KEPUTUSAN SIDANG RAYA XIII (BALIKPAPAN, 2019)

Ibadah Kristen harus dimengerti sebagai karya Allah dan bukan karya manusia.  Ada tiga catatan penting terkait hal ini:[1]  Pertama, bahwa ibadah dimulai dari refleksi tentang siapa Tuhan dan bukan siapa kita.  Ibadah bukanlah soal apa yang kita pikirkan tentang diri, keinginan, dan selera kita; melainkan harus mencerminkan keinginan Tuhan dan dinilai berdasarkan apa yang Tuhan inginkan.  Alkitab harus menjadi dasar untuk mengenali kehendak Tuhan atas ibadah.

Kedua, ibadah adalah inisiatif Tuhan.  Dia yang mengundang kita untuk beribadah.  Kitab Keluaran menunjukkan bahwa dasar pembebasan Tuhan atas umat Israel dari Mesir adalah agar mereka dapat beribadah kepadaNya (Kel 3:18; 4:23; 5:1,3).  Rasul Yohanes pun menekankan keinginan Bapa untuk mencari para penyembah yang benar, yang “akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran” (Yoh. 4:23-24).  Jadi tugas kita adalah meresponi panggilan Tuhan untuk datang beribadah kepadaNya.

Ketiga, Ibadah itu bersifat kekal.  Ibadah telah ada sebelum bumi dicipta lalu berlanjut hingga saat ini dan akan terus ada saat Kristus datang kedua kali dan memerintah sebagai Raja.   Ketiga hal tersebut di atas membawa kita pada kesadaran bahwa ibadah itu berasal dari Tuhan dan akan kembali kepada Tuhan.

Prinsip Teologis

Beranjak dari kesadaran inilah GKKA INDONESIA menghayati beberapa prinsip teologis yang menjadi penuntun dalam membangun sebuah liturgi ibadah.

Prinsip 1: Ibadah Korporat memuat Penyataan dan Respon

Ibadah merupakan undangan dari Tuhan, dan seharusnya diresponi oleh umat.  Pola ini disebut dialogis.  Ibadah yang baik tidak hanya satu arah saja.  Ketika umat Israel berjumpa Tuhan di gunung Sinai (Kel 19), maka disitu terjadi dialog.  Begitu juga ketika Allah menyatakan diri-Nya kepada Yesaya, maka terjadilah sebuah percakapan (Yes 6).  Lukas juga mencatat dialog antara dua murid yang sedang ke Emaus dengan Yesus yang datang menyatakan diri-Nya kepada mereka (Luk 24:13-35).  Ibadah yang sejati memuat percakapan antara Tuhan dengan umat-Nya.[2] Dengan kata lain, pola dialogis menempatkan Tuhan sebagai partner dalam percakapan dan bukan topik/obyek percakapan.  Dalam liturgi GKKA INDONESIA, pola ini akan terlihat jelas dalam setiap ruang liturgi.

Prinsip 2: Ibadah korporat pada naturnya adalah Trinitarian.

Ibadah Kristen haruslah Trinitarian,[3] yang artinya “bertujuan akhir untuk kemuliaan Bapa dan hanya dimungkinkan melalui karya Kristus yang diterapkan oleh pertolongan Roh Kudus dalam hidup setiap orang percaya.”[4]  Ibadah korporat seharusnya melibatkan respon umat kepada tiga pribadi ini: Bapa, Anak, dan Roh Kudus.  Alkitab menyatakan dengan jelas adanya keilahian yang sama dan relasi yang harmonis dari ketiga pribadi ini; bahkan ketiga pribadi ini saling memuliakan satu dengan yang lainnya (Yoh 13:31-32; Flp 2:9-11; Yoh 15:26).  Ibadah yang baik seharusnya banyak menghadirkan simbol atau pun alur yang trinitarian.

Prinsip 3: Ibadah korporat adalah sebuah perjalanan transformasi rohani.

Setiap bagian ibadah seharusnya memiliki keterkaitan antara satu dengan yang lain, dan mengalir dari awal hingga akhir, sejak panggilan beribadah hingga pengutusan.  Inilah sebuah perjalanan rohani yang ada dalam ibadah.  Perjalanan ini seharusnya bersifat transformatif, artinya membawa setiap umat yang beribadah untuk mengalami perubahan, karena bertemu dengan Tuhan dalam setiap ruang liturgi.  

