Oleh: Pdt. Yakub Tri Handoko

Hari ini kita masih membicarakan tentang sifat Allah.  Ketidakberubahan (unchangeableness, immutability) adalah sifat yang hanya dimiliki oleh Allah dan tidak dibagikan kepada ciptaan.  Allah tidak bisa berubah, karena jika kita bicara tentang perubahan, maka kita berbicara tentang sesuatu yang sudah sempurna, yang berubah menjadi kurang sempurna.  Atau, sesuatu yang belum sempurna, menjadi lebih baik dan kemudian menjadi sempurna; Allah juga tidak bisa seperti itu.  Ketidakberubahan merupakan sifat hakiki dari Allah.  Dia tidak bisa menjadi lebih dan Dia tidak bisa menjadi kurang, karena memang Dia sudah sempurna dari awal.  Apa saja yang tidak berubah dalam diri Allah? 

Keberadaan Allah tidak berubah.  Mazmur 102:27-28, berkata “. . . . Engkau tetap ada, dan semuanya itu akan menjadi usang seperti pakaian, seperti jubah Engkau akan mengubah mereka, dan mereka berubah; tetapi Engkau tetap sama, dan tahun-tahun-Mu tidak berkesudahan.”  Dari kekal sampai kekal Dia selalu ada, Dia tidak pernah menjadi ada seolah-olah sebelumnya Dia tidak ada, tetapi Dia selalu dan terus menerus ada.  Kebaikan Allah juga tidak pernah berubah.  Dalam Yakobus 1:17 dikatakan, “Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas,  diturunkan dari Bapa segala terang; pada-Nya tidak ada perubahan atau bayangan karena pertukaran.”  Maksudnya, kebaikan Allah sudah sedemikian sempurna dan Allah terus menerus baik.  Dia tidak bisa menjadi lebih baik, atau kurang baik, atau tidak baik.  Tidak seperti matahari yang masih terikat oleh waktu sehingga bisa menimbulkan bayangannya di siang hari, tetapi Allah terus menerus baik.  Allah tidak bisa berubah, baik dalam keberadaan-Nya dan kebaikan-Nya,

Allah juga tidak bisa berubah di dalam tujuan-Nya.  Mazmur 33:11 mengatakan, “Rencana TUHAN tetap selama-lamanya, rancangan hati-Nya turun-temurun”  Allah merencanakan segala sesuatu sejak kekekalan seperti yang  Efesus 1 katakan dan apa yang Allah sudah rencanakan sejak kekekalan akan terus ada turun temurun, apa yang Allah rencanakan akan tetap ada untuk selama-lamanya.  Janji-janji Allah pun tidak berubah.  Dalam Bilangan 23:19, “Allah bukanlah manusia, sehingga Ia berdusta  bukan anak manusia, sehingga Ia menyesal . Masakan Ia berfirman dan tidak melakukannya, atau berbicara dan tidak menepatinya?”  Ketika Allah berjanji maka Ia akan menepati janji-Nya.  Mungkin Allah menepatinya dalam waktu yang panjang; tetapi Allah tetap akan menepati janji-janjiNya.  Janji Allah tidak berubah.

Dasar-dasar tersebut di atas, kita perlukan juga untuk memahami ketika Alkitab mencatat “Allah terlihat berubah”.  Misalnya ketika dituliskan “Allah menyesal” atau Allah mengubah rencana-Nya yang sudah diucapkan-Nya melalui seorang nabi, maka hal-hal ini harus dipahami dalam konteks Allah tidak mungkin berubah.  Lalu bagaimana kita memahami sesuatu yang tampaknya berubah dalam diri Allah ini?  Ada dua poin penting yang perlu dipahami terkait hal ini.

Pertama, Allah dapat menggunakan gaya bahasa manusia untuk menyampaikan perasaan-Nya kepada kita.  Hal ini jelas dalam 1Samuel 15, ketika dikatakan “Allah menyesal”(ay. 11), “Allah tidak menyesal”(ay. 29), “Allah menyesal” (ay.35)  Mana yang benar?  Kuncinya ada di bagian kalimat “Allah tidak menyesal”(Ay. 29).  Di bagian ini, nabi Samuel berkata bahwa Allah bukan manusia sehingga Ia menyesal.  Jadi jika dikatakan bahwa “Ia menyesal”, ini merupakan gaya bahasa manusia.  Allah memakai bentuk-bentuk manusia untuk menjelaskan perasaan-Nya.  Dalam teologi, dikenal dengan antrophomorphisme, istilah  yang digunakan untuk menunjuk bentuk atau organ manusia yang dipakai untuk melukis Allah, contohnya: “Dengan kekuatan tangan-Nya TUHAN telah membawa kita keluar dari Mesir”  (Kel. 13:14). Atau antrophopatisme, istilah yang digunakan untuk menunjuk kepada perasaan manusia yang dipakai untuk melukis Allah, contohnya: “Aku menyesal, karena Aku telah menjadikan Saul raja, sebab ia telah berbalik dari pada Aku dan tidak melaksanakan firman-Ku.” (1Sam 15:11).

Kedua, situasi hidup kita bisa berubah, namun hal itu tidak berarti Allah mengalami perubahan. Misalnya, dalam kasus raja Hizkia, yang sakit dan hampir mati.  Setelah mendengar firman yang dibawa Nabi Yesaya, bahwa saat kematiannya tak lama lagi, raja Hizkia pun berdoa kepada Tuhan dan Tuhan sembuhkan (2 Raj 20:1-5).  Namun hal ini bukan berarti rencana Tuhan berubah, melainkan “oleh karena Aku dan oleh karena Daud, hamba-Ku” (2Raj 20:6b).  Tuhan mengingat janji-Nya kepada Daud.  Jadi apa yang sudah Tuhan rencanakan sejak lama kepada Daud, bahwa keturunannya akan terus ada, Ia genapi dalam diri Hizkia.  Tidak ada rencana Tuhan yang berubah.  Doa mengubah situasi hidup kita, tetapi tidak mengubah rencana Tuhan dalam hidup kita, karena Tuhan adalah Allah yang tidak berubah.

Keadaan kita boleh berubah, situasi hidup kita bisa tidak konsisten, tetapi kita memiliki Tuhan yang tidak berubah dan yang bisa dijadikan sebagai sandaran hidup.  Kiranya kita semua terdorong menyerahkan diri kepada Allah yang tidak berubah dan merasa tenang di dalam Dia.