Oleh: Pdt. Yakub Tri Handoko

Kita sudah belajar bersama, bahwa sejak kekekalan, Allah telah memilih sebagian orang untuk diselamatkan dalam Kristus Yesus. Pertanyaannya: Apakah dengan demikian pemberitaan Injil masih perlu dilakukan? Pertanyaan ini sangat wajar untuk dipikirkan. Sebagian orang mungkin akan memahaminya seperti ini: Jikalau Allah sudah memilih orang-orang tertentu untuk diselamatkan, maka bagaimana pun orang-orang tersebut pasti akan selamat, sehingga kita tidak perlu memberitakan Injil kepada mereka Di mata mereka, doktrin pemilihan membuat pemberitaan Injil menjadi tidak berguna, atau paling tidak doktrin pemilihan membuat pemberitaan Injil menjadi dilemahkan.

Apakah Injil tetap harus diberitakan? Jawabannya jelas sekali menurut Alkitab: Ya! Doktrin pemilihan tidak meniadakan pemberitaan Injil. Ada dua alasannya. Alasan pertama, karena kita tidak pernah tahu siapa yang dipilih, sedangkan keselamatan itu melibatkan pemberitaan Injil. Di dalam Roma 10:9-10, dikatakan, mereka yang diselamatkan adalah mereka yang mengaku dengan mulutnya dan percaya di dalam hatinya bahwa Yesus adalah Tuhan. Tetapi bagaimana mereka bisa percaya? Di ayat 14-15, Paulus berkata bahwa, siapa yang akan pergi untuk Tuhan, karena jika tidak ada yang pergi untuk Tuhan maka tidak ada yang diutus. Jika tidak ada yang diutus, maka tidak ada yang akan membawa Injil; dan jika tidak ada yang membawa Injil, maka tidak ada yang mendengar Injil; dan jika tidak ada yang mendengar Injil, maka tidak ada orang yang bisa mengaku dengan mulutnya dan percaya di dalam hatinya.

Dari sini kita tahu bahwa keselamatan itu melibatkan pemberitaan Injil. Orang diselamatkan karena percaya kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan itulah berita di dalam Injil. Allah memilih orang untuk diselamatkan: Benar! Bagaimanapun orang itu akan selamat: Benar! Tetapi kita tidak boleh lupa bahwa cara Allah untuk menyelamatkan manusia adalah melalui pemberitaan Injil. Jadi Injil harus tetap diberitakan. Injil merupakan sarana yang Allah pakai untuk menyelamatkan orang-orang yang Dia sudah pilih sejak kekekalan. Kita tidak pernah tahu siapa yang akan dipilih, kita baru tahu setelah orang tersebut merespon Injil sampai akhir hidupnya. Kalau seseorang mendengar Injil berkali-kali, dan ia tetap tidak menerima Injil, maka kita baru tahu bahwa orang itu termasuk orang-orang yang dibiarkan oleh Allah. Atau, kalau ada orang yang tidak pernah mendengar Injil sama sekali, baik dari manusia maupun dari Allah secara langsung, maka kita tahu bahwa orang itu termasuk orang-orang yang dibiarkan oleh Allah. Doktrin pemilihan Allah tidak meniadakan pemberitaan Injil, justru pemberitaan Injil merupakan sarana Allah menyelamatkan orang-orang pilihan. Kita tidak tahu siapa yang dipilih, kita baru tahu berdasarkan respon mereka terhadap Injil. Ini alasan pertama mengapa Injil harus tetap diberitakan.

Alasan kedua, karena doktrin pemilihan justru menguatkan dan bermanfaat bagi pekabaran Injil. Ada beberapa contoh tentang hal ini dari kehidupan Paulus. Paulus sangat meyakini doktrin pemilihan. Di dalam tulisan Paulus, doktrin pemilihan muncul dengan begitu jelas, seperti Roma 8:29-30, Efesus 1:3-8, 2Timotius 1:9. Paulus sangat menekankan doktrin pemilihan dan ini berdampak pada cara Paulus memberitakan Injil. Pada waktu Paulus berada di kota Korintus (Kisah Rasul 18) ia menghadapi begitu banyak tekanan, halangan, tantangan bahkan penganiayaan yang dialaminya, dan Tuhan menghiburkannya, demikian: “Jangan takut! Teruslah memberitakan firman dan jangan diam! Sebab banyak umat-Ku di kota ini.” Jelas pada waktu itu tidak banyak orang Kristen, sehingga apa yang dimaksud Tuhan melalui perkataan itu adalah ada banyak orang-orang pilihan di kota Korintus yang harus mendengar Injil, yang harus diselamatkan melalui pemberitaan Injil yang dilakukan oleh Paulus, dan itulah cara Tuhan menguatkan Paulus. Lalu Paulus yang sama dalam 2Timotius 2:9-10, menceritakan bahwa ia begitu menderita di dalam pemberitaan Injil, tetapi inilah yang dikatakannya, “Karena itu aku sabar menanggung semuanya itu bagi orang-orang pilihan Allah, …” Jadi mengapa Paulus berani menderita dan rela di dalam tekanan dan penganiayaan yang begitu rupa dalam pemberitaan Injil? Demi orang-orang pilihan Allah. Oleh karena itu Paulus tetap memberitakan Injil, karena ia tahu bahwa ketika Injil hadir dan menjumpai orang-orang yang sudah dipilih Allah, maka orang itu akan diselamatkan.

Contoh yang lain adalah kerendahan hati Paulus. Di akhir pasal pertama Surat 1Korintus, Paulus mengatakan “Apa yang kelihatan hina telah dipilih oleh Allah… supaya jangan ada seorang manusiapun yang memegahkan diri di hadapan Allah”. Pemilihan ini seharusnya membuat manusia semakin rendah hati. Kita dipillih bukan karena kita hebat. Lalu 1Korintus 2:4-5, Paulus menjelaskan bahwa Injil yang dia sampaikan itu bukan berdasarkan hikmat manusia, tapi oleh kekuatan Roh, supaya iman kita jangan bergantung pada hikmat manusia, tetapi pada kekuatan Allah. Itulah yang membuat Paulus rendah hati dan mampu mengajarkan kerendahan hati itu pada jemaat Korintus. Mereka bisa bertobat, karena Roh Kudus bekerja dan menolong. Jadi sekali lagi, doktrin pemilihan tidak meniadakan dan melemahkan penginjilan, tetapi justru menguatkan dan bermanfaat bagi pemberitaan Injil. Tuhan memberkati kita. Amin.