Oleh: Yakub Tri Handoko

@yakubtrihandoko

Pandemi virus Corona Covid-19 masih merajalela. Gereja masih tergopoh-gopoh menyikapi situasi yang heboh ini. Lalu mengapa gereja perlu memikirkan kelanjutnya dari sekarang?

Momen isolasi sosial telah mengubah banyak aspek dalam kehidupan bergereja. Banyak orang Kristen mulai mengkaji ulang hakikat ibadah, gereja, dan pelayanan. Ibadah tidak lagi dibatasi oleh ruang dan penampilan. Ibadah ternyata dapat dilakukan di dalam rumah atau kost, dengan pakaian sehari-hari dan dalam suasana yang lebih non-formal. Gereja bukan lagi melulu dikaitkan dengan bangunan, tetapi orang. Persekutuan bukan sekadar berkumpul bersama di tempat yang sama dan melakukan ritual yang sama. Persekutuan itu tentang hati. Pelayanan juga tidak lagi identik dengan segala sesuatu yang gerejawi. Orang mulai berbondong-bondong memikirkan pelayanan di luar tembok gereja. Kepedulian sosial semakin kental. Peluang melayani di gereja seperti yang biasanya untuk sementara telah ditangguhkan.

Situasi ini dalam taraf tertentu pasti akan membawa perubahan dalam bergereja sesudah pandemi reda. Gereja harus mengantisipasi, bukan sekadar mengikuti – apalagi menangisi – situasi. Para pemimpin gereja perlu segera berada di garis terdepan dan mengarahkan keadaan. Jangan reaktif, tetapi profetik. Tahu apa yang akan terjadi. Paham apa yang harus dilakukan.

Belajar dari sejarah

George Santayana pernah berkata: “Orang yang tidak mau belajar dari sejarah akan terkutuk untuk mengulanginya lagi”. Sebuah perkataan yang bijaksana! Kita perlu belajar dari sejarah. Marilah kita sejenak belajar tentang sejarah umat Tuhan paska pembuangan dari Babel. Alkitab memberikan petunjuk yang sangat melimpah tentang hal ini.

Pembuangan ke Babel memaksa bangsa Yehuda untuk memikirkan ulang agama dan iman mereka. Hampir semua yang sangat penting dalam keagamaan mereka direnggut. Tidak ada lagi bait Allah di Yerusalem. Berbagai ritual yang berkaitan dengan bait Allah terpaksa ditiadakan atau disesuaikan dengan keadaan yang baru di Babel. Umat perjanjian sekarang justru tidak memiliki tanah perjanjian. Tidak ada lagi para raja yang berkuasa. Tidak terbayangkan berapa banyak penyesuaian yang perlu dilakukan.

Apakah semua keterbatasan ini menjadi kendala bagi perkembangaan keagamaan mereka? Sama sekali tidak! Pembuangan ke Babel adalah hukuman yang beranugerah. Berkat yang terselubung. Melalui rentetan keburukan, TUHAN mengerjakan kebaikan.

Umat TUHAN diajar dari awal, dari yang paling esensial. Sejak pembuangan, fokus keagamaan diletakkan pada ketaatan. Ezra merestorasi Hukum Taurat. Firman TUHAN berada di barisan terdepan, bukan kurban atau perayaan. Hal ini sesuai dengan perkataan Tuhan jauh sebelum ada bait Allah di Yerusalem. Samuel menegur Raja Saul bahwa yang terpenting bukan kurban bakaran, tetapi ketaatan (1Sam. 15:22).

