Oleh: Pdt. Hengky Tjia

Saudara yang dikasihi Tuhan, pada masa-masa di mana keadaan menjadi semakin sulit seperti hari-hari belakangan ini ketika kita harus bekerja dari rumah, belajar dari rumah dan juga pergi ibadah dari rumah tentu akan ada imbas dalam berbagai aspek kehidupan kita.  Salah satu imbas yang terbesar adalah secara ekonomi.  Jika kita mengalami kesulitan karena situasi ini dan jika kita tidak berhati-hati, maka kita akan mudah mempertanyakan atau mempersalahkan Tuhan.  Kita bisa dengan mudah bertanya “Kalau Tuhan itu baik kenapa situasi menjadi begini? Jangan-jangan Tuhan tidak ada! Karena kalau Dia ada dan Dia adalah Tuhan yang baik, seharusnya situasi tidak menjadi sesulit ini.”

Saudara, kita bisa menyampaikan banyak opini kita tentang Tuhan.  Tetapi pernahkah kita terpikir: Ketika kita mengutarakan hal-hal itu, seperti apa perasaan Tuhan?  Ketika kita salah paham kepada Tuhan, apa yang Dia rasakan?  Bagian Alkitab ini mau menunjukkan kepada kita tentang apa yang Tuhan rasakan ketika Dia disalahmengerti.  Markus 8:14-21 dibuka dengan sebuah keterangan:

Mrk 8:14  Kemudian ternyata murid-murid Yesus lupa membawa roti, hanya sebuah saja yang ada pada mereka dalam perahu. 

Kisah ini dibuka dengan sebuah keterangan: Kedua belas murid sedang berada di dalam sebuah perahu, menuju ke kota Betsaida. Persoalan muncul, mereka terlambat menyadari bahwa mereka lupa membawa roti. Hanya ada satu roti pada mereka. Bagi mereka yang hidup di jaman itu, roti adalah makanan pokok, tentulah sebuah persoalan sangat serius berlayar tanpa membawa makanan.

Berbicara tentang roti, ada dua peristiwa menarik yang dialami oleh para murid bersama Yesus dalam peristiwa-peristiwa sebelumnya, dan tahukah saudara apa peristiwa itu?  Peristiwa pertama dicatat dalam Markus 8:1-9.  Diceritakan di sana bagaimana Yesus memberi makan 4.000 orang hanya dengan 7 roti yang ada pada mereka.  Saya mengajak kita memperhatikan lebih detil latar belakangnya: Pada waktu itu ada pula orang banyak di situ yang besar jumlahnya, dan karena mereka tidak mempunyai makanan, Yesus memanggil murid-murid-Nya dan berkata:   “Hati-Ku tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak ini. Sudah tiga hari mereka mengikuti Aku dan mereka tidak mempunyai makanan.  Dan jika mereka Kusuruh pulang ke rumahnya dengan lapar, mereka akan rebah di jalan, sebab ada yang datang dari jauh.” 

Peristiwa kedua adalah kisah serupa namun tak sama yang dicatat di pasal 6:30-44 yang mencatat Yesus memberi makan sedikitnya 5.000 orang laki-laki.  Kembali saya mengajak kita melihat lebih detil latar belakang kisahnya. Markus 6:30 menceritakan, setelah serangkaian pelayanan, Yesus mengajak para murid: “Marilah ke tempat yang sunyi, supaya kita sendirian, dan beristirahatlah seketika!” Sebab memang begitu banyaknya orang yang datang dan yang pergi, sehingga makanpun mereka tidak sempat  Maka berangkatlah mereka untuk mengasingkan diri dengan perahu ke tempat yang sunyi.  Tetapi pada waktu mereka bertolak banyak orang melihat mereka dan mengetahui tujuan mereka. Dengan mengambil jalan darat segeralah datang orang dari semua kota ke tempat itu sehingga mendahului mereka.  Ketika Yesus mendarat, Ia melihat sejumlah besar orang banyak, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Lalu mulailah Ia mengajarkan banyak hal kepada mereka; dan Yesus memberi mereka makan sampai kenyang.

