Oleh: Pdt. Yakub Tri Handoko

Hari ini kita akan membahas satu sifat Allah, yaitu kerohanian Allah.  Apa yang dimaksud dengan kerohanian Allah?  Biasanya kita memahami kata ‘rohani’ identik dengan ‘saleh’ .  Tetapi bukan kata itu yang dimaksud dalam diskusi kita hari ini.  Ketika para teolog mendiskusikan tentang sifat Allah yaitu spiritual, maka yang dimaksud bahwa Allah itu bersifat roh, seperti dikatakan Yohanes 4:24 “Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran”.

Tapi apa artinya Allah adalah Roh?  Jawaban paling mudah dan paling jelas diberikan Paulus dalam khotbahnya di depan para filsuf di Athena.  Paulus menerangkan bahwa Allah itu tidak dibatasi oleh dimensi ruang dan waktu:  “Karena kita berasal dari keturunan Allah, kita tidak boleh berpikir, bahwa keadaan ilahi sama seperti emas atau perak atau batu, ciptaan kesenian dan keahlian manusia (Kis. 17:24,29).  Ada dua poin penting di sini.  Pertama, Allah tidak terbuat dari hal-hal yang bersifat materi.  Allah itu bukan emas, atau perak, atau sesuatu yang sifatnya lahiriah.   Kedua, Allah tidak dibatasi oleh tempat atau ruang.  Paulus mengatakan dalam khotbahnya, apakah Ia tinggal dalam kuil-kuil buatan  manusia? Jelas tidak! Ketika menahbiskan Bait Allah, Salomo berdoa demikian: “Tetapi benarkah Allah hendak diam di atas bumi? Sesungguhnya langit, bahkan langit yang mengatasi segala langit pun tidak dapat memuat Engkau, terlebih lagi rumah yang kudirikan ini” (1Raj 8:27).  Sudah jelas bahwa Ia tidak bisa dibatasi ruang karena Dia adalah Roh.  Tidak ada yang bisa membatasi Allah, baik secara materi maupun secara tempat.  Allah adalah Roh, hal ini membawa banyak implikasi bagi kita.  Setidaknya ada dua implikasi yang penting.

Pertama, karena Allah adalah Roh, maka Allah tidak bisa dipahami, dipersepsi, atau dijamah melalui indra kita.  Apa yang kita tangkap dengan indra kita adalah hal-hal yang bersifat materi.  Mata kita menangkap sebuah keberadaan material, hidung kita juga mencium hal yang sifatnya jasmaniah.  Jadi panca indra kita hanya mampu menangkap hal-hal yang bersifat jasmaniah.  Tetapi karena Allah bersifat roh dan tidak bersifat jasmaniah, maka Allah sebetulnya tidak dapat didekati oleh panca indera kita. Tetapi di dalam anugerah-Nya Dia mengijinkan kehadiran-Nya secara rohani itu bisa kita alami dan nikmati.  Di dalam ibadah, kita bisa merasakan jamahan tangan Tuhan.  Di dalam waktu doa pribadi, kita bisa mengalami persekutuan yang intim dengan Tuhan.  Di dalam doa-doa kita, tidak jarang kita bisa merasakan Allah begitu dekat dengan kita.  Namun sekali lagi, itu bukan terjadi karena kualitas panca indera kita, melainkan karena Allah di dalam anugerah-Nya, membiarkan diri-Nya untuk bisa ditemui oleh manusia yang terbatas.  Tapi mengingat Allah adalah roh, maka sebetulnya kita tidak bisa mendekati Allah dan mengalami Allah tanpa anugerah-Nya di dalam hidup kita.

Kedua, karena Allah adalah Roh, berarti ibadah kita tidak bisa dibatasi oleh tempat dan hal-hal yang sifatnya  jasmaniah atau benda-benda tertentu.  Ini dikatakan dalam  Yohanes 4:21-24, “… saatnya akan tiba, bahwa kamu akan menyembah Bapa bukan di gunung ini dan bukan juga di Yerusalem. … Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran…” Allah adalah Roh, dan oleh anugerah-Nya kita bisa mendekati Dia kapanpun dan dimanapun, tidak ada batasan waktu dan tempat.

Kekristenan adalah agama yang sangat menekankan ibadah dalam Roh ini.  Di dalam kekristenan tidak ada ajaran, bahwa untuk bisa lebih ‘afdol’ mendekati Allah, maka kita harus menggunakan bahasa tertentu, misalnya bahasa Ibrani atau Yunani.  Tidak ada ajaran semacam itu dalam kekristenan.  Atau juga, jika kita menghadap Tuhan, kita harus menghadap arah tertentu atau pergi ke tempat tertentu, yang diyakini di situ Allah hadir secara khusus.  Kekristenan tidak mengajarkan demikian, karena kekristenan menyadari bahwa di dalam Yesus Kristus, maka ibadah sudah dipulihkan secara rohani.  Dimanapun dan kapanpun kita ada, selama kita percaya kepada korban penebusan Yesus Kristus di kayu salib, maka kita bisa menghampiri Allah kita.  Kita bisa beribadah tanpa batasan benda dan itulah implikasi yang penting dari Allah adalah Roh.

Hari ini kita sudah belajar salah satu sifat Allah yaitu kerohanian Allah. Allah adalah Roh.  Kiranya kita semakin mengenal Dia dan mensyukuri bahwa kita bisa beribadah dan merasakan hadirat-Nya, dan bahwa Allah berkenan membiarkan diri-Nya dinikmati dan dipersepsi oleh manusia. Itu semua adalah anugerah Allah.  Tuhan memberkati kita.