Oleh: Ev. Nita Gotib

Shalom! Kita sungguh membutuhkan shalom atau damai sejahtera, di tengah serbuan kabar menakutkan dan situasi mencekam belakangan ini.  Apa sebenarnya kita takutkan dalam situasi ini di tengah-tengah wabah Covid-19 ini? Penderitaan dan kematian!  Kita juga merasa takut kehilangan orang-orang yang kita kasihi akibat terpapar virus ini. Kematian, bagaimanapun caranya, entah cara yang baik (karena usia), sakit penyakit, kecelakaan, adalah ketakutan terbesar umat manusia.

Alkitab mengatakan DOSA-lah yang menjadi penyebab penderitaan dan kematian manusia. Ironisnya, manusia takut virus dan kuman, tapi tidak takut berdosa. Ada netizen yang berkomentar demikian: “Mudah-mudahan wabah ini menjadi penghapus dosa manusia”. Pandangan ini adalah pandangan sebagian besar agama dunia; tetapi Alkitab mengajarkan kita bahwa tidak ada satu pun upaya yang bisa dilakukan manusia, sepintar dan sebijaksana apa pun dia, untuk menyelesaikan masalah penderitaan dan kematian di dunia ini.

Itu sebabnya jalan keluar harus dari Allah sendiri. Dia yang turun tangan untuk menyelesaikan masalah dosa. Jika dosa bukanlah masalah serius, Tuhan Yesus tidak perlu datang ke dalam dunia untuk menyelesaikannya. Tetapi karena dosa benar-benar serius, maka Tuhan Yesus harus datang untuk menyelesaikannya dan membayarnya di kayu salib. Ini satu-satunya cara untuk menyelesaikan masalah dosa manusia. Tidak berhenti di kematian, Dia bangkit mengalahkan kematian dan memberikan pengharapan besar terhadap ketakutan terbesar manusia, yaitu kematian.

Kematian Kristus memberikan sukacita dalam pengampunan. Kebangkitan Kristus memberikan sukacita dalam pengharapan, untuk hidup sekarang ini, untuk hidup di masa akan datang, dan hidup setelah kematian. Kedatangan Kristus kedua kali memberikan sukacita dalam kemuliaan.

Peristiwa kematian dan kebangkitan Kristus merupakan dua peristiwa yang tidak bisa dilepaskan satu dengan yang lain. Tanpa kematian, tidak ada kebangkitan; tanpa kebangkitan, kematian menghancurkan harapan. Jika Yesus tidak bangkit, maka bukan hanya iman kita menjadi sia-sia, tetapi kematian Yesus pun menjadi sia-sia. Dengan kebangkitan Kristus, inilah menjadi pengharapan terbesar kita, dan ini menjadi pondasi terkuat iman Kristen saudara dan saya, yang tidak akan pernah digoyahkan oleh apapun, bahkan penderitaan dan kematian sekali pun.

Kematian dan kebangkitan Yesus Kristus tidak mengatur ulang (reset) kehidupan manusia menjadi seperti saat manusia belum jatuh dalam dosa. Sejarah tetap berjalan, kehidupan tetap seperti biasa, penderitaan dan kematian tetap mewarnai kehidupan. Setelah kebangkitan Tuhan Yesus, bangsa Israel (Yahudi) tetap dalam penjajahan Romawi. Tidak ada yang berubah. Sebagian besar mereka tetap miskin dan menderita di bawah tekanan Romawi.

Tetapi ada yang berubah di dalam dimensi rohani yang mengguncangkan dunia, mulai dari Yerusalem hingga seluruh dunia sampai sekarang. Kematian dan kebangkitan Yesus bukan hanya menjadi peristiwa sejarah saja, tetapi memiliki kuasa yang mengubahkan setiap pribadi yang mengalami kuasa kebangkitan Kristus.

Hal ini sangat terlihat dari perubahan drastis dalam diri murid-murid Tuhan Yesus, yang kurang berpendidikan dan begitu takut saat penangkapan dan penyaliban Yesus. Saat itu, mereka juga ‘di rumah aja’ dan ‘jaga jarak’, tetapi bukan karena virus, melainkan karena takut ditangkap. Tetapi kemudian mereka mampu mengguncangkan kekaisaran Romawi dan sekitarnya dengan berita Injil yang penuh kuasa. Kuasa yang sama yang juga mengubahkan seorang penganiaya jemaat pengikut Kristus menjadi seorang yang dianiaya karena memberitakan kematian dan kebangkitan Kristus, Rasul Paulus.