Apakah ini berarti bahwa bait Allah tidak lagi diperlukan? Sama sekali tidak! Zerubabel memimpin umat Tuhan untuk membangun kembali bait Allah (Ez. 3:8). Hagai mendorong bangsa Yehuda untuk memperhatikan pembangunan rumah Tuhan (Hag. 2:1-10). Maleakhi menegur para imam yang memberikan kurban secara sembarangan (Mal. 1:6-8). Bait Allah tetap diperhatikan. Hanya saja, keberadaannya tidak lagi seeksklusif dulu. Sebagian umat Tuhan yang telah menyebar ke berbagai tempat berusaha untuk memiliki “bait Allah” sendiri. Sebagai contoh, bangsa Yahudi di Mesir memusatkan ibadah mereka pada bait Allah di Pulau Elefantin. Orang-orang Yahudi lain yang tersebar di berbagai daerah tetap menjaga keagamaan mereka, walaupun ritual dan perayaan yang terikat dengan bait Allah tidak lagi dapat dilakukan. Mereka hanya berziarah ke Yerusalem untuk hari raya tertentu, itupun jika mereka mampu melakukannya. Di tempat masing-masing mereka tetap menghayati keagamaan mereka, namun dengan cara yang berbeda. Pendeknya, Yudaisme (agama Yahudi) menjadi semakin beragam.

Gereja tampaknya akan berada di posisi yang sama. Perubahan tidak terelakkan. Penyesuaian menjadi kebutuhan. Dalam tulisan ini saya ingin menerangkan apa saja yang akan menjadi tantangan bagi gereja paska wabah Corona mereda dan bagaimana gereja bisa mengantisipasinya.

Tantangan ke depan

Untuk memudahkan pemahaman, saya akan membagi tantangan ke depan menjadi beberapa bagian. Yang pertama adalah ibadah. Berbagai saluran teleibadah (terutama live streaming) yang ditawarkan di media sosial menyediakan pilihan yang cukup melimpah bagi orang Kristen. Pilihan tidak terbatas pada saluran dari gerejanya sendiri. Bagi yang tidak memiliki saluran teleibadah di gereja sendiri, situasi ini adalah kesempatan untuk jajan di luar. Saluran yang dipilih tentu saja dari gereja-gereja yang terkenal atau memiliki kekuatan khusus, entah kualitas ibadah (musik dan penyanyi) atau khotbah. Dengan kata lain, banyak orang Kristen tiba-tiba menjadi jemaat gereja lain.

Apakah mereka patut disalahkan? Tidak juga. Ada banyak alasan orang selama ini rajin beribadah di suatu gereja. Mungkin mereka terikat pelayanan. Mungkin anak-anak lebih cocok beribadah ke sana sehingga orang tua hanya mengikuti saja. Mungkin karena keakraban antar jemaat. Dalam suasana jaga jarak fisik (physical distancing) seperti sekarang, semua alasan ini seolah-olah kehilangan kekuatannya. Sekarang mereka benar-benar bisa menentukan pilihan tanpa keterbatasan. Tidak heran, yang dijadikan pilihan adalah gereja-gereja yang besar atau mempunyai kelebihan.

Pada saat mereka nanti meninggalkan gereja online dan kembali ke gereja-gereja masing-masing, tuntutan mereka terhadap gereja lokal mungkin berubah. Mereka sekarang sudah mengerti – bahkan menikmati – ibadah yang baik itu seperti apa atau khotbah yang berbobot itu seharusnya bagaimana. Ketika rohaniwan setempat tidak mampu menaikkan mutu pelayanan mereka, ketidakpuasan dari jemaat mungkin meningkat. Mereka merasa mendapatkan lebih banyak dari teleibadah daripada ibadah konvensional. Jika teleibadah dari gereja lain dianggap lebih efisien dan bermanfaat, apa yang bisa membuat mereka bertahan di suatu gereja lokal? Hmmm, sebuah pertanyaan yang patut direnungkan.

Yang kedua adalah pelayanan. Selama ini para pemimpin mungkin hanya menekankan pekerjaan Tuhan di dalam gereja. Kalaupun pelayanan di luar gedung gereja tetap diberitakan, hal itu biasa dianggap pelayanan kelas dua. Yang terpenting adalah pelayanan gerejawi. Fokus jemaat diletakkan pada gereja lokal atau denominasi.

Situasi sekarang memaksa banyak orang untuk memikirkan ulang cakupan pelayanan. Ketika semua pelayanan gerejawi yang biasa dilakukan tidak lagi bisa dilaksanakan, apakah mereka berhenti melayani Tuhan? Tentu saja tidak. Mereka justru tertantang untuk berpikir di luar kotak. Fokus pelayanan bukan lagi gereja, tetapi dunia. Gereja tidak identik dengan kerajaan Allah. Sebaliknya, gereja perlu berkontribusi lebih nyata bagi kerajaan Allah di dunia. Seiring dengan kepedulian sosial yang semakin mengental, gereja yang kurang peduli dengan lingkungan dipandang telah salah haluan. Cakupan pelayanan seharusnya dilebarkan. Begitu kira-kira yang sekarang tertancap dalam pikiran banyak orang.

