Oleh: PGI

Banyak Gereja yang menyelenggarakan Perjamuan Kudus pada hari-hari menjelang Paskah atau pada hari Paskah. Ada Gereja yang menyelenggarakannya dalam ibadah Kamis Putih atau Jumat Agung atau Minggu Paskah. Beragamnya hari penyelenggaraan Perjamuan Kudus di seputar masa raya Paskah menandai juga beragamnya teologi Perjamuan Kudus di gereja-gereja kita. Namun ada beberapa prinsip-prinsip teologis Perjamuan Kudus yang mendasar yang dapat disepakati oleh sebagian besar Gereja. Pada umumnya, Gereja percaya bahwa Perjamuan Kudus adalah pemberian Tuhan. Banyak Gereja juga mengakui bahwa penyelenggaraan Perjamuan Kudus juga didasarkan pada perintah Tuhan Yesus Kristus kepada para murid-Nya (1 Korintus 11:23-25; bnd. Matius 26:26-29; Markus 14:22-25; Lukas 22:14-20). Perjamuan Kudus juga menggambarkan peristiwa makan bersama Tuhan Yesus dengan para murid-Nya, orang-orang yang mengikuti-Nya, bahkan orang-orang yang terpinggirkan dalam tatanan sosial-religius pada waktu itu sebagaimana dikisahkan dalam kitab-kitab Injil. Oleh karena itu, sebagai wujud ketaatan pada Kristus dan untuk mengenang apa yang telah dilakukan Tuhan kita, serta sebagai ungkapan syukur dan perwujudan kesatuan tubuh Kristus, pelaksanaan Perjamuan Kudus menjadi penting dalam kehidupan berjemaat saat ini.

A. PRINSIP DASAR PERJAMUAN KUDUS

1. Perjamuan Kudus merupakan sakramen penting di dalam iman Kristen. Sakramen ini mengingatkan kita pada perjamuan terakhir yang dilakukan Yesus Kristus dan para murid. Pengenangan yang dimaksud adalah tindakan anamnesis: mengingat yang menghadirkan kembali, bukan hanya mengingat masa lampau. Gereja percaya bahwa kematian dan kebangkitan Yesus Kristus, meskipun terjadi di masa lalu, masih berdaya guna untuk menyelamatkan manusia dan seluruh ciptaan pada masa kini, bahkan hingga masa yang akan datang, sampai Tuhan datang kembali dalam kemuliaan-Nya. Dalam Perjamuan Kudus, Gereja juga percaya bahwa Yesus Kristus sendiri hadir, menyatakan diri-Nya sebagai Sang Sumber Kehidupan dalam simbol makanan dan minuman. Roti dan anggur diberikan-Nya kepada mereka masing-masing dengan menegaskan, “Inilah tubuh-Ku” dan “Inilah darah-Ku” (Mrk.14:22, 24; Mat. 26:26, 28). Terlepas dari pemahaman yang lebih khusus dari setiap Gereja anggota, iman Kristen secara dasariah meyakini bahwa sakramen Perjamuan Kudus pada dirinya tidak memberikan keselamatan, namun menunjuk pada keselamatan yang dianugerahkan oleh Allah melalui Yesus Kristus yang mati dan bangkit, yang kita terima melalui iman percaya kita. Jika melalui sakramen Baptisan Kudus kita dimasukkan ke dalam Gereja sebagai tubuh Yesus Kristus, maka sakramen Perjamuan Kudus memelihara iman kita sebagai satu tubuh.

2. Perjamuan Kudus merupakan sarana penyataan kasih dan anugerah Allah kepada umat-Nya, sekaligus penyataan rasa syukur umat kepada Allah. Meskipun ada banyak kesulitan dan kesengsaraan di dunia, kita bersyukur kepada Allah akan anugerah kehidupan. Kita berterima kasih kepada Allah yang telah menjadi manusia dalam Yesus Kristus untuk menyelamatkan ciptaan-Nya. Kita pun bersyukur atas kehadiran Allah, dalam Roh Kudus, yang terus-menerus membarui kehidupan di dunia ini. Perjamuan Kudus juga menjadi pengucapan syukur Gereja atas karya penyelamatan Allah dalam Yesus Kristus, Tuhan kita.

