Oleh: Pdt. Yakub Tri Handoko

Dalam sesi yang lalu kita sudah belajar bahwa semua manusia berbuat dosa. Hari ini kita akan belajar sebuah pertanyaan yang lain, yang masih berkaitan dengan dosa: Apakah semua dosa sama? Dalam taraf tertentu kita harus mengatakan bahwa semua dosa memiliki kesamaan, yaitu sama-sama membuat manusia terpisah dari Tuhan, merusak dan mengganggu relasi antara Tuhan dengan manusia. Hal ini dicatat Nabi Yesaya 59:2 ketika sang nabi berkata bahwa yang menjadi pemisah antara umat Allah dengan Allah adalah dosa-dosa mereka. Dalam taraf tertentu, dosa memiliki kesamaan yaitu sama-sama mengganggu dan merusak relasi kita dengan Allah. Dosa juga sama-sama membawa kepada maut. Di dalam Roma 3:23 dikatakan “sebab semua orang telah berbuat dosa dan kehilangan kemuliaan Allah”, lalu dalam Roma 6:23 dikatakan, “sebab upah dosa adalah maut”. Jadi semua orang telah berbuat dosa, sehingga semua orang juga berada di bawah ancaman maut. Dalam taraf tertentu, sekali lagi, dosa memiliki kesamaan, yaitu sama-sama merusak relasi dengan Allah dan sama-sama mendatangkan hukuman Allah.

Tetapi kalau kita membaca Alkitab dengan lebih teliti, maka kita juga menemukan, ternyata tidak semua dosa itu sama. Alkitab mencatat misalnya di dalam 1Yohanes 5:16-18, di sana Yohanes menyinggung tentang dosa-dosa yang mendatangkan maut dan dosa-dosa yang tidak mendatangkan maut. Terlepas dari bagaimana kita memahami definisi masing-masing dosa ini, kita bisa langsung merasakan bahwa ada sesuatu yang berbeda. Ada dosa tertentu yang mendatangkan maut dan ada yang tidak mendatangkan maut. Dalam penafsiran saya, saya membedakannya berdasarkan dosa menolak doktrin-doktrin dasar di dalam kekristenan. Kalau ada orang yang menyangkali Yesus sebagai Anak Allah atau menyangkali Yesus datang sebagai manusia; maka itu termasuk kategori dosa yang mendatangkan maut, karena orang itu belum diselamatkan.

Kemudian di dalam Yohanes 19:11, ketika Tuhan Yesus diinterogasi oleh Pilatus atau saya lebih suka membaliknya, Pilatus sedang diinterogasi oleh Tuhan Yesus, maka Tuhan Yesus mengatakan kepada Pilatus: “Engkau tidak mempunyai kuasa apapun terhadap Aku, jikalau kuasa itu tidak diberikan kepadamu dari atas. Sebab itu: dia, yang menyerahkan Aku kepadamu, lebih besar dosanya.” Hal ini berarti tua-tua Yahudi, para pemuka agama Yahudi, yang menyerahkan Tuhan Yesus, berdosa lebih besar dan lebih serius daripada Pilatus yang mengijinkan dan memberikan perintah kepada orang banyak untuk menyalibkan Tuhan Yesus.

Dalam Roma 1:32, Rasul Paulus berbicara tentang mereka yang bukan hanya melakukan, tetapi mereka juga menyetujui dan memberikan pembelaan secara konseptual terhadap orang lain yang melakukannya. Rasul Paulus memandang: menyetujui dan melakukan suatu dosa lebih berat hukumannya daripada hanya melakukannya. Pada saat seseorang melakukan dosa, ada godaan dan tekanan yang membuat dia jatuh, walaupun ia mungkin menolak dosa itu. Walaupun ia menggangap bahwa itu dosa, tapi karena tekanannya begitu berat sehingga ia tidak berkuasa melawan. Lain halnya dengan orang yang menyetujui, artinya tanpa tekanan ataupun godaan pun, dia menyetujui; ketika godaan dosa datang, dia pasti akan melakukannya.

Setidaknya ada tiga faktor/kriteria yang membuat dosa itu bisa lebih besar atau lebih kecil daripada yang lainnya. Pertama, Alkitab membedakan hukuman dosa berdasarkan faktor kesengajaan. Di dalam Keluaran 21:12-13 Alkitab mencatat tentang berbagai macam pembunuhan, salah satunya adalah pembunuhan yang tidak disengaja. Kalau pembunuhan itu dilakukan secara tidak disengaja, maka orang itu diberi kesempatan lari menuju kota-kota perlindungan, supaya dia tidak dibunuh oleh keluarga korban pembunuhannya. Hal ini berarti Tuhan membedakan antara pembunuhan yang disengaja dengan pembunuhan yang tidak disengaja. Tuhan juga membedakan pembunuhan yang dilakukan atas dasar dendam, dan atas dasar kecelakaan.

Kedua, Alkitab juga membedakan hukuman dosa berdasarkan faktor pengetahuan terhadap kebenaran. Orang yang tahu (kebenaran) namun tidak melakukannya; berdosa lebih besar daripada orang yang tidak tahu (kebenaran) dan tidak melakukannya. Hal ini dengan jelas diajarkan oleh Tuhan Yesus dalam perumpaman dua hamba yang sama-sama tidak melakukan keinginan tuannya (Lukas 12:47-48). Hamba yang satu menerima lebih banyak pukulan, karena dia tahu keinginan tuannya tetapi tidak melakukan. Hamba yang satunya tidak tahu, itu sebabnya dia tidak melakukan keinginan tuannya. Hal ini berarti tahu dan tidak tahu, menentukan apakah orang itu akan dihakimi secara lebih serius atau tidak.

Ketiga, Alkitab juga membedakan hukuman dosa berdasarkan durasi kejahatan/ terus menerus dilakukan atau tidak. Dengan kata lain, Alitab juga membedakan hukuman dosa berdasarkan durasi dosa. Roma 2:5 mengatakan, “mereka yang tidak mau bertobat, mereka menimbun murka Allah”. Semakin lama dosa dilakukan, maka semakin berat hukuman Allah atas dosa itu.

Dari penjelasan di atas, kita tahu bahwa dosa memiliki kesamaan, yaitu merusak hubungan kita dan membuat kita berada di bawah hukuman Allah. Tetapi kita juga tahu, bahwa tidak semua dosa sama. Ada hal tertentu yang dipandang Allah yang membuat dosa menjadi lebih serius. Karena itu berhati-hatilah dengan hidup saudara dan saya. Jagalah kesucian. Tuhan memberkati kita. Amin