Paska wabah mereda orang-orang ini akan kembali ke gereja lokal masing-masing. Mereka pasti akan memandang semua pelayanan gerejawi dengan kacamata yang berbeda. Pertanyaannya, siapkah gereja meluaskan area pelayanannya? Paling tidak, siapkah gereja memperlengkapi dan mengutus mereka ke dalam dunia sebagai agen-agen perubahan Injil? Ataukah gereja justru mengalami ketakutan akan kehilangan tenaga pelayan?

Yang ketiga adalah teologi. Banyak keyakinan gereja terpaksa dikaji ulang, beberapa bahkan mungkin perlu dibuang. Contohnya adalah teologi ibadah. Bagi mereka yang selama ini memahami ibadah lebih sebagai ritual formal yang khidmat daripada persekutuan yang hangat, teleibadah pasti membawa pergeseran. Ternyata ibadah tidak hanya tentang liturgi, simbol, dan aturan. Ada aspek lain yang selama ini diabaikan.

Ketika keadaan kembali seperti semula, para pemimpin gereja ditantang untuk mengakomodasi hal-hal baik dalam teleibadah ke dalam ibadah konvensional. Pemahaman orang tentang kesakralan ibadah mungkin akan berubah. Yang lama belum tentu dibuang tapi pasti dikaji ulang. Persoalannya, apakah gereja siap dengan perubahan? Apakah masa karantina ini hanya sebagai pelarian atau pembelajaran? Para pemimpin gereja tampaknya perlu mengkaji ulang teologi ibadah dan mengaplikasikan kajian itu secara praktis dalam bentuk ibadah yang baru.

Contoh lain adalah keimaman orang percaya. Walaupun slogan “semua orang percaya adalah imam” sudah digemakan berkali-kali di banyak gereja, tetapi penerapannya tampaknya tidak mendapat perhatian semestinya. Banyak jemaat menganggur, dalam arti tidak memiliki pelayanan di gereja. Mereka tidak memiliki apa yang dibutuhkan oleh gereja. Talenta mereka bukan untuk di panggung.

Situasi sekarang justru memberi banyak peluang. Seorang ayah mungkin mulai memberanikan diri untuk memimpin ibadah keluarga, walaupun mungkin sekadar mengarahkan semua anggota keluarga untuk mengikuti teleibadah. Orang tua mulai mengambil peranan lebih besar dalam pengajaran rohani anak-anak. Anak-anak muda memberi diri sebagai sukarelawan di berbagai kegiatan kemanusiaan.

Setelah wabah ini sirna, seberapa serius pemimpin gereja mengajarkan dan menerapkan keimaman orang percaya? Seberapa jauh jemaat akan diberi kesempatan dalam pelayanan? Siapkah gereja melebarkan ruang pelayanan? Maukah gereja membuka pelayanan-pelayanan baru yang berada di luar kotak?

Tantangan teologis lain adalah tentang iman. Bagi banyak orang pandemi ini menyisakan pertanyaan teologis yang tidak gampang. Iman beberapa orang tergoncang. Jika Allah memang ada, mengapa wabah ini bisa merajalela? Di manakah Allah ketika para pejuang kemanusiaan justru mati gara-gara virus yang mereka perangi? Mengapa pula beberapa korban meninggal dunia adalah orang-orang Kristen yang sejati? Di mana perlindungan Allah?

Kesulitan teologis di atas menjadi semakin besar bagi mereka yang selama ini memegang teologi “percaya dapat pasti dapat” atau “mujizat terjadi setiap hari”. Di manakah para pengkhotbah kesembuhan yang selama ini getol menggembor-gemborkan mujizat? Tidakkah mereka bisa berkumpul bersama dan mengusir virus ini dari Indonesia? Mengapa mereka tidak mengunjungi para penderita dan mendoakan mereka saja? Apa kontribusi nyata dari mereka?