Dalam Lukas 24:13-35 menceritakan perjalanan transformasi rohani yang dialami dua murid yang sedang ke Emaus.  Pada awalnya mereka berjalan dalam kekecewaan dan kebingungan.  Yesus berinisiatif hadir dan berjalan bersama serta menjelaskan kitab suci.  Akhirnya mereka mengenali Yesus yang bangkit, dan akhirnya mereka pergi menjadi saksi-Nya.  Liturgi GKKA INDONESIA menghadirkan ruang-ruang pertemuan antara umat dengan Tuhan, yang memiliki alur dari awal hingga akhir.

Pertimbangan Gerejawi

Prinsip-prinsip teologis yang menjadi penuntun dalam pembuatan liturgi, harus dapat diintegrasikan dengan mempertimbangan dinamika kehidupan berjemaat di lingkup GKKA INDONESIA.  Beberapa pertimbangan tersebut adalah:

  1. Keragaman Bentuk Ibadah.  

    Jemaat di GKKA INDONESIA telah memiliki beragam sumber nyanyian untuk ibadah mereka, antara lain: Kidung Jemaat, Kidung Puji Pujian Kristen, dan lainnya.  Tidak hanya itu, suasana ibadah pun ada yang bersifat tradisional-konvensional, dan juga ada yang bersifat kontemporer-dinamis.  Ini menjadi sebuah kekuatan dalam membangun sebuah konsep ibadah.

  2. Amanat Sidang Raya.  

    Salah satu keputusan dalam Sidang Raya XII GKKA INDONESIA di Kendari pada Agustus 2015 adalah “menerbitkan buku Liturgi . . . yang direvisi”.[5]  Ini merupakan amanat yang dibebankan pada Departemen Teologia untuk dilaksanakan.

  3. Dasar Teologis.  

    Tata Laksana GKKA INDONESIA pasal 7 ayat 3 mencatat bahwa “GKKA INDONESIA menganut dasar teologi Injili yang Reformed.”  Artinya penyusunan liturgi GKKA INDONESIA harus berdasarkan pada teologi yang dianut oleh GKKA INDONESIA.

  4. Semangat The Chinese Foreign Missionary Union (CFMU).  

    Motto CFMU adalah  “Berkobar-kobar memberitakan Injil, rela menderita, buka ladang baru”. Semangat CFMU ini diharapkan tercermin dalam liturgi GKKA INDONESIA, khususnya pada ruang pemberitaan Firman.

  5. Model-model Ibadah.  

    Ada banyak ahli yang mengelompokkan model-model ibadah yang ada.  Pengelompokkan dari Greg Scheer dinilai representatif untuk dikedepankan.  Scheer membagi model ibadah dalam kelompok Liturgikal, Tematis, Eksperiental, dan Konvergensi.[6]  GKKA INDONESIA memilih model Konvergensi sebagai model ibadahnya. 

Model Ibadah Konvergensi

Dalam mengelola liturgi, tentunya tidak terlepas dari suatu model ibadah.  Sejarah kekristenan menunjukkan telah terjadi perkembangan model ibadah dari masa ke masa.[7]  Terkait dengan pembentukan liturgi dari GKKA INDONESIA, maka dengan melihat prinsip-prinsip teologis dan menggumulkan beberapa pertimbangan gerejawi yang telah disebutkan sebelumnya, GKKA INDONESIA menjadikan model ibadah Konvergensi sebagai pijakan dalam mengembangkan liturgi GKKA INDONESIA.  Dengan model ibadah ini, liturgi GKKA INDONESIA bisa memiliki keseragaman dalam esensi, namun dinamis dalam ekspresi dan excellence.

Sejarah Terbentuknya

Lahirnya model ibadah konvergensi tidak lepas dari pencarian akan model ibadah yang memiliki kedalaman makna teologis dan kekayaan warisan gereja, yang dapat membawa umat mengalami perjumpaan dalam dialog yang intim bersama Tuhan.  Inilah yang membuat Robert Webber, seorang pakar ibadah, pada suatu masa di tahun 1987 mensintesis antara model ibadah Liturgikal dengan model ibadah Eksperiental abad ke-20.[8]  Awalnya ia menyebut model ini sebagai Blended Worship.  Namun dalam perjalanan waktu dan dengan penggodokan yang makin baik, model ini sekarang dikenal dengan sebutan Convergence Worship (Ibadah Konvergensi).[9] Sesuai dengan namanya, dua model ibadah ini (Liturgikal dan Eksperiental) dipertemukan dalam satu titik. Bagi Webber, Ibadah Konvergensi mencapai titik terbaik dalam mengkombinasi antara substansi dan relevansi, kebenaran dan pengalaman, ilahi dan manusia.[10]

Ciri Utama

Apa yang menjadi ciri dari Model Ibadah Konvergensi?  Ada tiga hal penting yang menandakan model ini:[11]

Pertama, isi.  Ibadah Konvergensi melihat bahwa suatu ibadah haruslah menitikberatkan pada karya Allah Tritunggal.