Kata “belas kasihan” (Yun. “splanchnizomai”.  Dibaca: splangkh-nid’-zom-ahee).  Istilah ini secara hurufiah berhubungan dengan “isi perut seseorang” dan dapat berarti “tergerak pada sanubari yang terdalam.”   Ada anggapan pada waktu itu bahwa di wilayah perutlah terletak pusat emosi atau perasaan manusia.  Gerakan dari wilayah perasaan ini mendorong seseorang untuk memikirkan dan melakukan perbuatan yang baik.  Hal ini menggambarkan emosi dan hati Tuhan Yesus yang membara dan tergerak untuk bertindak bagi kebaikan banyak orang; itulah belas kasihan (compassion).  Dengan kata lain, Tuhan Yesus bukan hanya melihat kesulitan yang dialami orang banyak; Ia seperti ikut merasakan penderitaan atau kesusahan mereka. 

Dari peristiwa-peristiwa ini kita bisa belajar, bahwa selama kita bersama Tuhan Yesus tidak ada yang perlu dikuatirkan, apapun itu. Tuhan Yesus sebenarnya begitu mengasihi kita, sehingga Dia tidak akan meninggalkan kita begitu saja. Kita diajar untuk percaya akan hal tersebut tanpa perlu ada kebimbangan ataupun keraguan. Dengan pemahaman latar belakang ini, marilah kita kembali memperhatikan nats perenungan kita.

Mrk 8:15  Lalu Yesus memperingatkan mereka, kata-Nya: “Berjaga-jagalah dan awaslah terhadap ragi orang Farisi dan ragi Herodes.” 

Saya percaya Tuhan Yesus tahu kealpaan mereka membawa roti. Tapi Tuhan Yesus justru tidak menanggapi ketiadaan roti mereka, Yesus justru memberikan sebuah pengajaran, yaitu agar para murid berhati-hati terhadap ragi orang Farisi dan ragi Herodes. Kata “memperingatkan” dalam ayat ini menunjukkan bahwa ini adalah sebuah perintah yang sangat penting dan mendesak, supaya para murid  “berjaga-jaga”, yang berarti: memperhatikan dengan saksama dan “awas”, yang artinya bersikap waspada. 

Ini adalah pesan yang sangat penting, bahwa orang percaya harus selalu waspada . . . terhadap ragi orang Farisi dan ragi Herodes. Orang Yahudi memandang ragi sebagai simbol menularnya kuasa jahat.  Rasul Paulus pernah berkata “Ragi yang sedikit membuat seluruh adonan mengembang!” Buanglah dahulu ragi yang lama itu, yaitu ragi dosa, supaya kalian menjadi seperti adonan yang baru, bersih dari ragi dosa yang lama, (1Kor 5:6-7).

Apakah ragi orang Farisi dan Herodes itu?  Di dalam Mark 8:10-13 -satu perikop sebelum kisah ini- diceritakan tentang perjumpaan Yesus dengan orang-orang Farisi. Waktu itu Yesus dan murid-murid-Nya dengan berperahu datang ke sebuah daerah bernama Dalmanuta.  Di sana Yesus disambut oleh orang-orang Farisi.  Namun mereka datang bukan untuk belajar FT, melainkan untuk bersoal jawab dengan Yesus.  Mereka datang untuk mencobai Yesus, dan meminta pada-Nya suatu tanda dari sorga.   Maka mengeluhlah Yesus dalam hati-Nya dan berkata: “Mengapa angkatan ini meminta tanda? Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kepada angkatan ini sekali-kali tidak akan diberi tanda.”   Yesus meninggalkan mereka; Yesus naik pula ke perahu dan bertolak ke seberang. (Mark 8:12-13)

Ragi itu adalah ketidakpercayaan. Daripada percaya kepada Yesus, orang Farisi lebih percaya pada aturan legalistiknya (tidak boleh menyembuhkan pada hari sabat). Daripada percaya kepada Yesus dan menanggung resiko kehilangan kekuasaaan, kaum Herodion lebih memilih bersikap antinomian (mengabaikan hukum).  Bagi mereka, kekuasaan dinasti Herodes harus diamankan, kalua perlu halalkan segala cara, termasuk penggal kepada Yohanes Pembaptis.  Baik Farisi maupun kaum Herodes sama-sama tidak mau percaya kepada Yesus, meskipun sudah melihat banyak bukti.