Iman ternyata tidak sesederhana yang selama ini diberitakan. Ada keraguan yang membutuhkan penjelasan. Ada kesalahan yang perlu ditinggalkan. Iman tampaknya memang menuntut penjelasan rasional. Pertanyaannya, apakah para pemimpin gereja siap memberikan jawaban? Bagaimana jemaat seharusnya memandang iman dalam situasi seperti sekarang? Akankah virus Corona mengubah mimbar-mimbar gereja?

Antisipasi ke depan

Tidak ada solusi seragam untuk segala keadaan. Keunikan masing-masing gereja tetap perlu dipertimbangkan. Saya hanya membagikan apa saja yang mungkin perlu dipertimbangkan sebagai antisipasi ke depan.

Pertama, perbaikan ibadah. Langkah ini merupakan keharusan. Banyak orang sudah mengecap kebaikan dari teleibadah yang benar-benar dipersiapkan dan dijalankan dengan baik. Ada pujian yang rapi dan suasana ibadah yang tepat. Ada khotbah yang mendalam dengan teknik penyampaian yang menarik.

Para pemimpin gereja patut memikirkan pengembangan para penatalayan secara kualitatif. Berbagai pembinaan teologi ibadah dan pelatihan worship clinic mungkin perlu direncanakan. Sementara itu, para rohaniwan juga harus mengembangkan kemampuan berkhotbah. Khotbah yang dangkal dan penyampaian yang membosankan hanya akan menambah alasan bagi jemaat untuk tetap nyaman menikmati teleibadah.

Kedua, nilai tambah dalam ibadah. Seperti sempat disinggung di depan, ada beragam alasan mengapa orang memilih beribadah di sebuah gereja lokal. Itulah sebabnya gereja-gereja tertentu yang suasana ibadah kurang baik atau khotbahnya tidak mendalam tetap saja didatangi oleh banyak orang. Faktor-faktor lain inilah yang perlu ditingkatkan juga.

Para pemimpin gereja mungkin perlu menekankan keakraban. Peningkatan kualitas pelayanan anak-anak juga perlu dipertimbangkan. Pemuridan menjadi kebutuhan yang semakin mendesak untuk dijalankan. Jika semua ini ada pada suatu gereja, banyak orang tetap memiliki alasan untuk datang.

Ketiga, perubahan jadwal kegiatan. Sebagian gereja terjebak pada program dan kegiatan. Hampir setiap hari selalu ada kebaktian atau persekutuan. Semuanya mengharuskan orang untuk datang ke gedung gereja. Melalui teleibadah atau telepersekutuan orang-orang menyadari bahwa untuk mencapai tujuan yang sama dan mendapatkan manfaat yang sama ternyata tidak harus menghabiskan waktu di perjalanan untuk datang. Sisa waktu yang ada dapat digunakan secara optimal bagi keluarga. Masih banyak hal lain yang bermanfaat yang bisa dilakukan.

Ini saatnya bagi para pemimpin gereja untuk memikirkan ulang efisiensi dan efektivitas semua kegiatan. Jenis-jenis persekutuan atau segmen jemaat yang hampir sama sebaiknya digabungkan. Durasi pertemuan juga perlu dipertimbangkan ulang. Tidak usah terlalu panjang. Masih banyak hal dapat dilakukan sebagai substitusinya. Jika ini dilakukan, fokus rohaniwan bisa lebih tajam. Tenaga para penatalayan juga bisa disimpan untuk upaya-upaya pengembangan ke depan.

Keempat, penggunaan teknologi dalam pelayanan. Pandemi Covid-19 memaksa banyak gereja untuk memaksimalkan kemajuan teknologi. Selama ini teknologi selalu menjadi anak tiri. Hanya digunakan kalau tidak ada pilihan. Sekarang semua berlomba-lomba memaksimalkan teknologi.

Teknologi menawarkan efisiensi. Persiapan ibadah menjadi lebih sederhana dan terpantau dengan software atau aplikasi tertentu. Diskusi antar penatalayan bisa langsung dilakukan secara audio-visual pada waktu yang bersamaan. Berbagai peralatan terkini bermanfaat untuk meningkatkan kualitas ibadah, baik dari sisi pencahayaan (lighting) maupun suara (sound system).

