Oleh: Pdt. Yakub Tri Handoko.

Dalam materi yang lalu kita sudah belajar bahwa inti kekristenan terletak pada relasi kita dengan Kristus.  Pertanyaannya, relasi seperti apa yang diharapkan oleh Yesus Kristus dari kita?

Untuk menjawab pertanyaan ini saya ingin mendasarkannya pada Filipi 3:4b-11.  Dalam teks tersebut, Paulus menjelaskan tentang perubahan hidupnya.  Dalam teks ini juga kita melihat relasi yang penuh makna dengan Kristus.  Paulus memiliki relasi penuh makna dengan Kristus yang ditandai dengan tiga hal.

Pertama, relasi dengan Kristus bersifat personal. Paulus berkata demikian, “Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya” (Flp. 3:10).  Paulus bukan saja menggunakan kata “mengenal” tapi dia mengaitkannya dengan “kuasa kebangkitan Kristus”.  Artinya bukan sekadar tahu.  Bukan sekadar mengerti sebuah data.  Bukan cuma mengetahui sebuah realitas.  Tetapi juga mengalaminya, yaitu mengenal kuasa kebangkitan-Nya.

Paulus juga mengaitkan pengenalannya dengan “persekutuan dalam penderitaan Kristus”.  Kata “persekutuan” jelas memberitahu kita, bahwa Paulus bukan sekadar tahu.  Bukan cuma mengerti dari jauh.  Tetapi dia mengenal dari dekat.  Relasi dengan Kristus adalah relasi yang bersifat pribadi.  Bukan dari kata orang, tapi dari keintiman kita dengan Kristus.

Kedua, relasi dengan Kristus bersifat radikal.  Kata “radikal” berasal dari kata latin “radix”, yang berarti akar.  Sesuatu yang bersifat radikal berarti menyentuh sampai ke akarnya.  Relasi kita dengan Kristus itu bersifat radikal, artinya perubahan yang dibawa oleh relasi itu mencapai akar dari kehidupan kita.  Apa akar kehidupan kita?  Tujuan hidup kita!  Dalam teks yang kita baca, Paulus menunjukkan bahwa dahulu tujuannya adalah menaati Taurat supaya dibenarkan.  Dahulu tujuan hidupnya adalah mencari kebanggaan-kebanggaan yang sifatnya lahiriah.  Paulus berusaha mencari keselamatan dan kebenaran Allah melalui perbuatannya sendiri.

Tapi setelah dia berjumpa dengan Kristus, maka terjadi pembalikan tujuan hidup.  Kini tujuan hidupnya adalah dibenarkan karena Kristus.  Tujuan hidupnya adalah mengenal Kristus.  Tujuan hidupnya adalah merasakan penderitaan Kristus dan mengalami kuasa kebangkitan Kristus.  Jadi ada perubahan yang bersifat radikal.  Pembalikan yang benar-benar total.  Tujuan hidup yang lama ditinggal dan kemudian mengambil tujuan hidup yang baru.

Ketiga, relasi dengan Kristus bersifat transformasional. Paulus bukan hanya mengalami pembalikan tujuan hidup.  Dia juga mengalami pembalikan nilai-nilai hidup. Apa yang dahulu dia banggakan, kini dianggap sampah.  Apa yang dahulu dianggap keuntungan, kini dianggap kerugian.  Inilah perubahan yang transformasional.  Perubahan  yang total.  Kita menilai hal-hal di dunia ini secara berbeda. Apa yang dahulu kita anggap kebanggaan, sekarang kita anggap sampah.  Apa yang dahulu kita anggap keuntungan, sekarang kita anggap kerugian.

Lalu bagaimana kita mengukurnya? Segala sesuatu yang menghalangi pengenalan kita dengan Kristus, yang menghambat pengenalan kita dengan Kristus, maka hal-hal itu adalah sampah.  Hal-hal itu adalah kerugian.  Kalau kekayaan, popularitas dan apapun yang kita miliki justru menghambat kita untuk mengenal Kristus dengan lebih baik, maka semua yang kita banggakan itu tidak lebih dari sekadar sampah.  Apa yang kita anggap keuntungan itu sebetulnya adalah kerugian karena kita dihambat untuk mengenal Kristus.

Orang yang memiliki relasi dengan Kristus pasti akan menikmati relasi yang personal, radikal, dan transformasional.  Apakah engkau sudah mengenal Kristus? Apakah relasimu dengan Kristus adalah relasi yang sejati?  Tuhan memberkati kita.   Amin.