Oleh: Pdt. Yakub Tri Handoko

Hari ini kita masih membicarakan tentang tujuan hidup manusia. Apakah memuliakan Allah dan menikmati Dia selama-lamanya adalah dua hal yang berbeda dan terpisah? Jika kita membaca Katekismus Westminster dalam bahasa Inggris, maka kita menemukan kata berbentuk tunggal yang digunakan dalam pertanyaan: What is the chief end of man? Bentuknya adalah tunggal. Pertanyaan itu kemudian dijawab: to glorify and to enjoy Him forever. Jawaban ini terlihat seperti dua hal ( to glorify dan to enjoy ). Namun jika kita berkaca pada pertanyaannya yang berbentuk tunggal ( what is ), kita tahu bahwa to glorify dan to enjoy Him adalah dua hal yang tidak terpisahkan. Bukan dua hal yang berbeda, tetapi dua hal yang saling berkaitan.

Sebagai perbandingan. Di dalam Matius 22. disebutkan ada seorang bertanya kepada Yesus tentang hukum mana yang terbesar, yaitu “What is the greatest commandment?” (pertanyaan dalam bentuk tunggal). Tetapi jawaban dari Tuhan Yesus terkesan dua, yaitu mengasihi Allah dan mengasihi manusia. Mengasihi Allah dan mengasihi manusia bukankah dua hal yang terpisah, karena Tuhan Yesus sendiri mengatakan: “yang sama dengan itu”, berarti yang sama dengan mengasihi Allah adalah mengasihi manusia. Dengan cara yang sama kita bisa memahami, bahwa jawaban dalam Katekismus Westminster adalah jawaban yang bisa dibedakan tetapi tidak bisa dipisahkan. Dengan kata lain manusia memuliakan Allah dengan cara menikmati Dia, dan manusia akan menikmati Allah dengan cara memuliakan Dia.

Dengan demikian kita bisa melihat bahwa tujuan hidup manusia berkaitan juga dengan kenikmatan, sama seperti yang dicari oleh banyak orang di dunia ini. Mereka berusaha mencari sesuatu yang dapat memberikan kenikmatan di dalam hidup mereka. Alkitab juga berbicara tentang kenikmatan. Lalu apa bedanya kenikmatan menurut dunia dan kenikmatan menurut Alkitab? Bedanya ada pada dua hal, yaitu jenis kenikmatannya dan bagaimana cara mendapatkan kenikmatan itu.