Kelima, perluasan area pelayanan. Bagi gereja-gereja yang selama ini hanya terfokus pada pelayanan di panggung/mimbar, kini saatnya untuk melebarkan kotak. Jika pelayanan hanya dibatasi pada pujian, musik, doa, dan kegiatan gerejawi lainnya, maka banyak talenta jemaat akan terbuang dengan sia-sia. Tidak semua orang diberi karunia yang berhubungan langsung dengan panggung.

Para pemimpin gereja harus berani keluar dari zona nyaman. Berbagai bentuk pelayanan – di dalam maupun di luar gereja – perlu ditawarkan. Jemaat perlu didorong dan diperlengkapi secara intensional. Rekrutisasi penatalayan tidak boleh dimulai dari “apa yang gereja butuhkan”, tetapi “apa yang setiap jemaat miliki”. Gereja tidak boleh hanya mahir dalam memanggil orang dari dunia ke dalam gereja, tetapi juga terampil dalam mengutus jemaat ke dalam dunia. Ini waktunya untuk menghayati elemen liturgi “pengutusan” (biasanya sebelum doa berkat) secara lebih tajam dan mendalam. Apakah pengutusan hanya sekadar elemen liturgi atau benar-benar menjadi misi?

Keenam, keterlibatan gereja secara sosial. Observasi singkat di lapangan sudah cukup untuk memberi bukti kuat bahwa banyak gereja bersikap eksklusif. Masyarakat tidak merasakan dampak positif dari kehadiran gereja. Kegiatan-kegiatan amal yang dilakukan oleh gerejapun hanya bersifat sporadis. Sekadar program, bukan panggilan. Lebih parah lagi, gereja kadangkala mendapat stigma negatif dari masyarakat. Sitgma ini semakin kental selama wabah Corona menggila. Beberapa pertemuan gerejawi menjadi sumber penularan. Para petinggi gereja mengucapkan perkataan dan menunjukkan tindakan yang tidak sensitif secara sosial. Wajah gereja telah tercoreng.

Para pemimpin gereja harus berani berinvestasi pada pelayanan publik. Ini waktunya bagi gereja untuk memikirkan kerajaan Allah lebih daripada kerajaan sendiri. Yang perlu dilayani bukan hanya anggota gereja, tetapi masyarakat luas. Dunia benar-benar membutuhkan gereja.

Terakhir, gereja perlu memaksimalkan pelayanan media sosial.

Salah satu aktivitas yang tidak bisa dibatasi selama masa isolasi adalah berhubungan dengan orang lain melalui media sosial (medsos). Physical distancing, bukan social distancing. Entah berapa banyak rohaniwan atau pemimpin gereja yang mendadak sangat aktif di medsos. IG Live atau FB Live menjamur di mana-mana. Medsos yang dahulu dimusuhi karena dianggap menjauhkan yang dekat, sekarang terbukti justru mendekatkan yang jauh.

Jika medsos hanya dijadikan jaket keselamatan selama physical distancing, gereja telah membuang sebuah kesempatan yang besar. Banyak hal positif dapat dilakukan melalui medsos. Medsos adalah sarana pelayanan yang besar.

Yang perlu dilakukan oleh para pemimpin gereja adalah mengoptimalkan medsos, entah medsos pribadi, gereja atau jemaat. Jemaat perlu dibekali dengan pemahaman dan panduan yang benar tentang penggunaan medsos dalam pelayanan, misalnya bagaimana menampilkan materi yang bermutu dan menarik, bagaimana meningkatkan jumlah followers atau friends, bagaimana membuat desain yang bagus, bagaimana memilih platform yang tepat, dsb.

Akhirnya, wabah Corona Covid-19 mungkin akan mereda paling cepat dalam dua bulan ke depan. Masih ada waktu bagi para pemimpin gereja untuk mempersiapkan dan memperlengkapi diri menghadapi perubahan nanti. Jangan menunggu. Jangan tergopoh-gopoh lagi. Siapkan semua hari ini. Soli Deo Gloria.

Surabaya, 31 Maret 2020