Oleh: Pdt. Yakub Tri Handoko

Hari ini kita sampai pada pembahasan yang terakhir tentang sifat-sifat Allah, dan kita akan membahas tentang kesatuan Allah atau the unity of God.  Apa arti kesatuan sebagai sifat Allah?  Kesatuan sebagai sifat Allah berarti bahwa sifat-sifat Allah adalah sempurna, setara, dan tidak terpisahkan.  Sebagai contoh pada waktu Musa ingin melihat kemuliaan Tuhan dan Tuhan menunjukkan kemuliaan-Nya secara sekilas kepada Musa; pada saat itu Musa mendengar Tuhan menyerukan kalimat-kalimat-Nya, yang dicatat dalam Kel 34:6-7. 

Seruan-seruan itu terbagi menjadi dua bagian.  Bagian pertama, seruan tersebut menjelaskan tentang kebaikan-kebaikan Allah.  Dalam arti, Dia adalah Allah yang penuh kemurahan, setia, dan selalu mengampuni.  Bagian kedua, seruan tersebut juga menyatakan bahwa Allah adalah Allah yang benar, adil, dan tidak akan melepaskan orang dari kesalahannya.  Dari sini kita bisa melihat keseimbangan sifat Allah.  Dia memang baik dan mengampuni; tetapi karena Dia adil, maka Dia menghakimi dan menghukum orang yang bersalah.  Allah memang adalah Allah yang setia, sehingga Dia akan menerima orang-orang yang gagal; tetapi Dia juga adalah Allah yang kudus, yang tidak bisa berkompromi dengan dosa.

Semua sifat Allah adalah sempurna, setara, dan tidak terpisahkan.  Salah satu contoh yang paling jelas diberikan oleh Rasul Paulus di dalam Efesus 1.  Di situ Rasul Paulus menjelaskan tentang pilihan kekal Allah, bahwa sejak dunia belum dijadikan, Allah sudah memilih kita untuk diselamatkan di dalam Kristus Yesus.  Rasul Paulus menjelaskan bahwa tindakan yang tunggal itu, yaitu tindakan memilih kita untuk diselamatkan di dalam Kristus itu didasarkan pada sifat-sifat Allah.  Pilihan kekal itu didasarkan pada kasih (ay.5), hikmat dan pengertian-Nya  (ay.8), dan kebebasan-Nya (ay.9,11).  Jadi kita bisa melihat satu tindakan yaitu pemilihan kekal untuk keselamatan kita didasarkan pada sifat-sifat Allah, yaitu kasih, hikmat, dan kedaulatan-Nya.  Dengan kata lain, Allah dalam melakukan apa saja, selalu melibatkan semua sifat-Nya.

Dalam beberapa kasus, kita bisa melihat sifat Allah yang satu nampak lebih menonjol daripada sifat-Nya yang lain; tetapi tetap yang lain itu tidak terabaikan.  Misalnya dalam Mazmur 103:10 dikatakan bahwa Tuhan tidak membalas setimpal dengan kesalahan atau dengan pelanggaran kita.  Apakah berarti Tuhan tidak menghukum?  Tuhan tetap mendisiplin anaknya, dan itu merupakan bukti keadilan dan kekudusan-Nya.  Namun pada saat yang sama, Allah juga menunjukkan kasih-Nya.  Dengan cara apa?  Allah tidak menghukum kita setimpal dengan kesalahan kita.  Jadi segala tindakan Allah melibatkan semua sifat-Nya yang sempurna, setara, dan tidak terpisahkan.  Ini merupakan hal yang penting untuk kita pahami.

Ada orang bertanya, “Apakah Allah bisa menciptakan batu yang sangat berat sampai Dia sendiri tidak kuat untuk mengangkatnya?”  Pertanyaan ini muncul dari konsep yang keliru tentang Allah.  Ketika Allah melakukan suatu tindakan, maka semua sifat-Nya turut berperan.  Allah tidak mungkin menciptakan batu yang sangat berat sampai Dia tidak kuat mengangkatnya; sebab itu berarti dia Allah yang Mahakuasa tetapi bukan Allah yang berhikmat.  Allah tidak mungkin menciptakan monster yang sangat buas sekali, sampai Dia tidak mampu mengendalikannya, karena Dia bukan Allah yang bodoh.  Dia adalah Allah yang berkuasa sekaligus berhikmat.  Dia tidak mungkin melakukan satu hal yang melanggar salah satu dari sifat-Nya. 

Itulah bedanya Allah dari kita.  Kadangkala beberapa sifat kita begitu mendominasi kita, namun di lain waktu tindakan kita dikendalikan oleh sifat-sifat yang berbeda, sehingga orang lain melihat tindakan yang tidak konsisten dalam diri kita.  Kita juga bisa mengorbankan satu sifat kita, hanya demi kepentingan sifat yang lain.  Misalnya seorang mama yang mencintai anaknya secara berlebihan, dan tidak berani menegur dan mendisiplin anaknya ketika anaknya melakukan kesalahan.  Mama ini telah gagal untuk bertindak sesuai dengan semua sifatnya.

Manusia terbatas untuk melakukan semua sifat itu.  Tetapi Allah yang kita sembah, Allah yang benar, Allah yang kita kenal di dalam Kristus Yesus; Dia adalah Allah yang sifat-sifat-Nya sempurna, setara, dan tidak terpisahkan.  Dalam bertindak, Dia pasti melibatkan semua sifat-Nya.  Jangan berpikir bahwa Allah akan melakukan sesuatu yang menabrak salah satu dari sifat-Nya.  Dia adalah Allah yang sempurna.  Apapun tindakan-Nya, semua sesuai dengan sifat-sifat-Nya.  Kiranya sifat Allah ini menolong kita untuk mengenal Dia dengan cara yang lebih baik dan untuk hidup semakin berkenan di hadapan-Nya. Tuhan memberkati kita.