Kuasa yang mengubahkan Saulus menjadi Paulus ini menjadi berita yang sangat penting, yang terus Paulus beritakan sepanjang hidupnya: “Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci, bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci.” (1Kor 15:3-4).

Pada waktu itu di antara jemaat Korintus ada yang tidak percaya kepada kebangkitan orang mati (1Kor 15:3-4). Hal ini disebabkan latar belakang pemikiran mereka yang menganggap tubuh ini adalah sesuatu yang jahat. Bagi mereka “Kebahagiaan sejati diperoleh pada saat jiwa ini dilepaskan dari tubuh (mati).” Lalu mengapa lagi kebangkitan orang mati dan kebangkitan tubuh?”

Rasul Paulus mengkonfrontasi pandangan mereka dengan berkata: “Jika tidak ada kebangkitan orang mati, maka Kristus juga tidak bangkit. Jika Kristus tidak bangkit, imanmu tidak ada gunanya, sia-sia, [hanya jadi bahan tertawaan karena percaya kepada orang yang mati disalib. Suatu kebodohan]. Dan yang lebih celaka lagi, kita masih di dalam dosa dan akan binasa.” (15:20) “Tetapi yang benar ialah, bahwa Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung (pertama) dari orang-orang yang telah meninggal.”

Inilah kabar terbaik yang perlu didengarkan oleh dunia ini: Kristus telah mati sebagai korban penebusan dan pengampunan dosa-dosa kita, dan Kristus telah bangkit mengalahkan kematian, sehingga memberikan pengharapan dan kepastian keselamatan bagi setiap yang percaya kepada-Nya. Kemenangan terbesar bukanlah saat dunia ini dipulihkan dari Covid-19 dan dipulihkan secara ekonomi, saat akhirnya semua bisa kembali berjalan normal (walaupun ini semua harapan kita). Kristus telah mengalahkan kuasa dosa dan kuasa maut. Kematian dan kebangkitan Kristus memberikan pengharapan bahwa hidup ini memiliki makna kekal yang tidak akan berakhir dalam kebinasaan kekal.

Inilah kuasa kebangkitan yang mengubahkan hidup, yang dialami oleh orang-orang tebusan Kristus. Paulus menjelaskan hal itu di dalam Filipi 3:4b-11. Apa yang berubah dalam diri Paulus setelah mengalami kuasa kebangkitan Kristus? Tujuan dan nilai hidupnya!

Dulu sebelum dia mengenal Kristus, Paulus sangat bangga dengan dirinya (5-6). Secara darah, dia adalah bangsa Israel, umat pilihan Tuhan, orang Ibrani asli. Bukan hanya seorang Israel asli, dia juga seorang Farisi. Menjadi orang Farisi bukanlah hal yang sembarangan. Ada banyak kelompok religius pada waktu itu, tetapi kelompok Farisi memiliki pengaruh terbesar di masyarakat. Mereka terkenal sebagai golongan yang paling setia dan ketat dalam memelihara Hukum Taurat.

Tetapi semua kebanggaan dirinya dahulu, kini dianggapnya sampah (kotoran manusia) setelah Paulus mengenal Kristus. Mengapa? Karena pengenalannya akan Kristus Yesus lebih mulia daripada semuanya itu (ay. 8). Sehingga tujuan hidup Paulus berubah menjadi “Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya . . .” (ay.10).

Lalu apakah berarti pencapaian dan prestasi kita selama di dunia ini menjadi tidak berarti sama sekali? Apakah kecerdasan, pendidikan, harta, keberhasilan kita benar-benar adalah sampah yang tidak ada gunanya? Tentu bukan ini maksud Paulus. Apa yang Paulus sampahkan di sini adalah kebanggaan dirinya sendiri, sehingga membuat hidupnya hanya berpusat untuk dirinya sendiri. Saat dia berhasil melakukannya, dia merasa hidupnya berarti. Dia merasa diri lebih sukses daripada orang lain. Bukankah ini yang dikejar oleh banyak manusia di dunia ini? Kebanggaan diri. Hidup yang berpusat pada diri sendiri.

