Oleh: Pdt. Yakub Tri Handoko

Hari ini kita akan membicarakan sifat Allah yang lain, yaitu kekekalan.  Allah adalah kekal.  Tetapi apa artinya Allah adalah kekal?  Sifat kekal Allah berarti bahwa Allah tidak memiliki awal dan akhir.  Dari mulanya Dia sudah ada dan Dia tidak memiliki akhir.  Dalam Wahyu 1:8, dikatakan, “Aku adalah Alfa dan Omega, firman Tuhan Allah, yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang, Yang Mahakuasa.”  Alfa adalah huruf pertama dalam bahasa Yunani dan Omega adalah huruf yang terakhir dalam alfabet Yunani.  Allah adalah alfa dan omega, berarti Dia adalah awal dan akhir, Dia tidak pernah tidak ada, atau dengan kata lain, Dia selalu ada, dan akan terus menerus ada. 

Dalam Keluaran 3:14, “Firman Allah kepada Musa: “AKU ADALAH AKU . . . “.  Secara umum hal ini berarti bahwa Allah terus menerus ada.  Dulu, sekarang dan sampai selama-lamanya Dia tetaplah Dia.  Dalam perdebatan-Nya dengan orang Yahudi, yang dicatat dalamYohanes 8:58, Tuhan Yesus berkata: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sebelum Abraham jadi, Aku telah ada.”  Dalam bahasa Yunani lebih jelas lagi, dikatakan yaitu “sebelum Abraham menjadi ada, Aku selalu ada”.  Yesus bukan hanya sudah ada sebelum Abraham, tetapi Yesus selalu ada.  Allah kekal berarti bahwa tidak ada awal dan tidak ada akhir.

Aspek lainnya dari Allah kekal adalah Dia tidak terikat oleh urutan waktu pada diri-Nya sendiri.  Dalam Mazmur 90:4 “Sebab di mata-Mu seribu tahun sama seperti hari kemarin, apabila berlalu, atau seperti suatu giliran jaga di waktu malam.” Atau dalam 2Petrus 3:8 dikatakan, “bahwa di hadapan Tuhan satu hari sama seperti seribu tahun dan seribu tahun sama seperti satu hari.”  Dengan kata lain, Allah tidak terikat oleh waktu.  Waktu memiliki permulaan dan akhir, namun Allah tidak mengenal permulaan dan akhir karena Dia sendirilah yang awal dan akhir.  Berkaitan dengan sifat Allah yang kekal ini, saya ingin menyinggung dua hal penting yang sering digumulkan oleh orang-orang Kristen.

Pertama, konsep tentang “waktu” di dalam kekekalan berbeda dengan di dalam sejarah.  Pengertian “waktu” di dalam kekekalan berbeda dengan pengertian kita sekarang.  Kita seringkali berpikir di dalam konteks ruang dan waktu.  Sangat sulit bagi kita untuk bisa memahami sesuatu tanpa ruang dan waktu. Tetapi kitab Wahyu memberitahu kita, bahwa di surga tidak ada matahari dan bulan, tidak ada siang dan malam; jadi di sana “waktu akan terus ada”, tetapi bukan “waktu” seperti yang biasanya kita pahami.  Meskipun di surga tidak ada matahari dan bulan, tidak ada siang dan malam; tetapi kita bisa memahami bahwa di surga ada “waktu” dalam pemahaman sebagai berikut:  Dalam Kitab Wahyu dituliskan bahwa di surga para malaikat akan memuji Tuhan.  Jika ada puji-pujian berarti ada ketukan atau irama 4/4, 3/4 dsb.  Juga dituliskan bahwa para tua-tua yang memuji Allah lalu mereka tersungkur.  Hal ini menunjukkan adanya beberapa rangkaian peristiwa, dan itu selalu terjadi dalam kronologi urutan waktu.

Namun yang harus kita pahami, waktu di dalam kekekalan itu berbeda dengan waktu seperti di dunia ini.  Beberapa orang lebih suka mengatakan bahwa kekekalan itu ketidakberwaktuan.  Bukan berarti waktu yang terus menerus ada selama-lamanya, tetapi ketidakberwaktuan.  Konsep ketidakberwaktuan ini sulit untuk manusia, sehingga Alkitab seringkali memakai kata “selama-lamanya”, seolah-olah mengandung urutan waktu yang tidak pernah putus, tetapi itu mungkin bahasa untuk kita yang tinggal dalam masa sekarang ini.  Kekekalan lebih tepat kita pahami sebagai “ketidakberwaktuan”.

Kedua, walaupun Allah tidak terikat oleh waktu namun Allah bekerja di dalam waktu.  Allah kita adalah Allah yang historis; bukan Allah yang abstrak ataupun teoritis, bukan juga Allah yang jauh di sana dan tidak bersentuhan dengan manusia.  Allah kita adalah Allah yang berkarya secara nyata di dalam sejarah, karena itu Allah bekerja di dalam waktu.  Di dalam Galatia 4:4-5 “Tetapi setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya,  . . .”  Dikatakan “setelah genap waktunya”, karena Allah bekerja merencanakan segala sesuatu dan Dia mengerjakannya di dalam waktu.  Walaupun Dia merencanakan di luar waktu, yaitu di kekekalan, tetapi Dia mengeksekusi atau merealisasikan rencana kekal-Nya itu di dalam waktu.  Ketika Allah bekerja di dalam waktu, bukan berarti Dia terikat oleh waktu; tetapi di dalam anugerah-Nya, Dia menjumpai kita dalam keterbatasan waktu, dan itulah indahnya Allah kita.

Allah yang kekal itu, yang tidak berawal dan akhir, yang tidak terikat pada urutan waktu; tetapi karena kasih-Nya yang besar kepada kita, maka Ia telah bekerja di dalam waktu, supaya kelak kita bisa menikmati kekekalan yang tidak berwaktu.  Kiranya sifat Allah ini menghibur kita untuk terus bersandar kepada Tuhan dan terus menyerahkan diri kita ke dalam tangan Tuhan.  Karena Dialah empunya masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang. Tuhan memberkati kita.