasi seperti ini, Paulus memberi jawaban yang bersumber dari kisah penciptaan. Dia mengatakan bahwa laki-laki adalah kepala dari perempuan, karena laki-laki diciptakan lebih dahulu, dan perempuan diciptakan untuk laki-laki.  Perempuan ada untuk laki-laki, dan bukan sebaliknya.  Paulus juga mengatakan bahwa perempuan diciptakan dari laki-laki dan juga bukan sebaliknya.  Fakta bahwa Paulus menjadikan kisah penciptaan sebagai dasar penjelasan yang diberikannya, menunjukkan bahwa apa yang ada dalam kisah penciptaan bukan hanya bersifat deskriptif -bagaimana Allah menciptakan manusia- tetapi juga bersifat normatif, yang berarti cara Allah menciptakan manusia memiliki nilai yang mengikat kita sampai pada sekarang ini. 

Jadi perbedaan laki-laki dan perempuan itu sangat penting. Karena kisah penciptaan menunjukkan perbedaan antara laki-laki dan perempuan.  Perjanjian Baru menunjukkan bahwa apa yang diajarkan dalam kisah penciptaan masih mengikat hingga sekarang.  Kiranya kita bersyukur untuk apa adanya kita, laki-laki atau perempuan.  Bersyukurlah, terimalah dan jadilah laki-laki yang baik dan perempuan yang baik sesuai dengan maksud Tuhan.  Tuhan memberkati kita.  Amin.