Mrk 8:16  Maka mereka berpikir-pikir dan seorang berkata kepada yang lain: “Itu dikatakan-Nya karena kita tidak mempunyai roti.” 

Ketika Yesus mengarahkan perhatian mereka pada bahwa ragi orang Farisi, lantas bagaimana reaksi para murid? Mereka hanya mendengar sambil lalu, seperti mendengar suara derap kuda yang baru saja lewat itu.  Mereka tidak sungguh-sungguh mendengarkan, seperti ketika mereka mendengarkan Rabi berbicara di Bait Suci.

Apa yang membuat mereka tidak dapat mendengarkan dengan saksama perintah Tuhan itu? Hanya karena masalah yang sangat sepele: lupa membawa roti, mereka gelisah karena hal itu. Dan celakanya, mereka melakukan sesuatu yang jauh lebih parah dan payah.  Ketika Tuhan bicara tentang ragi, mereka ribut soal roti.  Ketika Tuhan berkata:  “Berjaga-jagalah dan awaslah terhadap ragi orang Farisi dan ragi Herodes.“, mereka justru mempergunjingkan Yesus. mereka merasa sedang disindir oleh-Nya. 

Bagi para murid peringatan-Nya adalah sebuah nyinyir, bahwa itu dikatakan-Nya karena mereka tidak punya roti.  Karena mereka tak bisa menyajikan roti kepada-Nya.  Padahal, sebelum kisah ini, sedikitnya ada 20 peristiwa termasuk dimana mereka melihat mujizat-mujizat Yesus dan mendengar pengajaran-pengajaran Yesus. Mereka mengulangi kesalahan yang sama yang pernah dibuat Israel.  Mereka begitu cepat lupa akan kebaikan Tuhan.

Saudara, jangan berpikir, bahwa taburan mujizat dalam hidup kita akan mengibah kita jadi pribadi yang lebih baik.  Para murid ini, yang berjalan tiap hari bersama Yesus, hanya pengagum, bukan pengikut sejati.  Mereka tak beda jauh dari Farisi yang merasa diri benar dan orang lain yang salah.  Mereka tak beda jauh dari kaum Herodion, yang suka cari kambing hitam untuk disalahkan.

Mrk 8:17  Dan ketika Yesus mengetahui apa yang mereka perbincangkan, Ia berkata: “Mengapa kamu memperbincangkan soal tidak ada roti? Belum jugakah kamu faham dan mengerti? Telah degilkah hatimu? 

Jadi Yesus tahu apa yang mereka sedang persoalkan.  Yesus tahu, sama seperti Dia mengetahui ketika 5000 ribu dan 4000 orang itu butuh makan.  Yesus tahu, sama seperti Dia mengetahui ketika mereka terombang ambing di tengah lautan.  Yesus tahu, sama seperti Yesus mengetahui kemunafikan orang Farisi dan Herodian (Mark 12:15). “Mengapa kamu memperbincangkan soal tidak ada roti? Belum jugakah kamu faham dan mengerti? Telah degilkah hatimu?  Saya membayangkan Yesus mengucapkannya dengan lirih, dalam kecewa dan duka.