Kita percaya semua yang terjadi saat ini adalah dalam kedaulatan Allah, tidak ada yang terjadi secara kebetulan. Melalui keadaan sekarang, kita melihat bahwa Allah menghempaskan/ membuang semua kebanggaan manusia. Rutinitas dunia dihentikan. Rencana-rencana manusia diubah. Kebergantungan manusia kepada kestabilan ekonomi diambil. Kita semua seperti dipaksa masuk dalam masa perhentian yang sangat panjang dan entah kapan akan berakhir. Hingga akhirnya kita benar-benar mengakui: “Tuhan, tidak ada yang bisa kuandalkan di dunia ini. Hanya Engkau saja.”

Kita semua diarahkan dan diingatkan bahwa kita memang tidak lama di dunia, hanya sementara, karena kita semua akan menuju kepada yang kekal. Lalu untuk apa hidupku? Untuk apa semua usaha dan pencapaianku selama di dunia ini? Apakah semua ini bisa memberi dampak bagi kekekalan? Ya! Inilah yang dimaksud kuasa kebangkitan yang mengubahkan hidup orang-orang percaya. Mengubahkan nilai hidup, mengubah tujuan hidup, dan mengubahkan cara pandang kehidupan kita.

Latar belakang Paulus sebagai orang Israel dan Farisi yang sangat cerdas, bukan lagi menjadi kebanggaan dirinya, tetapi menjadi bagian dari rencana Tuhan di dalam hidupnya bagi Kerajaan Allah. Melalui Paulusl-ah, Tuhan mempertajam pengajaran/ doktrin kekristenan yang kokoh. Setengah dari PB ditulis oleh Paulus melalui ilham Roh Kudus.

Setiap detail dalam hidup kita adalah bagian dari rencana Allah. Ada sesuatu yang berbeda dalam hidup kita karena karya Kristus. Dulu kita adalah budak dosa. Setelah dalam Kristus, kita adalah hamba kebenaran. Bukan berarti kita tidak bisa jatuh lagi. Tetapi saat jatuh, kita bangun lagi, bangkit lagi, karena kuasa kemenangan Kristus. Di dalam Kristus, kita makin peka dengan dosa dan kehendak Allah. Bagaimana pun keadaan kita sekarang; kita tahu ada Allah sendiri sedang menyusunnya menjadi sebuah karya yang indah, untuk kemuliaan-Nya, bukan untuk “aku”.

Di dalam terang salib Kristus dan kubur yang kosong, hidup kita bukan lagi tentang kita sendiri, karena hidup kita telah ditebus oleh Kristus dan telah mengalami kuasa kebangkitan. Hidup kita sekarang adalah tentang kemuliaan Kristus. Maka, saat ini, bahkan saat kita “di rumah saja’ entah sampai kapan, jangan berpikir kita tidak bisa melakukan apa-apa. Ingatlah akan pergumulan dan kebutuhan ekonomi orang-orang di sekitar kita pada masa-masa ini. Libatkan diri dalam gerakan-gerakan kemanusiaan dan kepedulian. Anak-anak Tuhan, jangan tinggal diam.

Ini juga menjadi saat yang tepat untuk menggumulkan apa rencana Tuhan yang Tuhan ingin kita lakukan setelah wabah ini berlalu. Karena hidup dalam Kristus bukanlah tentang saya, tetapi tentang Kristus yang mengasihiku dan telah menyelamatkan aku.

Hari ini kita merayakan Paskah dalam kondisi yang tidak biasa, tidak ada perayaan seperti biasa, tidak ada jabatan tangan seperti biasa, tidak ada telur Paskah dan bunga-bunga yang ditancapkan di salib gereja seperti biasanya, tetapi ada yang luar biasa yg selalu menjadi kekuatan dan pengharapan bagi orang-orang percaya, yaitu karya keselamatan dan kemenangan terbesar dan luar biasa yang telah dilakukan oleh Tuhan Yesus Kristus.

Paskah mengingatkan kita bahwa tidak ada satupun di dunia ini yang dapat memisahkan kita dari kasih Allah; entah itu kekuatiran, ketakutan, penderitaan, sakit penyakit, bahkan kematian sekalipun. Kristus mengasihi kita dengan kasih yang sempurna. Itu telah Dia buktikan dengan memberikan diri-Nya sendiri sebagai korban pengampunan dosa. Dia tetap setia dan memelihara kita, bagaimanapun keadaan kita saat ini.

Semakin kita merenungkan kasih Allah, semakin kita menghargai pengorbanan-Nya, semakin kita mengimani kemenangan-Nya; maka semakin kita hidup tidak lagi untuk diri kita sendiri, tetapi untuk Kristus, Sang Penebus kita. Selamat Paskah! Selamat mengabdi kepada Kristus!