Kedua, struktur.  Ibadah Konvergensi menghadirkan pada pola 4 ruang yang merupakan warisan historis liturgi gereja: Gathering (Berkumpul), Word (Firman), Table (Persekutuan), Sending (Pengutusan).  Dasar dari empat ruang tersebut adalah kisah Yesus berjalan bersama dengan dua murid yang sedang ke Emaus (Lukas 24:13-35). Cherry menunjukkan ada empat pergerakan yang terjadi dalam kisah tersebut:

Pergerakan 1 (ay.13-24).  Dua orang murid berjalan dengan rasa gelisah. Mereka baru mengalami minggu yang melelahkan, dan kini mereka mendapat kabar yang menguras emosi mereka bahwa sang guru – Yesus Kristus – sudah tidak ada dalam kubur. Yesus menghampiri mereka, dan berjalan bersama dengan mereka, berinteraksi dengan mereka (Gathering).

Pergerakan 2 (ay. 25-27).  Dalam kegelisahan ini Yesus menjelaskan pada dua murid tersebut soal kitab suci. Yesus mengeksposisi isi kitab suci (Word).

Pergerakan 3 (ay. 28-32).  Sebagai respon atas percakapan ini, maka kedua murid makan bersama dengan Yesus. Ini merupakan momen intimasi dimana terjadi persekutuan di meja makan.  Dalam persekutuan di meja ini Yesus mengungkapkan diri-Nya, dan kedua murid mengenali-Nya.  Mereka bertemu dengan Kristus yang bangkit (Table).

Pergerakan 4 (ay. 33-35).  Perjumpaan dengan Kristus yang bangkit membawa sukacita besar bagi kedua murid.  Mereka segera bergegas untuk berjumpa dengan murid-murid lainnya agar bisa menceritakan apa yang mereka alami (Sending).

Ketiga, gaya Ibadah.  Ibadah Konvergensi tidak menekankan pada satu gaya ibadah, karena tidak ada satu gaya ibadah yang “paling Kristen”.  Sepanjang sejarah gereja, gaya ibadah selalu berubah-ubah sesuai zaman.  Itu sebabnya Ibadah Konvergensi lebih menitikberatkan pada partisipasi jemaat yang ditunjukkan dalam ekspresi ibadah yang dialogis.

Selain ketiga hal di atas, pemikiran dari Constance Cherry penting untuk diperhatikan terkait yang disebutnya pilar dari Ibadah Konvergensi.  Ada empat pilar dari Ibadah Konvergensi, dan dua diantaranya sudah termasuk pada penjelasan di atas (poin 1 dan 2).  Sedangkan dua lainnya merupakan penekanan yang lebih spesifik, yakni:[12]

  • Gaya musik.  Adanya komitmen pada keluasan isi dan gaya musik (yang menggambarkan ekspresi gereja masa lampau dan masa kini).  Bahwa tidak ada satu jenis musik yang hanya diperkenan oleh Tuhan.
  • Artistik.  Adanya komitmen untuk memulihkan kembali sisi artistik dari ibadah (yang menggambarkan ekspresi dari keutuhan ciptaan).  Simbol-simbol dan kreativitas seni sangat didorong untuk dihadirkan dalam liturgi sebagai bagian persembahan agung bagi Tuhan.

Pentingnya bagi GKKA INDONESIA

Dalam materi yang dibawakan Pdt. Juswantori Ichwan pada Konsultasi Teologi 2015 di Kendari,[13] diperlihatkan bahwa pola ibadah dari gereja-gereja Injili berlatarbelakang Tionghoa di Indonesia lebih banyak dipengaruhi model Ibadah “camp meeting”,[14] atau dalam kategori Scheer, model ibadah tematik. Liturgi dari model ibadah yang seperti ini, masih terlihat di beberapa gereja injili berlatarbelakang Tionghoa. Salah satu kelemahan krusial dari model ibadah ini adalah kurang memberi tempat pada perjumpaan Tuhan dengan umat dalam setiap ruang liturgi; seolah-olah yang paling utama hanyalah ruang pemberitaan firman.