Dalam kisah sebelumnya dan kisah-kisah sebelumnya, kita dapat melihat reaksi Yesus terhadap orang-orang Farisi, Yesus tak segan menegur mereka “siapa bertelinga hendaklah mendengar”, atau Yesus segera meninggalkan mereka.  Ketika murid-murid-Nya menyalahpahami diri-Nya, Yesus pun kecewa dan berduka; tetapi Dia tidak angkat kaki meninggalkan murid-murid-Nya. Sebuah pelajaran yang penting, bagi setiap orang percaya, Tuhan Yesus mengasihi kita, Dia masih sabar, meski acap kita mendukakan hati-Nya. RasulPetrus kemudian berkata, seharusnya kita mengganggap kesabaran Tuhan kita sebagai kesempatan bagi kita untuk beroleh selamat (2Pet 3:15)

Mrk 8:18  Kamu mempunyai mata, tidakkah kamu melihat dan kamu mempunyai telinga, tidakkah kamu mendengar? Tidakkah kamu ingat lagi,  Mrk 8:19  pada waktu Aku memecah-mecahkan lima roti untuk lima ribu orang itu, berapa bakul penuh potongan-potongan roti kamu kumpulkan?” Jawab mereka: “Dua belas bakul.” 

Bukankah hal yang sama juga masih terjadi pada kita di masa kini?  Mata kita seringkali hanya terpaku pada “persoalan kekurangan roti”, tetapi kita tak mampu melihat Tuhan yang terus mengasihi kita, dan memelihara hidup kita.  Betapa mudah kita kecewa dan marah terhadap Tuhan, hanya karena dikecewakan oleh soal-soal manusiawi kita, padahal bukan Tuhan penyebabnya.  Bukankah kita lebih mudah terpukau pada mujizat dan berkat yang kita dapatkan, namun mengganggap sepi kehadiran Sang Empunya dan Pemberi Berkat tersebut?

Bukankah sudah banyak firman yang kita dengarkan?  Banyak perintah dan larangan yang sudah kita tahu.  Tetapi atas nama kebebasan dan hak, kita begitu mudah meninggalkan Tuhan, demi menikmati kesenangan dan kenikmatan diri.  Bukankah di tengah kesibukan/rutinitas pekerjaan ataupun pelayanan, kita suka lupa akan kebaikan dan anugerah-Nya; namun acapkali kita merasa masalah kita seolah jauh lebih besar daripada anugerah dan berkat-Nya? Tetapi melalui kisah ini kita tahu saudara, Dia tetap mengasihi kita. Dia tetap menyapa dan mengajar kita dengan lembut, Dia mengingatkan mereka dan kita kembali. Pada waktu Aku memecah-mecahkan lima roti untuk lima ribu orang itu, berapa bakul penuh potongan-potongan roti kamu kumpulkan?” Jawab mereka: “Dua belas bakul.”  Dan pada waktu tujuh roti untuk empat ribu orang itu, berapa bakul penuh potongan-potongan roti kamu kumpulkan?” Jawab mereka: “Tujuh bakul.” 

Lalu kata-Nya kepada mereka: “Masihkah kamu belum mengerti?” (Mrk 8:21).

Apa yang Yesus mau kita mengerti?  Di perahu itu, masih ada sebuah roti, yang dianggap tidak ada oleh para murid, dan di perahu itu juga masih ada satu “Roti” yang tak disadari oleh mereka: Yesus, Sang Roti Hidup. Tuhan yang mengerti kebutuhan umat-Nya.  Tuhan yang selalu berbelaskasihan kepada umat-Nya.   Tuhan yang sanggup menyelamatkan dan menolong kita.

Kesalahpahaman kita terhadap Yesus, membuat hati-Nya terluka.  Namun demikian, Dia tetap sabar dan mengasihi kita.  Dia punya rencana bagi kita, dalam segala keadaan kita.  Yesus adalah Firman yang Hidup itu.  Dia adalah Sang Kebenaran.  Biarlah kita memeluk-Nya makin makin hari makin erat mencintai firman-Nya; bukan justru memanipulasi kebenaran demi kepentingan diri. Karena kita tahu, Yesus sang Mesias sudah datang, dan memberi nyawa-Nya menjadi tebusan bagi kita dan banyak orang lainnya.  Dia sungguh mengasihi kita.  Amin