Oleh: Pdt. Yakub Tri Handoko

Beberapa sesi yang lalu kita sudah belajar tentang kabar buruk, yaitu bahwa manusia berdosa.  Tanpa terkecuali, semua manusia berdosa.  Tetapi kita juga sudah tahu, bahwa kabar buruk bukanlah satu-satunya kabar, masih ada kabar yang baik. 

Di sesi ini kita akan bicara tentang kabar yang baik itu, yaitu Injil.  Kata “Injil” diambil dari kata aslinya “euangelion”, yang berarti “kabar baik”.  Kata “Injil” akrab di telinga kita, namun saya kuatir kata ini menjadi kehilangan artinya.  Sebab ada banyak kerancuan, kebingungan, dan kesalahan dalam memahami Injil.  Apa itu Injil?  Apa itu kabar baik?  Di sesi ini saya akan menjelaskan dulu apa yang bukan Injil.  Kalau kita mau tahu Injil itu apa, maka kita perlu tahu Injil itu bukan apa.

Pertama, Injil bukan hanya perasaan baik-baik saja.  Beberapa orang ketika memberitakan Injil kepada orang lain, hanya memikirkan tentang perasaan yang baik-baik saja. Mereka memberitakan, “Jika engkau percaya Injil maka hidupmu akan menjadi kaya”, atau, “Jika engkau percaya Injil maka engkau akan sembuh”, dst.  Injil dibatasi hanya pada perasaan yang baik-baik saja.  Injil dibatasi pada kehidupan yang nyaman.

Sesungguhnya Injil bukan hanya berbicara tentang sesuatu yang menyenangkan perasaan kita, tapi Injil justru berbicara tentang perasaan yang menusuk kita, karena keberdosaan kita diungkapkan.  Injil memaksa dan mendorong kita untuk melihat diri kita yang sebenarnya di hadapan Tuhan. 

Jadi Injil bukan hanya perasaan baik-baik saja. Orang yang mendengar Injil justru akan merasa “tidak baik”, karena Injil akan memberikan penghakiman kepada orang itu, mengingatkan bahwa dia adalah orang yang berdosa.

Kedua, Injil bukan hanya tentang kebaikan Allah saja.  Kita tahu bahwa ada hubungan yang sangat erat antara Injil dengan kasih dan kebaikan Allah (band. 1Yoh. 4:10. Yoh. 3:16).  Tetapi Injil bukan hanya bicara tentang kasih Allah.  Injil juga bicara tentang kekudusan Allah. 

Tanpa kita membicarakan tentang kekudusan Allah, maka Injil menjadi tidak berarti.  Allah itu kudus sehingga Dia tidak berkompromi dengan dosa.  Allah itu adil sehingga Dia harus menghukum orang yang berdosa.  Tanpa kita mengenal sifat Allah yang kudus dan adil, maka kita tidak akan dapat memahami makna kabar baik yang sebenarnya dalam Injil.

Kabar baik itu harus kita lihat dalam perbandingan dengan kabar buruk.  Kabar “buruk”-nya adalah bahwa Allah adalah Allah yang kudus, yang tidak berkompromi dengan dosa; dan bahwa Allah adalah Allah yang adil, yang akan menghukum orang yang berdosa. 

Tetapi kabar ini diselimuti dengan kabar yang baik, yaitu Allah yang kudus dan adil itu adalah Allah yang mengasihi orang berdosa.  Allah yang memberikan anak-Nya yang tunggal untuk mati di kayu salib demi orang- orang yang berdosa.  Injil bukan sekadar kebaikan atau kasih Allah saja.

Ketiga, Injil bukan tentang perubahan tingkah laku.  Injil itu berisi tentang kabar baik.  Pusatnya adalah kabar baik itu.  Kalau kita mengimani kabar baik itu, maka kita akan mengalami perubahan hidup. 

Kabar baik di dalam Injil adalah Allah menjadi manusia, Allah mati di kayu salib untuk menebus orang-orang yang berdosa. Ketika kita mendengar kabar itu dan meresponinya dengan percaya, disitulah kabar baik itu menjadi kabar yang benar-benar baik untuk kita.

Jadi Injil bukan deretan peraturan.  Injil bukan rentetan norma kehidupan bagi orang Kristen. Tetapi Injil adalah kabar baik untuk melawan kabar buruk.  Kita telah mendengar kabar yang buruk, bahwa manusia berada dalam situasi yang buruk karena keberdosaannya; tetapi Injil adalah kabar yang benar-benar baik, Allah menyelamatkan orang yang berdosa, Dia mengasihi orang yang berdosa.

Hari ini kita telah mendengar kabar baik itu.  Allah menjadi manusia.  Dia rela mati di kayu salib.  Dia berkuasa bangkit mengatasi maut.  Dia melakukan semua itu untuk orang-orang berdosa, seperti saya dan saudara.  Amin.