3. Perjamuan Kudus dirayakan oleh Gereja sebagai satu tubuh Kristus dan dalam persekutuan Roh Kudus. Sebagaimana peristiwa makan bersama biasanya mempersatukan komunitas, dalam Perjamuan Kudus Roh Kudus menyatukan umat, sebagai anggota tubuh Kristus, dengan Kristus, Sang Kepala, dan dengan umat percaya lainnya yang ada di berbagai tempat dan masa. Ikut serta dalam Perjamuan Kudus mengandaikan kehidupan berjemaat yang bersatu dalam kedamaian, saling mengasihi, mengampuni, memperhatikan, menolong, dan menanggung beban. “Karena roti adalah satu, maka kita, sekalipun banyak, adalah satu tubuh, karena kita semua mendapat bagian dalam roti yang satu itu” (1 Korintus 10:17). Ayat ini menunjukkan bahwa melalui Perjamuan Kudus, umat yang datang dengan latar belakang yang berbeda, dibentuk menjadi satu tubuh (satu persekutuan atau komunitas). Kita adalah anggota tubuh Kristus dan persekutuan Roh, entah ketika kita sendirian atau bersama-sama. Dalam situasi khusus, seperti saat ini, kita harus tetap menghayati diri sebagai anggota tubuh Kristus dan persekutuan Roh, walaupun kita tidak mungkin bersekutu secara ragawi dan langsung.

4. Perjamuan Kudus menggunakan roti dan anggur sebagai tanda yang terlihat akan keselamatan dan kehidupan yang Allah berikan melalui Yesus Kristus. Maka, Perjamuan Kudus haruslah menjadi tanda pemberian kehidupan dan bukan ancaman bagi kehidupan. Kita akan memasuki sebuah situasi yang penuh ironi, seandainya kita memaksa diri untuk melangsungkan Perjamuan Kudus, tanda pemberian kehidupan itu, dengan berkumpul bersama di gedung Gereja, yang dapat mengancam kehidupan sesama karena potensi penularan virus Covid-19. Karena itu bertentangan dengan tugas Gereja yang seharusnya memelihara kehidupan sebagai anugerah Tuhan.

B. BEBERAPA ALTERNATIF

Berdasarkan beberapa prinsip dasar di atas, maka kami memberikan beberapa alternatif atas pelaksanaan sakramen Perjamuan Kudus selama wabah Covid-19 terus berlanjut. Semua alternatif ini kami sajikan dengan menghargai kemajemukan tradisi di masing-masing Gereja anggota PGI.

1. Menunda Pelaksanaan Perjamuan Kudus

Pada malam menjelang Jumat Agung, atau pada saat Jumat Agung, atau Hari Minggu Paskah, jemaat biasanya berkumpul untuk menerima roti dan anggur. Namun dalam kondisi darurat dan krisis saat ini, umat Kristen harus tetap tinggal di rumah masing-masing dan tidak berkumpul bersama di gedung gereja. Dalam situasi seperti ini, sebaiknya pelaksanaan sakramen Perjamuan Kudus ditunda, dan dapat dilaksanakan kembali setelah wabah Covid-19 mereda.

Penundaan pelaksanaan sakramen tidaklah melanggar prinsip-prinsip teologi Kristen atau ajaran Alkitab. Misalnya, pada awal Gereja, Perjamuan Kudus biasanya dilaksanakan seminggu sekali, tetapi seiring perkembangan waktu, gereja-gereja menjadi lebih terbiasa melaksanakannya sebulan sekali atau tiga bulan sekali. Contoh lain, walaupun John Calvin lebih menginginkan Perjamuan Kudus dilakukan seminggu sekali, tetapi Gereja di Jenewa yang digembalakannya melaksanakan sakramen ini tiga bulan sekali. Gereja-gereja yang melaksanakan Perjamuan Kudus sebulan sekali juga sangat lazim menunda pelaksanaan Perjamuan Kudus di gereja-gereja cabang mereka yang belum memiliki pendeta, dan tidak jarang Perjamuan Kudus di Gereja cabang dilaksanakan tiga bulan sekali. Demikian pula dengan Perjamuan Kudus yang biasanya dilaksanakan pada hari Jumat Agung atau hari Paskah dapat ditiadakan pada tahun ini. Akan tetapi, biarlah kita tetap berada di rumah masing-masing untuk mengenang kematian Tuhan Yesus yang menebus kita, merayakan kebangkitan Tuhan Yesus yang memberi kita kehidupan, dan mengharapkan kedatangan-Nya kelak untuk membarui segala sesuatu.