GKKA INDONESIA di awal berdirinya termasuk dalam kelompok ini karena lahir dari pelayanan CFMU yang notabene berada pada masa berkembangnya model Ibadah Tematik.  Namun dalam praktiknya pada masa kini, jemaat-jemaat GKKA INDONESIA memiliki beragam model ibadah yang diterapkan.  Itu sebabnya dalam Sidang Raya XII telah diputuskan untuk menyusun sebuah Liturgi Ibadah yang dapat digunakan secara bersama di seluruh jemaat GKKA INDONESIA.

Keragaman model ibadah yang ada dalam lingkup jemata-jemaat GKKA INDONESIA, mengisyaratkan pentingnya sebuah kesatuan dalam keragaman.  Ini yang menjadi poin penting dalam mencari model ibadah yang tepat bagi GKKA INDONESIA.  Persidangan sinode GKKA INDONESIA telah memutuskan bahwa liturgi yang dibentuk berdasarkan model Ibadah Konvergensi adalah yang terbaik untuk diterapkan dalam lingkup jemaat-jemaat GKKA INDONESIA.


[1] Constance M. Cherry, The Worship Architect (Grand Rapids: Baker Academic, 2010), 4.

[2] Sebagai seorang pakar ibadah Cherry lebih merekomendasikan pendekatan dialogis dibandingkan beberapa pendekatan lain dalam ibadah, seperti:

  • Random Approach – memasukkan elemen-elemen liturgi tanpa memikirkan fungsi, tujuan, serta logika penempatan
  • The Blank Slate Apporach – memulai dengan “kertas kosong” dan mengisi dengan semua hal yang dianggap dapat fresh dan kreatif di setiap minggunya.
  • The Thematic Approach – seluruh elemen ibadah disusun berdasarkan tema khotbah.  Hal ini menyebabkan kekeliruan dalam penyusunan logika dari alur ibadah
  • The Fill-in-the-blank Approach – hanya mengganti beberapa elemen yang sama setiap minggunya tanpa memperhatikan tujuan dari setiap elemen.
  • The Prescribed Approach – hanya mengikuti apa yang telah dicantumkan secara harafiah tanpa memiliki unsur kreatifitas dan inovasi

Cherry, The Worship Architect, 42-45.

[3] Sebuah pengantar yang baik tentang hal ini dapat dilihat dalam tulisan Jimmy Setiawan, “Ibadah Trinitarian: Definisi, Implikasi Dan, Aplikasi,” Jurnal Veritas 14, no.2 (Oktober 2013):165-197; John D. Witvliet, “The Opening of Worship = Trinity,” dalam A More Profound Alleluia: Theology and Worship in Harmony (Grand Rapids: William B. Eerdmans Publishing Company, 2005).

[4] Setiawan, “Ibadah Trinitarian,” 170.

[5] Keputusan Sidang Raya XII GKKAI nomor: 13/SRXII/GKKAI/KDI/VIII/2015 tentang hasil sidang seksi mengenai departemen.

[6] Diskusi terhadap ketiga model ibadah ini dapat dilihat pada Greg Scheer, The Art of Worship, terj. Luciana Susanty (Malang: Literatur SAAT, 2015), 95-130.

[7] Sejarah singkat perkembangan model ibadah dari kekristenan awal hingga abad ke-20 dapat dilihat dari buku Robert Webber, Worship Old & New, bab 9-11; Greg Scheer, Essential Worship, A Handbook For Leaders, bab 5.

[8] Webber menggunakan istilah “kontemporer”. GKKA INDONESIA menggunakan istilah dari Scheer, Eksperiental, yang keduanya menunjuk pada model ibadah yang sama.

[9] Constance Cherry, “Blended Worship: what it is, what it isn’t,” in Reformed Worship 55, 6-8.

[10] Robert Webber, “Blended Worship”, in Exploring The Worship Spectrum: 6 Views, bab 5.

[11] Robert Webber, “Blended Worship”, in Exploring The Worship Spectrum: 6 Views, bab 5.

[12] Constance Cherry, “Blended Worship: what it is, what it isn’t,” in Reformed Worship 55, 6-8.

[13] Materi Powerpoin “Teologi Liturgi” disampaikan dalam Konsultasi Teologi IV GKKAI di Kendari.

[14] Hal ini dapat dibenarkan karena begitu kuatnya pengaruh gerakan kebangunan rohani injili abad XIX, yang terus memberikan pengaruhnya ke Indonesia lewat kedatangan misionaris-misionaris seperti John Sung dll.