Oleh: Sdri. Ribka Eleazar


Nats Alkitab: Matius 6:31-34

Jika kita melihat bangsa kita saat ini, situasinya sedang tidak baik. Corona masih mewabah, pasien positif dan pasien yang meninggal juga terus bertambah, dan kita tidak tahu apakah akan terus bertambah atau tidak. Dari sisi ekonomi, ada banyak orang yang tidak bisa bekerja karena keadaan yang pastinya memengaruhi penghasilan mereka. Kurs rupiah juga ikut merosot. Pemerintah masih terus berjuang untuk tetap menstabilkan ekonomi negara. Kita melihat, ada banyak hal yang terjadi yang menunjukkan situasi yang menguatirkan bangsa, tidak baik.

Bagaimana dengan kita? Apa yang kita rasakan sebagai bagian dari bangsa yang sedang mengalami situasi yang genting? Mungkinkah kita juga ikut merasa gentar, atau mungkin ada menganggap ini keadaan yang biasa-biasa saja? Kenyataannya situasi saat ini membuat kita semua tidak nyaman, baik dalam pekerjaan, kesehatan, bahkan interaksi kita satu sama lain juga ikut dibatasi. Mungkin juga ada yang bertanya-tanya, sampai kapan situasi ini akan berlangsung? Lalu muncul kekuatiran terhadap berbagai hal yang mungkin terjadi, apakah situasi ini juga akan mempengaruhi hidup kita, entah kekuatiran akan mengalami krisis ekonomi, terhadap kesehatan kita. Bagaimana dengan keluarga – orang tua anak suami istri yang jauh dari kita, apakah mereka baik-baik saja? Hidup menjadi gelisah, ada rasa tidak aman, kuatir. Tetapi firman Tuhan berkata, “Jangan engkau kuatir.” Saya mengajak kita untuk melihat bagian firman Tuhan dari Matius 6:31-34.

Waktu kita merasa kuatir, seringkali yang jadi fokus pikiran kita adalah kekuatiran itu sendiri. Kita tenggelam dalam kekuatiran dan pandangan kita akan solusi itu menjadi kabur. Bahkan yang paling parah, pandangan kita terhadap Tuhan juga bisa ikut menjadi kabur. Karena itu firmanTuhan mengingatkan kita, “Jangan engkau kuatir.” Tuhan meminta kita untuk memandang burung yang dilangit, yang tidak menabur menuai tapi tetap bisa makan, bunga bakung di ladang yang tanpa bekerja tapi tumbuh bahkan indah melebihi semua pakaian Salomo.

Apalagi kita yang lebih daripada burung dan bunga bakung, Tuhan juga pasti mengingat dan memelihara hidup kita. Jadi jangan fokus pada kekuatiran, pada apa yang belum tentu terjadi pada hidup kita. Orang yang merasa kuatir berarti merasa tidak aman, dan ingatlah, keamanan hidup kita tidak diukur dari sehat sakit, kaya miskin, bukan diukur dari hal-hal duniawi, tetapi mari kita menempatkan keamanan hidup dalam tangan Bapa yang berjanji akan menyertai hidup kita. Di ayat ke-32 dikatakan, “Bapa di Sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu.” Memang kita bisa kuatir, sangat manusiawi, tetapi ingatlah bahwa Tuhan kita berkuasa atas segala sesuatu termasuk mengetahui apa yang kita kuatirkan, yang kita butuhkan dan perlukan.

Sekali lagi, jangan fokus pada kekuatiran hidup. Tetapi fokuslah pada apa yang dikehendaki oleh Tuhan, yaitu di ayat ke-33, “Tetapi carilah dahulu kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya akan ditambahkan kepadamu.” Berusaha untuk hidup benar dihadapan Allah dalam apa pun yang kita kerjakan, melakukan apa yang menjadi kehendak Allah sesuai dengan firman-Nya itulah bagian prioritas hidup kita bersama dengan Tuhan. Kita memperhatikan kehidupan pribadi kita bersama Tuhan, menyatakan kebenaran Allah dalam hidup kita, dan memuliakan Tuhan dihadapan dunia dengan menjadi berkat lewat apa yang bisa kita lakukan. Dalam situasi ini kita bisa berdoa, atau memberikan dana bantuan, dan melakukan apa yang dianjurkan oleh pemerintah untuk pemulihan yang lebih cepat bagi bangsa kita.

Jangan ragukan pemeliharaan Tuhan. Tuhan yang kita kenal adalah Tuhan yang tidak akan membiarkan umat-Nya yang hidup sungguh-sungguh dihadapan-Nya. Jika engkau merasa takut, kuatir, akui itu dihadapan Tuhan. Orang percaya bukannya tidak pernah merasa kuatir, takut atau sedih. Tetapi dalam menghadapi kehidupan yang menggetarkan, orang percaya tahu kepada siapa ia mempercayakan hidupnya, yaitu kepada Tuhan yang ia kenal lebih besar daripada kekuatirannya.

Ingatlah, hidup kita dan dunia bisa bergejolak, tetapi Tuhan kita tetap selama-lamanya. Takut kuatir itu biasa, tetapi kita punya Tuhan yang luar biasa. Fisik kita bisa saja diisolasi, interaksi kita dengan orang lain bisa saja dibatasi, tetapi hati kita pada Tuhan tetap terkoneksi, itulah yang membuat hidup kita merasa aman-tidak kuatir karena percaya selalu ada Tuhan yang tetap berintervensi. Amin.

*Penulis adalah mahasiswa praktik setahun dari STT SAAT yang sedang tugas belajar dI GKKA INDONESIA Jemaat Balikpapan.