2. Melaksanakan Perjamuan Kudus di Rumah Masing-masing

Jemaat Kristen mula-mula bersekutu di rumah-rumah untuk berdoa dan memecahkan roti (Kis 2:42, 46). Mengacu pada tradisi purba ini, gereja-gereja dapat mempertimbangkan pelaksanaan Perjamuan Kudus dan/atau perjamuan kasih dalam ibadah di rumah:

a) Sebagai ganti Perjamuan Kudus, keluarga dapat melaksanakan perjamuan kasih di rumah untuk mensyukuri pengorbanan Kristus. Seperti tubuh Kristus yang dibagi-bagi untuk dunia, momen perjamuan kasih ini dapat dijadikan kesempatan untuk berbagi dengan mendukung pelayanan kasih (diakonia).

b) Beberapa Gereja telah mempraktikkan sakramen Baptisan Kudus darurat oleh penatua atau warga sidi berdasarkan pemahaman bahwa semua orang percaya adalah imam di hadapan Allah (1Ptr. 2:9), sehingga dalam kondisi darurat dapat melaksanakan pelayanan yang lazimnya dilakukan oleh pendeta atau pelayan tahbisan. Berdasarkan tradisi ini, dapat pula dipertimbangkan model Perjamuan Kudus yang dilayankan oleh warga non-tahbisan yang sudah naik sidi dengan kewenangan yang diberikan oleh Gereja. Dalam hal ini, sinode masing-masing menyiapkan liturgi khusus untuk model ini.

c) Alternatif lainnya adalah melaksanakan perjamuan kasih di rumah, yang dilayani oleh kepala keluarga atau warga sidi yang ditunjuk atas nama keluarga. Roti dan anggur Perjamuan Kudus yang disediakan Gereja dan dilayankan oleh pendeta atau pelayan tahbisan dibagikan kepada keluarga-keluarga yang melaksanakan ibadah sesuai dengan liturgi yang disediakan oleh sinode masing-masing.

d) Di era digital atau online, pilihan lainnya adalah kehadiran pemimpin ibadah secara virtual membacakan formula konsekrasi bagi jemaat yang bersekutu bersama-sama di ruang virtual yang sama, menyiapkan roti dan anggurnya di rumah, dan menikmati Perjamuan Kudus bersama. Perjamuan Kudus dilakukan dengan cara jemaat (bersama keluarga inti/serumah) menyiapkan secara mandiri roti dan anggur/minuman warna merah lambang darah Yesus di rumah masing yg akan dipimpin oleh pendeta secara live streaming atau online. Jika jemaat kesulitan untuk memperoleh anggur dan roti karena keadaan darurat ini dapat digantikan air teh dan roti/kue sebagai lambang darah dan tubuh Tuhan Yesus.

3. Perjamuan Kudus secara Spiritual (Spiritual Communion)

Pada masa persekusi, saat umat Kristen tidak bisa bersekutu, praktik Perjamuan Kudus secara Spiritual menjadi pilihan. Thomas Aquinas menyatakan bahwa Perjamuan Kudus secara Spiritual adalah keinginan kuat untuk menerima Kristus dalam Perjamuan Kudus dan sebuah cinta yang merangkul kita seolah kita sendiri telah menerima-Nya. Dalam praktik ini, kasih Allah memenuhi kerinduan yang sangat besar akan Perjamuan Kudus melampaui syarat kehadiran ragawi. Momen ini dapat disiapkan dalam liturgi, seperti yang ditegaskan oleh Bapa Gereja Augustinus, “Percayalah, dan engkau sudah menerimanya.” Pilihan ini bisa mengisi kerinduan umat sampai Perjamuan Kudus secara ragawi sudah dimungkinkan kembali.

Disusun oleh Komisi Teologi dan Liturgi PGI


Pesan-Paskah-2020-final