Ada sebuah tindakan yang dituntut, seusai kita mendengar pemberitaan Injil (band. Kis. 16:25-34).  Kepala penjara Filipi juga bertanya kepada Paulus dan Silas, “Apa yang harus aku lakukan?” Mereka menjawab, “Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu.” (Kis. 16:25-34).  Jadi ada sebuah respon yang dituntut ketika orang mendengarkan Injil.  Apa yang seharusnya menjadi respon kita terhadap Injil?

Pertama, akuilah.  Mengetahui bahwa kita berdosa itu berbeda dengan mengakui bahwa kita berdosa. Kadangkala seseorang tahu bahwa ia berdosa, tetapi ia berusaha untuk membenarkan dirinya.  Dia berusaha untuk menutupi dosanya.  Tahu tentang dosa bukan berarti mengakui dosa.  Ini merupakan langkah yang sangat sulit, karena natur keberdosaan dan kejatuhan kita ke dalam dosa, telah membuat kita menjadi sombong.  Bahkan untuk perbuatan kita yang jelas-jelas salah pun, kita sangat sulit untuk mengakuinya.

Injil seharusnya direponi bukan hanya dengan “mengetahui”, tetapi juga dengan “mengakui” dosa-dosa kita.  Akuilah, katakan di hadapan Tuhan, “Tuhan aku orang yang berdosa. Aku melanggar firman-Mu. Aku tidak bisa hidup sesuai dengan tuntutan-Mu”.  Akui, sebab tanpa pengakuan, kita tidak bisa melangkah pada tahap selanjutnya.  Akui dosa-dosamu.

Kedua, percayalah. Selain mengakui dosa-dosa kita, kita juga perlu mempercayai apa yang telah dilakukan oleh Yesus Kristus bagi kita.  Sebab jika kita berhenti hanya pada “mengakui dosa- dosa” saja, maka hidup kita akan terpuruk dalam keputusasaan dan kesia-siaan.  Kita mengakui bahwa kita orang berdosa dan tidak dapat menyelesaikan dosa kita sendiri.  Setelah itu kita harus melangkah ke tahap berikutnya, yaitu percaya, bahwa apa yang tidak mungkin kita lakukan, telah dilakukan oleh Yesus Kristus. Kita harus percaya bahwa Yesus Kristus memberikan nyawa-Nya untuk kita.  Kita harus percaya bahwa kita adalah salah satu dari yang hilang, yang Yesus cari dan rindu untuk Dia selamatkan.

Sekadar tahu dan percaya bahwa Yesus mati dan bangkit tidak akan menjadi kuasa yang mengubahkan dalam hidup kita.  Jadi jangan berhenti hanya pada percaya bahwa Yesus mati dan bangkit, tetapi percaya bahwa Yesus mati dan bangkit bagi kita.

Ketiga, terimalah.  Kita perlu menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat kita.  Dalam Roma 10:10 tertulis, “Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan.”  Percaya apa?  Percaya bahwa Yesus adalah Tuhan.  Ini bukan sekadar percaya, tapi kita menerima Dia sebagai Tuhan dalam hidup kita.  Kita percaya bahwa Dia yang berdaulat dalam hidup kita.  Kita percaya bahwa Dialah yang berhak untuk mengatur hidup kita. 

Sama seperti yang Paulus katakan, “Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku”. (Gal. 2:20).  Jadi bukan sekadar mengakui dosa kita.  Bukan sekadar percaya bahwa apa yang tidak mampu kita lakukan telah dilakukan oleh Yesus bagi kita.  Tetapi menerima Dia di dalam hati kita.  Menerima Yesus Kristus sebagai Juruselamat kita satu-satunya. Menerima Dia sebagai Tuhan yang berhak mengatur seluruh hidup kita.

Ketika kita menerima Dia sebagai Tuhan, maka kita tahu, bahwa itu akan mengubah banyak hal dalam hidup kita.  Tujuan hidup kita berubah. Nilai hidup kita berubah.  Kontrol di dalam hidup kita juga berubah.  Segala sesuatu dalam hidup kita berubah, ketika kita menerima Yesus sebagai Tuhan yang berhak mengatur dan mengontrol hidup kita.  Tuhan memberkati kita. Amin.