Oleh: Pdt. Yakub Tri Handoko

Hari ini kita akan membahas sebuah pertanyaan yang cukup pelik dan sudah mengundang berbagai macam perdebatan yang hangat dan panjang, yaitu: Apakah hubungan antara gereja dan negara? Pertanyaan ini cukup rumit karena kalau kita menengok ke dalam sejarah gereja maka kita akan menemukan beragam sikap yang dilakukan oleh gereja terhadap negara. Ada yang menganggap bahwa gereja dan negara terpisah sehingga mungkin bisa disatukan. Bahkan di dalam masa reformasi gereja pada abad yang ke-16 kita menemukan ada golongan reformasi yang sangat ekstrim yang ditentang juga oleh John Calvin, yaitu golongan-golongan tertentu dari aliran Anabaptis yang menganggap bahwa pemerintahan duniawi, apapun bentuknya, adalah permusuhan terhadap Allah. Jadi mereka tidak menghargai otoritas dari pemerintah yang ada bahkan cenderung melakukan kerusuhan di mana-mana.

Pertanyaan yang kembali perlu diutarakan: Apa hubungan antara gereja dan negara? Kalau kita berpijak pada Roma 13 maka kita bisa mengatakan bahwa Allah di dalam kedaulatan dan hikmat-Nya telah mengatur dunia ini termasuk hubungan antar manusia melalui hukum-hukum, aturan-aturan dan keputusan-keputusan politik yang diambil oleh para pemerintah duniawi. Dengan kata lain Paulus sebetulnya tidak menentang pemerintah yang ada dan ini merupakan kebenaran yang cukup mengagetkan. Karena pada saat Paulus menuliskan hal itu pasti dia sedang memikirkan tentang kekaisaran Romawi dengan segala macam carut-marut dan penyalahgunaan kekuasaan yang ada di sana. Tetapi Paulus tidak segan-segan dan tanpa ragu mengatakan bahwa pemerintah adalah hamba-hamba Allah yang memang dipilih Allah untuk menghadirkan keteraturan di dalam masyarakat, terlepas dari percaya atau tidak percayanya mereka kepada Allah, terlepas dari sadar atau tidak sadarnya mereka bahwa mereka dipilih oleh Allah. Di dalam perspektif kedaulatan Allah yang mutlak, Paulus menyatakan bahwa segala pemerintah adalah wakil-wakil Allah untuk menghadirkan ketertiban di dalam masyarakat. Karena itu gereja memiliki beragam tugas dan sikap yang positif yang harus ditunjukkan kepada pemerintah. Apa sajakah itu?

Pertama, kita harus mematuhi aturan-aturan yang berlaku. Di dalam Roma 13:1-4 dikatakan bahwa pemerintahan ada untuk menjalankan ketertiban dan keteraturan. Pemerintah juga menyandang pedang dan memiliki kuasa untuk mendisiplin rakyatnya. Kedua, kita juga wajib membayar pajak. Di dalam Roma13:6-7 Paulus mengatakan: “Itulah juga sebabnya maka kamu membayar pajak. Karena mereka yang mengurus hal itu adalah pelayan-pelayan Allah. Bayarlah kepada semua orang apa yang harus kamu bayar: pajak kepada orang yang berhak menerima pajak, cukai kepada orang yang berhak menerima cukai; rasa takut kepada orang yang berhak menerima rasa takut dan hormat kepada orang yang berhak menerima hormat.” Kita harus mematuhi peraturan pemerintah dan kita harus membayar pajak. Ketiga, kita perlu mengupayakan kesejahteraan negara atau kota dimana kita tinggal. Di dalam Yeremia 29:7 pada waktu orang-orang Yehuda dibuang ke Babel, Yeremia mengirimkan surat kepada mereka dan dia mendorong bangsa Yehuda untuk mengupayakan kesejahteraan kota dimana mereka tinggal. Hal ini merupakan tugas setiap orang yang percaya kepada Allah dimana pun Tuhan menempatkan mereka.

Keempat, kita juga perlu berperan secara aktif di dalam pemerintahan. Kita membutuhkan lebih banyak orang Kristen di pemerintahan sebagai politikus, ekonom, pejabat. Kita membutuhkan lebih banyak orang Kristen yang mau menjadi seperti Daniel (Dan. 1), Nehemia (Neh. 2) dan Yusuf di Mesir (Kej. 41). Orang-orang ini adalah orang-orang yang luar biasa yang berperan secara aktif di dalam pemerintahan. Kelima, gereja perlu mendoakan para pemimpin kita. Kita perlu mendoakan orang-orang yang menjabat di pemerintahan sebagaimana yang dikatakan oleh Paulus di dalam 1Timotius 2 ketika dia mengatakan berdoa syafaatlah untuk raja-raja dan semua pembesar.

Itulah yang seharusnya dilakukan oleh gereja Tuhan: mematuhi aturan, membayar pajak, mengupayakan kesejahteraan kota, terlibat aktif di dalam pemerintahan dan juga mendoakan para pejabat pemerintahan. Dengan demikian hubungan antara gereja dengan negara adalah hubungan yang positif. Gereja perlu mendukung negara; Begitu pula negara perlu mendukung gereja dengan memberi kebebasan kepada gereja, karena gereja dan negara itu bukanlah dua musuh bebuyutan.

Tetapi, saya harus menambahkan sesuatu. Kita diperkecualikan menaati pemerintah, jika keputusan pemerintah bertabrakan dengan firman Tuhan. Hal ini dikemukakan dalam Kisah Rasul 5:29 dimana pada saat itu Petrus dan Yohanes dilarang oleh para penguasa Yahudi untuk memberitakan firman Tuhan, maka mereka menjawab: “Kita harus lebih taat kepada Allah dari pada kepada manusia.” Pada saat pemerintah mengambil sebuah keputusan yang bertabrakan dengan kebenaran firman Tuhan maka kita boleh tidak menaatinya. Tetapi secara umum, dalam hal-hal yang tidak bertabrakan dengan firman Tuhan, kita harus menundukkan diri di bawah pemerintah karena mereka adalah hamba Allah yang dipilih oleh Allah. Tuhan memberkati kita.